wapres
K.H. Ma’ruf Amin saat memberikan keterangan persnya usai peninjauan vaksinasi di Arena Terbuka Tiara Batara, Barito Utara, Muara Teweh, Kalimantan Tengah, Selasa (30/03/2021). Foto: wapresri.go.id

“Cara berpikir Islami itu tidak tekstual dan tidak liberal (la tektualiyan wala liberaliyan) tetapi moderat (wasathiyan/tawassuthiyan)”

ELANGNEWS.COM, Jakarta Republik Indonesia K.H. Ma’ruf Amin menimbau para da’i di Indonesia agar tak terseret arus pemikiran yang sempit.

Pemikiran yang sempit, menurut Ma’ruf, hanya akan memunculkan sifat egosentris, tidak menghargai perbedaan pendapat juga bisa melahirkan pola pikir yang menyimpang dari arus utama atau bahkan menjadi radikal sehingga dapat menjurus pada penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

“Para da’i harus meneladani cara berpikir Rasulullah SAW dan tidak ikut dalam arus berpikir sempit, seperti fenomena yang muncul belakangan ini,” Jelas Wapres Ma’ruf dalam sambutannya di acara Web Seminar Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) dan Badan Nasional Penanggulangan () secara daring, Ahad, 4 April 2021.

Baca Juga:   INFID-Jaringan Gusdurian: Mayoritas Anak Muda Tolak Kekerasan Bermotif Agama

Pada kesempatan yang sama, Wapres juga menyinggung peristiwa serangan bunuh diri di Kota Makassar, Ahad (28/3/2021).

“Contoh paling aktual dari cara berfikir radikal terorisme yang menyimpang itu adalah peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar pada tanggal 28 Maret 2021,” tegasnya.

Aksi terorisme tersebut, lanjut Ma’ruf, tidak sesuai dengan ajaran Islam, karena Islam tidak mengajarkan kekerasan atau pemaksaan kehendak (ikrahiyyan) di dalam dakwah-dakwahnya untuk memperjuangkan aspirasi melawan ketidakadilan.

Baca Juga:   [OPINI] Blanko Kosong Terorisme

Lebih lanjut Wapres Ma’ruf menegaskan bahwa cara berpikir Islami adalah cara berpikir yang moderat dan dinamis.

Artinya, pemahaman terhadap sesuatu tak bisa semata-mata secara tekstual/statis apalagi mengabaikan perkembangan ilmu pengetahuan. Namun juga tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan mengabaikan motivasi agama.

“Maksudnya disini tidak berpikir secara liberal. Dengan demikian cara berpikir Islami itu tidak tekstual dan tidak liberal (la tektualiyan wala liberaliyan) tetapi moderat (wasathiyan/tawassuthiyan),” pungkasnya.

Acara Webinar Nasional itu dihadiri Ketua Umum PP IKADI Achmad Satori, Kepala BNPT Boy Rafli Amar, dan Wakapolri Gatot Eddy Pramono. (trd/red)