Pelawak Istana, Dulu dan Sekarang
Tokoh Joey diperankan oleh Joseph Grimaldi, badut paling popular di Inggris pada era Raja George III.

. Mereka yang secara harafiah diterjemahkan sebagai ‘’. Penghibur yang memoles wajahnya dengan bedak tebal, lipstick berwarna merah menyala, berpakaian aneh dengan sepatu besar-nya yang khas, dan fasih merekayasa gimmick dan mimik. Melalui sebuah pertunjukkan, mereka membuat tertawa semua penduduk di desa-desa, di jalanan, bahkan orang-orang kaya yang stres. Dengan kemampuan berpantomim dengan gerakan-gerakan slapstick yang konyol, boleh jadi merekalah salah satu profesi penjaja hiburan jalanan yang usianya setua peradaban manusia.

Kajian ilmu-ilmu sosial ada yang menyebutnya dengan ‘’. Tahun 1858, Dr. John Doran menyusun sejarah pelawak istana yang berkembang di Eropa dengan tajuk History of Court Fools. Disini Doran menggunakan kata fools (orang bodoh) untuk mengganti kata jester (badut). Karena memang para pelawak di Eropa masa itu berperilaku meniru-niru kelakuan orang bodoh dan konyol.

Sebahagian kita mungkin keliru menilai mereka sebagai kumpulan manusia bodoh. Faktanya, tak sedikit court jester adalah kaum cerdik cendikia dan berasal dari keluarga terpelajar. Dengan demikian kata jester mengalami banyak pergeseran makna. Court jester tak melulu menampilkan kebodohan.

Di era khalifah Harun al-Rasyid, khalifah kelima dari kekhalifahan Abbasiyah yang memerintah antara tahun 786 hingga 803, masyhur seorang pelawak istana bernama Abu Ali Al-Hasan ibn Hani Al-Hakami. Sejatinya dia juga seorang pujangga besar dalam budaya Arab. Kita lebih mengenalnya dengan nama Abu Nawas. Court jester paling brilian sepanjang sejarah peradaban manusia.

Jika Abu Nawas awal dikenal sebagai pemabuk, suka berfoya-foya, dan baru mendalami agama pada masa tua. Berbeda dengan Nasruddin Khodja yang dijuluki Sang Sufi Humoris. Di balik kepiawaiannya menulis kisah-kisah humor, Khodja adalah seorang ulama, guru agama, sekaligus hakim yang sederhana dan hidup dalam kemiskinan. Beberapa sumber sejarah menyebut, dia hidup pada abad ke-13 di Anatolia, Turki. Khodja dikenal dengan leluconnya yang cerdas, penuh makna filosofis dan memaksa penonton untuk berpikir. Leluconnya tak jarang mengandung satire yang ditujukan kepada pemerintah saat itu. Saking populernya, bahkan UNESCO mengapresiasi karya-karya Khodja dengan menjadikan tahun 1996 sebagai Nasreddin Hoca Year.

Sebuah disertasi doktoral ditulis oleh Titi Surti Nastiti dengan teknik etnoarkeologi berjudul Kedudukan dan Peranan Perempuan Dalam Masyarakat Jawa Kuna (Abad VIII – XV Masehi) menyebut pelawak dalam masyarakat Jawa Kuna dengan nama abañol/mabañol dan pirus/mamirus. Apabila abañol/mabañol unsur lawakannya diekspresikan dalam gerakan-gerakan, sedangkan unsur lawakan pada pirus/mamirus diekspresikan melalui pemakaian kata-kata lucu oleh para pemainnya.

Inggris abad ke-16 juga pernah memiliki pelawak istana perempuan, bernama Jane Foole. Bertugas menghibur para pejabat istana dan beberapa Ratu termasuk Anne Boleyn. Masih dari Negara yang sama, kurang lengkap jika tidak menyebut Joseph Grimaldi, badut paling popular di Inggris pada era Raja George III. Grimaldi adalah pencipta karakter badut bernama ‘Joey’. Badut model baru dan paling modern saat itu yang mengombinasikan karakter penjahat, bodoh, nakal, lengkap dengan mimik wajah tidak berdosa.

Era modern, praktik court jester diaplikasikan dengan nama corporate jester. Maskapai British Airways, sejak 1995 menyewa jasa Paul Birch. Meski hanya 18 bulan menjadi corporate jester, Birch berhasil mendongkrak popularitas British Airways di media massa. Publik kelas menengah Inggris makin akrab dengan jasa maskapai tersebut. Saham perusahaan pun ikut terseret ke posisi puncak.

Dr. Maman Lesmana dari Universitas Indonesia dalam sebuah artikel berjudul Court Jester Zaman Now di jurnal Kajian Humor Indonesia dan Mancanegara, menulis tentang karya Tony Mitchell Methuen tahun 1984 bertajuk Dario Fo: People’s Court Jester. Jika diterjemahkan secara harfiah, judul buku tersebut adalah Dario Fo: Badut Istana Rakyat. Padahal yang dimaksud adalah bukan demikian. Istilah court jester pada bukunya, artinya bukan badut istana yang terdapat pada definisi pada zaman dahulu, melainkan julukan yang diberikan kepada Dario Fo, pemenang Nobel untuk sastra tahun 1997. Dario Fo dijuluki sebagai jester dalam bidang tradisi lisan pada abad pertengahan di Italia, karena telah membuat satire politik dan intervensi militan terhadap kehidupan politik di Italia.

Court jester dengan segala tingkah dan polahnya, gimmick dan mimik, dalam pendekatan konotatif merujuk pada bentuk-bentuk seperti kata (words), gambaran (images), bunyi (sounds), dan gerak isayarat (gesture), memberikan pemahaman kepada kita untuk tidak sekadar membatasi diri pada analisis secara semiosis belaka, tetapi juga mendalami makna dibalik court jester sebagai tanda berbagai gejala kemasyarakatan.

Bukan sembarang Komedian. Abu Nawas, Nasruddin Khodja, Joseph ‘Joey’ Grimaldi dan Paul Birch adalah sedikit contoh court jester yang melawak dengan kecerdasan sosial tinggi dengan nyali besar untuk menyusupkan kritik-kritiknya kepada raja, mengungkap realitas kemasyarakatan melalui muatan-muatan humornya.

Mereka bukan court jester yang mengumbar lawakan-lawakan kejam saat rakyat miskin kesulitan mendapatkan beras murah, dalam kalimat-kalimat ganjil seorang pimpinan parlemen, “Jangan banyak-banyak makan lah, diet sedikit tidak apa-apa.” Saat kaum papa menghadapi kematian setiap hari pada masa pandemi, seorang menteri koordinator berkelakar, “Corona? Corona kan sudah pergi. Corona mobil?“. Atau ujaran-ujaran yang bernada meremehkan lainnya, “Insya Allah covid-19 tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal”, “sesama keluarga miskin besanan, kemudian lahirlah keluarga miskin baru”. Atau si Fulan dengan kalimat yang merendahkan manusia lain, “sudah selesai evolusi belum kau?”.

Mereka juga bukan komedian yang sibuk menemui kaum papa di pinggir jalan atau di kolong jembatan demi pencitraan kosong dan ambisi elektoral. Bualan usang yang diputar berulang-ulang. Mengingatkan kita kepada seorang tokoh yang dulu sangat rajin keluar-masuk gorong-gorong di Ibukota. Jenis komedian yang lain.

Sebuah negeri yang sedang menuju kebangkrutannya mungkin membutuhkan jasa seorang court jester. Agar praktik politik bagi-bagi kekuasaan di antara orang-orang kaya semata bisa berjalan tanpa gangguan, kemudian rakyat jelata dipaksa tertawa dan bertepuk tangan melihat polah pejabat. Ya! Kita semua dipaksa merayakan kematian demokrasi perlahan-lahan dalam balutan komedi. Kali ini pelawak istana itu jauh dari pengertian cerdas-filosofis dan sudah tidak lucu lagi.***

Tino Rahardian⎟Redaktur Politik dan Pemerintahan