Catatan Pinggir Pengantar Awal Tahun

Pemukiman penduduk di pinggir kali
Potret pemukiman warga pinggir kali, satu dari sekian banyak persoalan sosial yang harus segera dicarikan jalan keluar/trd.

SAAT yang tepat untuk memeriksa kembali kualitas kejiwaan kita. Atau memang isi otak kita sudah berantakan. Kaki di atas kepala di bawah. Jungkir. Bukannya mendorong kebebasan berorganisasi dan berserikat, justru malah mendukung pembubaran dan penindasan wadah-wadah perjuangan rakyat. Sembari memburu ulama dengan urusan lahan dan kerumunan. Kemudian sebahagian kita dengan kejamnya memaklumkan penghilangan paksa nyawa anak manusia.

Bukannya memperluas ruang-ruang demokratik sambil tetap berkolaborasi dengan agenda-agenda keagamaan progresif, tetapi justru memilih dan membangun sistem alternatif yang hanya dimiliki oleh segolongan 1% kaum elit. Seharusnya mewujudkan swasembada, malah memberangus petani punya usaha. Omnibus dan karpet merah politik kartel.

Bukannya mempertahankan mekanisme chek and balance sambil membangun budaya kritis terhadap penyalahgunaan uang negara, justru memungkinkan terjadinya praktik jual-beli ‘pergantian antar waktu’. Faktanya, pandemi dan resesi tak cukup mampu menghadang kebrutalan perilaku koruptif. Dollar Amerika memang gurih rasanya.

Baca:  Indeks Demokrasi Dibawah Pemerintahan Jokowi

Sorak sorai balatentara berdendang, menari bahkan merangsek ‘politik identitas’ yang sedang mencari jalannya ditengah-tengah agenda progresif keagamaan. Segala tuduhan diapungkan. Yang berbau kritik dihujam tuduhan teroris. Ormas penyebar kebencian. Anti-pancasila. Ya! Sehabis jualan ‘isu kemanusiaan’ yang usang, kini banting-stir jualan ‘isu politik identitas’. Menurut mereka, kemiskinan dan kegagalan neoliberalisme tak lebih penting ketimbang bahaya ‘overdosis agama’.

Begitulah cara mereka memproduksi ketakutan-ketakutan dan mereka sendiri yang menyebarkan. Pada tempurung mereka, dunia ini disederhanakan menjadi ‘haters‘ dan ‘lovers‘ semata. Pancasila dan anti-pancasila. Sinetron ‘Anak Jalanan’ makin terlihat pengaruhnya ke sel-sel otak klas menengah jenis ini. Ngehek.

Diantara mereka tak jarang hari, berceloteh perihal pluralisme dan HAM dengan begitu kemayu, lengkap dengan cengegesannya yang memuakkan. Hingga harinya tiba, bila menyangkut tindasan kepada rakyat kecil, watak aslinya pun keluar, lengkap dengan tanduk dan taring runcingnya. Inetelektual tukang. Kaum pemuja oligarki.

Baca:  Jawab Sindirian JK ke Jokowi, Mahfud: Keluarga Pak JK Juga Laporan ke Polisi

Tak sedikit diantara mereka mendapuk diri aktivis. Tanpa malu mendaku Marhaenis. Khatam buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’. Berdebat ‘Madilog’. Mengunyah ‘Revolusi Kebudayaan’ hingga ‘Desa Mengepung Kota’. Sepertinya mereka lupa dan menutup mata rapat-rapat siapa disekeliling rezim hari ini.

Persekutuan jahat antara fulan dan fulan bin fulan, atau seribu nama lain di selasar media sosial. Watak fasis tetaplah fasis, tak peduli seberapa pintar kau berdandan, seberapa banyak pemukiman kumuh kau sambangi, atau sibuk piknik dan ber-selfie ria di seantero destinasi wisata. Pencitraan kosong para pejabat. Membawa kita menjauh dari substansi program dan kebijakan publik.

Selamat tinggal Nawacita. Selamat datang Dukacita.***

Tino Rahardian⎟Redaktur Politik