Data Pengguna Facebook Bocor Lagi, 130 Ribu Orang Indonesia Diintai Penjahat Siber
Ilustrasi media sosial Facebook

Elangnews.com, Jakarta – Apakah Anda pengguna Facebook? Baru-baru ini terungkap,  data pribadi 130 ribu pengguna Facebook asal Indonesia, bocor. Data-data tersebut juga telah tersebar di grup-grup hacker atau penjahat siber.

Itu artinya, pengguna Facebook di Indonesia perlu mawas diri sebelum menjadi korban para penjahat siber. Total data pribadi pengguna facebook yang bocor mencapai 533 juta pengguna seluruh dunia.

Data-data tersebut rentan dimanfaatkan penjahat siber. Indonesia satu dari 106 negara yang dilaporkan terkait kebocoran data pengguna Facebook.

Tercatat kebocoran data paling banyak terjadi pada pengguna Facebook di Mesir sebanyak 44,8 juta pengguna, Tunisia sebanyak 39,5 juta pengguna, Italia sebanyak 35,6 juta pengguna dan Amerika Serikat sebanyak 32,3 juta pengguna.

Kebocoran data pengguna Facebook pertama kali terungkap dari Chief Technology Officer (CTO) dari firma intelijen kejahatan siber Hudson Rock, Alon Gal sejak Januari lalu. Data-data yang bocor ini ternyata banyak dimanfaatkan para penjahat siber.

Menurut Gal di Twitternya, informasi ini dapat digunakan untuk melakukan penyamaran bahkan penipuan atas nama korban kebocoran data. “Data berisi informasi pribadi sebesar itu pasti akan dimanfaatkan cybercriminal untuk melakukan serangan rekayasa sosial atau upaya peretasan,” cuit Gal diTwitternya, (03/04).

Menurutnya, walaupun kebocoran tersebut telah terjadi sejak 2019, tetapi data-data tersebut terancam dimanfaatkan penjahat siber.

Persoalan bocornya data pengguna Facebook bukan baru kali ini saja terjadi. Di 2016 lalu. sebanyak 80 juta data pengguna Facebook yang dicuri oleh Cambridge Analytica.Cambridge Analytica. Data-data tersebut digunakan untuk membangun profil dalam pemetaan para pemilih di Pemilu AS 2016.

Gal menilai, sejauh ini tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Facebook untuk membantu para korban kebocoran data pribadi. “Orang yang mendaftar akun ke Facebook, mempercayai mereka dengan data mereka dan Facebook seharusnya memperlakukan data dengan sangat hormat,” ujarnya.
(tup/red)