syarif
H. , M.Si Anggota Jakarta Fraksi Partai yang namanya masuk dalam bursa Kandidat Ketua . (Foto: youtube TV NU)

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Diketahui pada tanggal 2 April 2021 yang akan datang, Jakarta akan menggelar Konferensi Wilayah untuk memilih Ketua baru. Bursa nama-nama calon kandidat mulai ramai diperbincangkan publik.

Kursi panas PWNU DKI diminati banyak tokoh nasional, diantaranya muncul nama Jazil Fawaid Wakil Ketua umum DPP PKB yang juga Wakil Ketua MPR RI. Ada juga nama Nusron Wahid, anggota DPR RI, mantan Ketua umum PB PMII dan sempat menjabat Kepala BP2TKI.

Diantara nama-nama besar itu, ada sebuah nama yang sangat singkat dan mudah diingat, Syarif. Anak Betawi kelahiran 51 tahun yang lalu, tepatnya 10 Maret 1970. Dari keluarga sederhana dan religius. Tumbuh dan berkembang di Kampung Nangka Growong, Ciracas, Jakarta Timur, dengan segala dinamika sosial yang mengiringinya, membentuk dirinya menjadi pribadi yang intim dengan kesederhanaan.

Tidak salah kiranya, Majelis Wakil Cabang (MWC NU) Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, mendapuknya sebagai Mustasyar. Seorang penasihat memang harus memiliki integritas moral, baik dalam ucapan apalagi tindakan.

Mantan Wakil Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Ciputat ini, memang pantas menjadi panutan. Sepak terjangnya di dunia pergerakan sudah tidak diragukan. Dia bukan sekadar sumber inspirasi buat sahabat-sahabat PMII lainnya, laksana oase di padang pasir. Lebih dari itu, Syarif muda adalah sosok yang mampu menghidupi inspirasi itu sendiri. Karenanya, dia tak pernah menjadi kering.

Baca Juga:   Peran NU di Tengah Masyarakat Urban, Ini Strategi Syarif Kandidat Ketua NU DKI

Era 90-an, seperti mahasiswa lainnya, Syarif mengabdikan perjuangannya tidak dengan kepala kosong. Teori-teori perubahan sosial rakus dia lahap. Tak heran, banyak organisasi nirlaba yang pernah dia pimpin selama menjadi mahasiswa. Sebut saja Pusat Pengkajian Jakarta (PPJ), sebuah NGO yang cukup progresif dimasanya. Tahun 1999, Syarif tercatat sebagai pemimpin Partai Buruh Nasional (PBN) DKI Jakarta, partai besutan almarhum Prof. Dr. Muchtar Pakpahan.

Watak Nahdlatul Ulama yang khas memang tidak pernah tercerabut dari hati dan pikirannya Syarif. Konsep berpolitiknya sangat unik. Percaya bahwa Partai Politik seharusnya menjadi alat dakwah dan memperjuangkan kaum yang lemah.

“Dari situ saya mulai semakin memahami pentingnya parpol sebagai alat perjuangan dakwah. Misalnya, membela kaum lemah, pedagang kaki lima, dan lain-lain. Bentuk konkretnya seperti membuat diskresi tentang berjualan di trotoar meski harus diatur waktunya,” ujar Syarif dalam program wawancara khusus di TVNU, Rabu (24/3/2021).

Baca Juga:   Ketua Fraksi Gerindra DPRD DKI Beberkan Persoalan Bantuan Sosial Tunai

Nilai-nilai dasar perjuangan yang memihak kepada kebenaran itulah yang membawa dirinya terpilih sebagai Anggota DPRD DKI Jakarta untuk dua kali berturut-turut, 2014-2019 dan 2019-2024 dari Partai Gerindra. Jabatan mentereng, Sekretaris Komisi D DPRD DKI Jakarta, sebuah capaian yang luar biasa, tak membuat “Aktivis Tanpa Angkatan” itu lupa diri dan kehilangan komitmennya pada pergerakan.

Alumnus UIN Syarif Hidayatullah itu mengaku, aktifitas panjang dirinya bersama NU pada akhirnya membentuk dirinya menjadi seorang muslim yang moderat, toleran, dan yang tak kalah penting membentuk dirinya menjadi muslim yang bermanfaat buat warga sekitar.

Nama Syarif muncul dalam bursa DKI Jakarta tentu akan membuat perhelatan itu semakin menarik untuk disimak.

“Mengapa saya kemudian ikhtiar mencari dukungan untuk memimpin , karena saya optimis kedepannya NU menjadi lebih baik. NU harus menjadi pelopor perekat keguyuban sosial dan yang tak kalah penting adalah ummat secara keseluruhan merasa diurusi,” tegas Syarif. (trd/red)