YLBHI: Kuasa Hukum Warga Pancoran Hilang Kontak Usai Antar Surat ke Polres Jaksel
Tanah sengketa warga dengan anak perusahaan PT (Persero)di Jalan Pancoran Buntu II. (Foto: Republika)

Elangnews.com, Jakarta – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia () meminta Polres Jakarta Selatan untuk membebaskan kuasa hukum , Jakarta Selatan. Safaraldy dari Jakarta maupun Dzuhrian dari Paralegal Jalanan sampai saat ini putus kontak dan tak bisa dihubungi.

Dalam siaran pers yang diterima Elangnews.com, Kamis (25/3/2021), kedua kuasa hukum ini membantu warga yang tengah bersengketa tanah dengan PT Pertamina (Persero). Bahkan sebelumnya sempat terjadi bentok warga dengan polisi. Sampai Pemprov Jakarta pun turun tangan.

Dalam laporannya, YLBHI menyampaikan kedua kuasa hukum warga hilang kontak setelah mereka pada Rabu (24/2021), mengantarkan surat jawaban warga ke Polres Jakarta Selatan atas panggilan polisi sebelumnya.

Baca Juga:   'Supersemar' Ada di Gedung Pertamina

Namun, sampai saat ini kedua kuasa hukum yang sudah mengadvokasi warga Pancoran sejak 9 Maret 2021 tak bisa dihubungi dan keberadaannya tidak diketahui.

YLBHI meyakini kedua kuasa hukum ditahan Polres Jakarta Selatan. Mereka bekerja dan melakukan pendampingan kepada warga Pancoran dilindungi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum.

“Tindakan penahanan tanpa alasan yang dilakukan Kepolisian Resort Metro Jakarta Selatan, adalah tindakan tidak bermartabat dan telah melanggar Hak Warga Negara atas Bantuan Hukum,” bunyi rilis tersebut.

Baca Juga:   Karena Gubernur Edy Rahmayadi Naikkan Pajak, Harga BBM di Sumut Meledak

Sebelumnya, warga Pancoran Buntu II yang menamakan Solidaritas Forum Pancoran Bersatu bentrok dengan sejumlah orang yang diduga anggota ormas di Jalan Pasar Minggu Raya, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (17/3/2021) malam.

Tanah yang mereka tempati diklaim sebagai milik anak perusahaan Pertamina, PT Pertamina Training and Consulting (PTC). Sebaliknya ahli waris Mangkusasmito Sanjoto dan sejumlah warga mengklaim tanah yang sudah dipasang plang Pertamina itu milik keluarga mereka yang ditempati sejak 40 tahun lalu atau sejak 21 Maret 1981. (Yat/Red)