Pertamina vs Warga Pancoran, Sengketa Dimulai sejak 1973
berkumpul di sisa reruntuhan bangunan yang dirobohkan. (Foto: Instagram)

Elangnews.com, Jakarta – yang melibatkan warga Pancoran, Jakarta Selatan, ternyata bukan barang baru. Kasusnya sudah terjadi sejak 1973.

Menurut kuasa hukum keluarga ahli waris Mangkusasmito Sanjoto, Edi Danggur, sengketa dimulai ketika membeli lahan yang dalam sengketa pada tahun 1973.

Lahan yang berada di Gang Buntu II, Kelurahan Pencoran sebelumnya dibeli bersama Sanjoto dan Anton Partono bersama tiga orang lainnya. Mereka berkongsi bisnis yang dimulai dengan membeli lahan tersebut. Anton disebut sebagai mantan karyawan Inarub.

Biaya pembelian tanah seluruhnya dari Sanjoto dan ia berhak untuk mendapatkan sertifikat tanahnya. Namun, belakangan sertifikat itu tak kunjung diserahkan kepada Sanjoto. Dari sana Sanjoto mulai curiga dengan gelagat Anton.

Baca Juga:   'Supersemar' Ada di Gedung Pertamina

Dan benar saja, ternyata tanah tersebut sudah dipindahtangankan oleh Anton. Tanah dilego PT Nagasasra Jayasakti yang selanjutnya perusahaan itu menjualnya lagi ke Pertamina.

Menurut Edi, keluarga Sanjoto sudah memperingatkan Pertamina untuk tidak membeli tanah tersebut karena dalam sengketa. Namun tidak dihiraukannya. Sampai saat itu keluarga Sanjoto membuata pengumuman di Kompas pada 2 Mei 1973, harian Sinar Harapan 22 Desember 1972 dan Berita Buana pada 30 April 1973.

Saat itu sudah ada keputusan dari Pengadilan Negeri Jakarta Barat dan Selatan No.255/1973 G tanggal 7 September 1974. Putusan itu menyatakan bahwa semua perjanjian jual beli dengan pihak ketiga dinyatakan batal demi hukum.

Baca Juga:   Empat Sumur Balongan Terbakar, Produksi Kilang TPPI dan Cilacap Bakal Digenjot

Pada 11 Februari 1981 Pertamina sudah memerintahkan para karyawannya yang berjaga di tanah sengketa itu untuk meninggalkan lokasi karena juru sita PN Jakarta Selatan sudah mengeksekusinya.

Namun, ternyata Pertamina tidak tinggal diam. Dia mengajukan kasasi ke MA tetapi kalah. Rupanya perusahaan energi milik negara itu tidak putus asa. Ajukan Peninjauan Kembali (PK) dan di sini baru dimanangi Pertamina.

Puncaknya keributan yang terjadi pada Rabu (17/3/2021) malam yang menyebabkan sedikitnya 20 warga luka-luka. (Yat/Red)