Negara dan Tingkat Literasi Kaum Muda
Setidaknya terdapat 17,6 persen anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca. Namun, yang memiliki minat menonton jauh lebih besar hingga mencapai 91,6 persen. Ketimbang membaca buku, mereka lebih tertarik menonton. Berjam-jam dihabiskan untuk menatap layar android. Foto koleksi buku/trd.

TIDAK ADA negara merdeka dan modern tanpa riset dan penelitian mendalam yang merdeka dan terbuka, dan tidak ada negara berdaulat tanpa penguasaan teknologi yang akan membentuk masa depan. Begitulah ujaran Presiden Republik Perancis, Emmanuel Macron, yang diunggah pada Minggu 24 Januari 2021 pukul 8.43 (waktu Perancis) melalui platform LinkedIn.

Perancis, negeri para filsuf, rumah bagi 69 juta manusia. Dengan Produk Domestik Bruto Nominal yang tinggi sebesar US$2,856 triliun, pertumbuhan PDB sekira 2,3 persen pada tahun 2017, dan pendapatan perkapita sebesar US$44.100 atau setara dengan Rp573 juta (bandingkan dengan rata-rata pendapatan penduduk Indonesia setahun yang hanya sebesar Rp59,1 juta), mendapuk Perancis di urutan ke-7 sebagai negara pengekspor terbesar di dunia.

Data demografi Perancis mencatat jumlah angkatan muda (usia 15-24 tahun) sebesar 8 juta jiwa. Sedangkan jumlah usia produktif (15-64 tahun) sebesar 68% dari total jumlah penduduk. Prancis sebagai negara maju dan angka harapan hidup yang tinggi memiliki struktur kependudukan tipe “piramida batu nisan” yaitu penduduk yang berusia tua jumlahnya hampir sebanding dengan yang berusia muda. Dengan kondisi tersebut, tak heran jika Macron memberikan perhatian khusus kepada anak-anak muda Perancis sebagai pembentuk Negara masa depan.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kamis, 21 Januari 2021 Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil sensus penduduk tahun 2020. Dari hasil survei sepanjang Februari-September 2020 itu tercatat jumlah generasi Z (lahir antara tahun 1997-2012) mencapai 75,49 juta jiwa (27,94 persen). Sedangkan, generasi milenial (periode lahir 1981-1996) mencapai 69,90 juta jiwa atau setara dengan 25,87 persen dari total populasi sebesar 270,2 juta.

Melihat data ini, tak berlebihan jika Bhima Yudhistira, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menyarankan pemerintah melakukan berbagai langkah antisipasi khususnya dalam penyediaan lapangan pekerjaan.

“Meskipun anak muda mulai banyak tertarik masuk pertanian namun jumlahnya sedikit. Pertanian tetap esensial dan perlu didukung oleh bauran kebijakan seperti adopsi teknologi modern, pelatihan dan akses pasar atau pengolahan pasca panen,” kata Bhima melalui portal Kontan, Jumat (22/1).

Negara melalui Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional Tahun 2017-2045 sesungguhnya sudah menetapkan 10 (sepuluh) fokus riset dalam PRN 2017-2019, yaitu: 1) fokus riset pangan; 2) fokus riset energi; 3) fokus riset kesehatan dan obat; 4) fokus riset transportasi; 5) fokus riset teknologi informasi dan komunikasi; 6) fokus riset pertahanan dan keamanan; 7) fokus riset material maju; 8) fokus riset kemaritiman; 9) fokus riset kebencanaan; dan 10) fokus riset sosial humaniora, seni budaya dan pendidikan.

Sayangnya, anggaran riset Indonesia hanya Rp35 triliun per tahun, itu pun harus dialokasikan ke 45 Kementerian/Lembaga (KL). Artinya anggaran sangat kecil dan tidak terasa manfaatnya.

Realitas Gen Z dan Milenial di Indonesia

Mizanstore.com menulis fakta-fakta menarik terkait kondisi umum generasi Z dan kaum milenial Indonesia. Menurut data UNESCO tahun 2012, angka minat baca anak Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, hanya ada 1 dari 1.000 orang yang memiliki minat baca serius. Bukan itu saja, berdasarkan penelitian Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organization for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015 menunjukkan, Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara. Respondennya anak-anak sekolah usia 15 tahun dengan sampel sekitar 540 ribu orang.

Penelitian lain dari Central Connecticut State University (CCSU) yang diumumkan Maret 2016, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia masih unggul dari satu negara, yakni Botswana yang berada di kerak peringkat literasi ini. Nomor satu ada Finlandia disusul Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Swiss, AS, dan Jerman.

Tak cukup sampai di situ saja, dikutip dari Kompas.com, rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku. Data ini berdasarkan hasil penelitian perpustakaan nasional tahun 2017. Data yang diambil dari Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) juga lebih mencengangkan lagi. Rata-rata orang Indonesia hanya membeli 2 buku per tahun. Saya ulangi: 2 buku per tahun! Bayangkan? Betapa sedikitnya jumlah tersebut.

Sedangkan survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai minat membaca dan menonton anak-anak Indonesia, yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2012. Dikatakan, hanya 17,66 persen anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca. Namun, yang memiliki minat menonton jauh lebih besar hingga mencapai 91,67 persen. Ketimbang membaca buku, mereka lebih tertarik menonton. Berjam-jam dihabiskan untuk menatap layar android.

Negara dan Tingkat Literasi Kaum Muda
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) 2020.

Negeri ini berlimpah generasi Z dan milenial. Mereka tak sekadar voter pembentuk konfigurasi politik nasional. Lebih dari itu semua, mereka adalah penguasa digital, pemilik teknologi kecerdasan buatan, teknologi persenjataan tempur, teknologi pertanian, mikroelektronik, teknologi kesehatan, energi dan ruang, karenanya mereka adalah kunci untuk masa depan kita. Demikian pula, teknologi kuantum yang penuh dengan janji dan harapan. Merekalah anak-anak muda pembentuk masa depan.

Berkat teknologi kuantum, kita akan dapat memecahkan masalah intractable dengan komputasi konvensional, mengurangi waktu komputasi, menavigasi tanpa GPS. Mengurai jawaban secara ilmiah untuk semua pertanyaan-pertanyaan tahayul dimasa lalu.

Persiapkanlah anak-anak muda dengan cara-cara baru untuk pelatihan, bagi para peneliti, untuk startup dan industrialis, untuk mempercepat pengembangan komputer dan teknologi kuantum: komunikasi, sensor, kriptografi, dsb.

Manusia Indonesia baru yang dipenuhi oleh hasrat, memiliki ambisi, bakat, sarana, pandangan mendalam, republik demokratik terbesar di dunia, untuk naik ke puncak podium negara-negara yang paling terdepan dalam kemandirian teknologi dan kesejahteraan umum.

Generasi Z dan milenial Indonesia, faktanya, berdiri di atas pondasi minat baca dan literasi yang sangat rapuh. Wajah buruk globalisasi, memudahkan setiap kita mengakses berita-berita palsu tanpa fakta. Tak heran jika mereka rakus memamah informasi nir-akurasi. Belum lagi kenyataan dimana jumlah anak putus sekolah, pengangguran dan tingkat kemiskinan yang terus bertambah.

Hari ini mungkin kita hanya bermimipi tentang anak-anak negeri pembentuk masa depan, maka bersegeralah bangkit dari tidurmu dan hapus air matamu. Selamanya, Bangsa ini adalah pemilik jiwa-jiwa patriotik. Wallahualam bissawab.***

Tino Rahardian⎟Redaktur Politik dan Pemerintahan

Berita Politik & Pemerintahan : Negara dan Tingkat Literasi Kaum Muda, ElangNews.com.