syarif

    H. , M.Si Anggota Jakarta Fraksi Partai Gerindra yang namanya masuk dalam bursa Kandidat Ketua . (Foto: youtube TV NU)

“Maka dari itu saya niatkan ikut dalam Konferwil ini untuk memberi warna, bentuk dan dorongan bagi NU. Sehingga kedepan Jakarta selain memiliki jumlah warga yang besar, tetapi juga memiliki bobot dan mutu yang kita harapkan,” Syarif Kandidat Ketua Jakarta.

ELANGNEWS.COM, Jakarta Konferensi Wilayah (Konferwil) Pengurus Wilayah (PWNU) DKI Jakarta akan digelar pada 2 April 2021 mendatang. Sebuah forum yang sejatinya bukan sekadar ajang pemilihan Ketua baru, namun akan menentukan arah pergerakan NU ke depan khususnya di wilayah ibu kota negara.

Dari sekian nama yang beredar di bursa kandidat ketua PWNU DKI Jakarta, muncul nama seorang aktivis mantan Wakil Ketua PMII cabang Ciputat, yang kini menjabat sebagai Anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Gerindra, H. Syarif, M.Si.

Dihimpun dari berbagai sumber, Elangnews.com merangkum pandangan dan arah perjuangan Syarif jika Konferwil memberikan amanah kepada dirinya sebagai Ketua PWNU DKI Jakarta periode 2021-2026.

Seperti anak-anak Betawi lainnya, Syarif lahir dan dibesarkan dalam lingkungan yang memiliki karakter khas. Sederhana, bicara apa adanya, memegang teguh prinsip dan kehormatan harga diri, menghormati ulama, dan kewajiban menjalankan ajaran agama.

Alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dan mantan reporter tabloid detik di era 90-an itu, sangat mengenal Jakarta sepanjang hidupnya. Tak heran, dia terpilih sebagai anggota parlemen dua kali berturut-turut dari dapil yang sama, DKI Jakarta 6 wilayah Kota Jakarta Timur.

“Meski belum ada riset tentang jumlah warga NU di Jakarta, namun saya bisa memprediksi jumlahnya mencapai 40 persen dari total penduduk Jakarta,” Syarif melanjutkan, “Itu ada penjelasannya, tidak hitungan ngawur. Saya menilai dari 106 anggota DPRD Jakarta, 52 orang mengaku NU. Riset sederhananya begitu.”

NU Jakarta ini sebenarnya besar dan punya potensi luar biasa, Syarif kemudian mengukapkan alasannya untuk maju sebagai kandidat ketua PWNU DKI.

“Maka dari itu saya niatkan ikut dalam Konferwil ini untuk memberi warna, bentuk dan dorongan bagi NU. Sehingga kedepan NU DKI Jakarta selain memiliki jumlah warga yang besar, tetapi juga memiliki bobot dan mutu yang kita harapkan,” ujar pria yang juga pernah aktif di Partai Buruh Nasional (PBN) tahun 1999, partai besutan almarhum Prof. Dr. Muchtar Pakpahan.

Baca Juga:   Jelang Konferwil NU DKI, Muncul Nama Syarif Aktivis Pergerakan Masuk Bursa Ketua

Jakarta, Masyarakat Urban Hidup dari Sektor Jasa

Warga NU Jakarta, terang Syarif, memiliki karakter yang berbeda dengan warga NU di Jawa Tengah maupun Jawa Timur, yang umumnya hidup sebagai petani, nelayan, peternak, dan perkebunan.

Penduduk Jakarta merupakan masyarakat urban yang bercirikan sektor jasa. Tren sekarang adalah ekonomi kreatif. Artinya jenis-jenis usaha yang berbasis teknologi. Dari pembacaan tren itu, Syarif melihat warga NU Jakarta dengan jumlah anggota yang besar sangat berpotensi untuk menjadi sejenis jejaring pasar.

Selama ini warga NU hanya menjadi pengguna pasar atau pengguna produk. Seharusnya NU Jakarta punya ikhtiar menjadi bagian dari pencipta pasar. Konkretnya warga NU harus bisa kuasai sektor jasa, salah satunya adalah UMKM. Kemudian misal jalur distribusi, kurir, pemasok, dan lain-lain. Dari mata rantai itu, warga NU mau berperan dimana, disitulah kita harus masuk secara optimal.

“Sehingga warga NU Jakarta secara bertahap mampu menguasai sektor-sektor jasa, dari hulu sampai ke hilir,” pungkasnya.

Tentang Lembaga Pendidikan NU
Meskipun di Jakarta lembaga-lembaga pendidikan, pondok pesantren, atau rumah sakit NU sulit berkembang, Syarif justru menilai NU dapat menerapkan strategi lainnya, yaitu dengan cara mengambil inti dari model pendidikan NU, misalnya dengan memasukkan muatan lokal ke-NU-an ke dalam kurikulum sekolah-sekolah umum, peluang itu sangat dimungkinkan di Jakarta.

NU Jakarta akan kesulitan jika harus dipaksakan menerapkan cara yang serupa seperti di Jawa Tengah atau Jawa Timur, yang masyarakatnya sangat homogen. NU harus mampu menciptakan pergerakan dalam bentuk yang lain, tentu yang disesuaikan dengan kondisi wilayah setempat.

“Jadi yang mau saya katakan, meski di Jakarta tidak bisa membentuk lembaga-lembaga pendidikan atau pesantren NU, tapi tidak lantas kita menyerah. Kita bisa mempengaruhi kebijakan untuk memasukkan muatan lokal ke-NU-an,” ujar Syarif dengan nada optimis.

Baca Juga:   PWNU DKI Dukung Tindakan Polisi Tembak Laskar FPI Demi Hukum

Kolaborasi Sebagai Strategi NU Jakarta
Seperti sudah diketahui, PWNU DKI Jakarta pernah dipimpin oleh Ketua dengan bermacam latar belakang profesi, dari birokrat, pengusaha, bahkan seorang gubernur.

Terkait hal itu, Syarif mengatakan bahwa masing-masing punya gaya kepemimpinannya sendiri. Namun, setiap pemimpin pasti semua memiliki keterbatasan. Organisasi tidak bisa dibangun sendirian.

Syarif mengharapkan NU Jakarta mampu membangun kolaborasi siapapun ketuanya kelak. Kolaborasi itu bisa berjalan jika sesama pegiat di dalam organisasi itu mampu menciptakan trust (tauladan, contoh, sikap panutan) atau ada saling kepercayaan satu dengan lainnya. Dalam bentuk komitmen atau kontrak kinerja.

“Insya Allah jika saya diberi amanah untuk memimpin NU Jakarta, maka yang saya lakukan pertama adalah membuat komitmen dan kontrak kinerja kepada semua pengurus. Jika tidak bisa melaksanakan kinerja, maka harus mundur. Itulah yang dimaksud dengan konsep kolaborasi,” terang Syarif.

Era ke depan, menurut Syarif, adalah membangun gerakan NU secara bersama-sama, tidak lagi sendiri-sendiri atau hanya elite saja yang bergerak.

Syarif juga mengajak kepada sejawatnya, kandidat ketua PWNU DKI Jakarta untuk bersama-sama menegakkan dan mematuhi semua aturan dalam AD/ART.

“Prinsipnya saya mengikuti semua aturan di dalam AD/ART NU, termasuk bila harus mundur dari jabatan publik. Mari kita tegakkan bersama aturan itu,” tegas Syarif.

Sebagai penutup, Syarif juga berpesan untuk pelaksanaan DKI Jakarta yang akan digelar pada 2 April 2021 mendatang, dimana jumlah kandidat ketua yang cukup banyak sehingga hal ini mudah-mudahan menjadi sebuah pertanda baik bahwa kader-kader NU mulai terdorong lagi untuk mau ngurusi NU.

“Mengapa saya kemudian ikhtiar mencari dukungan untuk memimpin NU DKI, karena saya optimis kedepannya NU menjadi lebih baik. Saya berharap siapapun nanti yang terpilih menjadi ketua bisa bersinergi dengan kelompok-kelompok lain.”

Syarif juga menambahkan, “Mengapa saya kemudian ikhtiar mencari dukungan untuk memimpin NU DKI, karena saya optimis kedepannya NU menjadi lebih baik. NU harus menjadi pelopor perekat keguyuban sosial dan yang tak kalah penting adalah ummat secara keseluruhan merasa diurusi,” tegas Syarif. (trd/red)