PD
Partai kubu Kongres Luar Biasa () pimpinan Ketua Umum menggelar konferensi pers di lokasi proyek Sport Center Bogor, Kamis (25/3/2021). Foto: Elangnews.com/youtube

ELANGNEWS.COM, Bogor Kubu KLB pimpinan Ketua Umum Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko secara blak-blakan membongkar kasus korupsi proyek Pusat Pelatihan dan Pendidikan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang.

Diketahui, Proyek Hambalang itu bernilai Rp1,07 triliun dan kasus ini telah merugikan negara senilai Rp706 miliar. Nama-nama yang menjadi pesakitan diantaranya seperti Machfud Suroso Direktur PT Dutasari Citra Laras, Teuku Bagus Muhammad Noor yang merupakan mantan Direktur Operasional PT Adhi Karya (Persero) Tbk, kemudian mantan Menpora Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum, dan Angelina Sondakh.

Hal itu disampaikan Demokrat kubu KLB pimpinan Moeldoko melalui konferensi pers yang di gelar dari Hambalang Sport Center Bogor, Kamis (25/3/2021).

Baca Juga:   AHY Sambangi Kantor Pusat Muhammadiyah, Tolak Bicara Merangkul Moeldoko

“Dari tempat ini kami serukan kepada lembaga hukum dalam hal ini KPK untuk menindaklanjuti apa yang belum dilanjutkan,” kata Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat versi KLB .

Max Sopacua minta KPK usut tuntas kasus proyek Hambalang karena hingga saat ini masih ada nama-nama yang terlibat dalam kasus tersebut tetapi belum tersentuh oleh hukum. Max juga menambahkan, KPK semestinya menindaklanjuti keterangan saksi-saksi mengenai nama-nama yang disebut menikmati uang hasil korupsi proyek Hambalang.

“Jangan dibiarkan orang lain menderita dan jangan biarkan orang lain berpangku tangan senang-senang, malah sebagai raja nanti di Partai Demokrat,” ujar Max.

Max Sopacua, mantan anggota DPR selama 10 tahun (2004-2014) yang kebetulan juga dari daerah pemilihan Bogor itu juga membeberkan alasan Demokrat kubu KLB pimpinan Moeldoko menggelar jumpa pers dari Hambalang.

Baca Juga:   Babak Baru Kudeta Partai Demokrat, SBY Versus Moeldoko

“Kenapa kita buat di sini? Substansinya harus Anda catat, tempat inilah, proyek inilah adalah salah satu bagian yang merontokkan elektabilitas Partai Demokrat ketika peristiwa-peristiwa itu terjadi,” terang Max.

Diketahui elektabilitas suara Partai Demokrat pernah mencapi angka 20,4 persen pada pemilu 2009 atau setara dengan 150 kursi (26,4 persen) di DPR RI, kemudian merosot drastis hingga 10,2 persen di pemilu 2014, hingga terakhir di pemilu 2019 Demokrat terpuruk di angka 7,7 persen dan menyisakan 54 kursi di DPR. (trd/red)