cak nun
Ilustrasi gambar oleh Suray/elangnews.com

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Usianya sudah tidak lagi muda, 83 tahun, rambutnya memutih berwarna perak dan raga yang renta tidak mampu menghalanginya melakukan perjalanan jarak jauh berjam-jam lamanya.

“Jika ingin melihat orang tua yang keras kepala, lihatlah Abu Bakar Ba’asyir. Fisiknya rapuh digerogoti usia, tetapi isi kepalanya cadas,” tulis Sekretaris Umum PP ISNU, M. Kholid Syeirazi dalam sebuah artikel bertajuk Siapakah Itu Abu Bakar Ba’asyir? tanggal 22 Januari 2019.

Sejak era Orde Baru, sepak terjang Ustadz Abu, sapaan dari Abu Bakar Ba’asyir, selalu diwarnai pro-kontra yang menyertainya.

M. Natsir, mantan Ketua Masyumi, sejak tahun 1970 sudah merekrut Ba’asyir dan sahabatnya Abdullah Sungkar untuk menduduki kursi pimpinan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) cabang Solo. Sebuah masa dimana DDII sangat produktif menerjemahkan karya-karya ulama seperti Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, Said Hawwa, Abu A’la al-Mawdudi, dan Abdul Qadir Audah. Setidaknya ada 12 seri buku yang sudah mereka terjemahkan.

Bersamaan dengan aktifitas literasi dan penerjamahan karya-karya ulama besar dunia tersebut, setidaknya terjadi dua peristiwa internasional yang menyertainya. Pertama, Januari 1979. Revolusi Islam Iran yang menumbangkan rezim Shah yang didukung Amerika Serikat. Peristiwa kedua adalah perang saudara di Afganistan. Dimana Soviet mendukung Partai Demokrasi Rakyat Afganistan, sedangkan di sisi lainnya ada pemberontak Mujahidin yang disokong Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Baca Juga:   Cak Nun Dorong Dialog Empat Mata Jokowi-Habib Rizieq FPI

Tahun 1983 saat pemerintahan Orde Baru Soeharto menerapkan asas tunggal Pancasila, Ba’asyir menjelma sebagai kekuatan oposisi utama. Hingga harus hidup sebagai pelarian politik di Malaysia, 17 tahun lamanya.

Merajut kembali tali silaturahmi

Zaman bergerak dan terus berubah. Upaya mempersatukan kembali ummat tentu saja menjadi perhatian bagi seluruh ulama.

Seperti dikutip dari laman facebook Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin Ngruki, “Setelah menikmati udara bebas, banyak waktu yang diluangkan beliau (Ustadz Abu) untuk bersilaturahmi, guna mempererat ikatan ukhuwah di antara Ummat Islam.”

Gontor
Ustadz Abu Bakar Ba’asyir saat kunjungan di , Ponorogo (11/2). Sumber: Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin Ngruki.

“Silaturahmi yang dilakukan oleh Ustadz Abu merupakan bagian dari bentuk terimakasih beliau terhadap yang telah membantu membesarkan hati santri-santri Ustadz Abu di Solo, beberapa waktu sebelum vonis hakim pasca penangkapan paksa saat beliau dirawat di rumah sakit PKU Muhammadiyah Surakarta saat itu,” ujar Abdur Rochim Ba’asyir, atau biasa disapa Ustadz Lim, putra dari Ustadz Abu Bakar Ba’asyir usai mengunjungi pada Senin 22 Februari 2021 yang lalu.

Baca Juga:   Bebas dari Penjara, Begini Aktifitas Ustadz Abu Bakar Ba’asyir

Diketahui bahwa rombongan sebanyak dua mobil berangkat dari Pondok Al Mukmin Ngruki pukul 07.00 WIB dan sampai di kediaman Cak Nun yang berada di Jl. Barokah No 287, Kadipiro, Ngestiharjo, Kec. Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada pukul 09.00 WIB.

tebu ireng
Ustadz Abu Bakar Ba’asyir saat kunjungan di , Jombang (11/2). Sumber: Pondok Pesantren Islam Al-Mukmin Ngruki.

Kunjungan silaturahmi tersebut bukan satu-satunya aktifitas yang dilakukan oleh Ba’asyir, setidaknya ada dua pertemuan lainnya yang terjadi pada tanggal 11 Februari 2021.

Kunjungan silaturahmi yang pertama terjadi di Pondok Pesantren Darussalam , Ponorogo dan kedua di , Jombang.

Pertemuan antara Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, KH Hasan Abdullah Sahal, KH Abdul Hakim Mahfudz, Emha Ainun Najib dan seluruh ulama-ulama Nusantara tentu membawa berita kebahagiaan bagi kita semua. Sebuah pesan akbar perdamaian dan persatuan ummat sudah dikumandangkan. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Peristiwa tersebut tentu perlu kita apresiasi, ditengah-tengah carut marut kondisi ummat saat ini. Pandemi dan ancaman resesi yang juga tidak mampu menghalangi polah pejabat melakukan tindakan-tindakan koruptif. Wallahu a’lam bish-shawabi. (trd/red)