terorisme
Ilustrasi gambar. (Antara)

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Menyusul kian maraknya aksi-aksi teror yang terjadi di Tanah Air, mulai ledakan bunuh diri di Gereja Katedral Makassar hingga penyerangan , kritik keras pun menyasar ke Badan Nasional Penanggulangan ().

Otoritas penanggulangan terorisme di Indonesia itu diminta melakukan aksi nyata dan tidak bisa lagi bermain-main atau sekadar bersosialisasi tentang bahaya terorisme.

Pokok-pokok kritik itu muncul dalam acara diskusi Dialektika Demokrasi “Lawan Geliat Radikal-Terorisme di Tanah Air”, Jakarta Selatan, Kamis (1/4/2021).

Narasumber yang hadir diantaranya Anggota Komisi I RI Syaifullah Tamliha, Anggota Komisi III Dipo Nusantara Pua Upa (hadir virtual), mantan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah, dan pengamat intelijen-terorisme Ridwan Habib.

Baca Juga:   SAH! Ini Daftar 33 RUU Prolegnas Prioritas 2021

Dipo Nusantara mengatakan, Komisi III DPR sudah bicara keras soal terorisme kepada BNPT.

Kunjungan BNPT ke daerah-daerah, menurut Dipo, sekadar kunjungan biasa yang tidak ada tindakan ril seperti yang diharapkan.

Bahkan, Dipo juga mengkritik keras kegiatan sosialisasi yang dilakukan BNPT dan kunjungan ke luar negeri.

“Saya akan bicara kepada rekan-rekan Komisi III supaya kita bisa lebih keras lagi bicara. Teror ini jadi kritik juga buat Komisi III,” tegas Dipo.

Baca Juga:   Tanggapan Presiden Atas Aksi Penyerangan Mabes Polri

Dipo juga menambahkan pentingnya praktik agama secara benar dan upaya-upaya meningkatkan wawasan kebangsaan.

“Kalau kita menjalankan agama dengan benar, saya yakin terorisme itu bisa hilang di negara kita ini. Yang perlu kita tingkatkan adalah wawasan kebangsaan dan keagamaan kita,” ujar Dipo.

Pada kesempatan yang sama, Anggota Komisi I DPR RI Syaifullah Tamliha menyoroti peran dalam BNPT.

“Sebetulnya sudah dicantumkan dalam regulasinya. Hanya saja peraturan pelaksananya belum turun hingga kini. TNI belum banyak terlibat dalam pemberantasan terorisme,” jelas Tamliha. (trd/red)