Cak Nun
menerima kunjungan silaturahmi ustadz Abubakar Baasyir di Rumah Maiyah Kadipiro Yogyakarta pada Senin (22/2). Sumber: caknun.com

ELANGNEWS.COM, Yogyakarta – Dengan kemeja lengan panjang berwarna biru, budayawan yang akrab dipanggil Cak Nun, menerima silaturahmi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, pendiri Pondok Pesantren Al-Mu’min Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Seperti dikutip dari laman caknun.com yang diunggah sekira pukul 14.30 WIB tersebut menyebutkan, “Hari ini, Senin 22 Februari 2021, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir beserta 11 orang rombongan bersilaturahmi kepada Cak Nun di Rumah Maiyah Kadipiro Yogyakarta.”

Tidak disebutkan secara jelas apa saja yang diperbincangkan dalam pertemuan tersebut. Tentu saja, peristiwa langka itu menimbulkan banyak pertanyaan dan beragam dugaan.

Keterangan dari caknun.com menyebutkan bahwa kehadiran Ustadz Abu Bakar Ba’asyir hanya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada Cak Nun karena pada saat beliau hendak menjalani vonis hukuman penjara, Cak Nun membesarkan hati para santri dan ummat beliau di Pondok Pesantren di Ngruki Solo.

Seperti sudah diketahui, Ustadz Ba’asyir yang memiliki nama lengkap Abu Bakar Ba’asyir bin Abu Bakar Abud yang akrab disapa Ustadz Abu (lahir 17 Agustus 1938, usia 83 tahun), mengalami beberapa kali penangkapan dan vonis di pengadilan. Misalnya pada Oktober 2002, ditangkap dengan tuduhan dan pelanggaran imigrasi, vonis 1 tahun 6 bulan. Dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 30 April 2004, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ditangkap dengan tuduhan terlibat dalam kasus bom Bali dan bom Hotel JW Marriot, vonis 2,5 tahun penjara.

Usia Jadi Pertimbangan Hukum, Perlakuan Untuk Djoko Tjandra Istimewa!

Bahkan tak tanggung-tanggung berbagai badan intelijen internasional sempat menuduh Ba’asyir sebagai kepala spiritual Jamaah Islamiyah (JI), sebuah grup separatis militan Islam yang mempunyai kaitan dengan Al-Qaeda. Ba’asyir membantah menjalin hubungan dengan JI.

Dalam sebuah buku tulisan Cak Nun yang dicetak secara terbatas dengan diberi judul Nation of The Laughing People. Liberal Kafir Network and bla…bla…bla… Cak Nun menulis kisahnya saat “malam sebelum Ba’asyir divonis,” dapat dibaca pada halaman 64-68. Usia buku itu sekira sudah 17 tahun, sebagai buah tangan dari Cak Nun dan Kiai Kanjeng saat perjalanan ke Eropa pada tahun 2004.

Cak Nun Dorong Dialog Empat Mata Jokowi-Habib Rizieq FPI

Paragraf pertama dari buku tersebut tertulis, “Beberapa hari sebelum divonis oleh Pengadilan Negara di Jakarta, beberapa staf Baasyir menemui saya di Yogya, meminta saya berceramah kepada santri dan ummat Ustadz Baasyir di Solo. Saya diminta untuk meredakan emosi mereka dan menyejukkan hati mereka. Tidak ada argumentasi yang rasional yang bisa saya temukan untuk menolak permintaan itu, sehingga saya menyanggupinya.”

Kisah tersebut menggambarkan, kehadiran Cak Nun di pondok pesantren Ngruki, 17 tahun yang lalu, adalah semata-mata untuk menenangkan para santri yang saat itu dirundung kekecewaan atas vonis terhadap ustadz Abubakar Baasyir pada esok harinya.

“Demi Allah perkenankanlah saya memberi saran kepada Anda semua, hendaklah Anda mencintai orang-orang yang menindas Anda, yang melalimi Anda, yang berbuat tidak adil kepada Anda…” tulis Cak Nun di dalam buku tersebut. (trd/red)