ABB
Ilustrasi gambar oleh Suray/elangnews.com

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Selepas salat subuh, hari Jumat, 8 Januari 2021, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang sudah mendekam 9 tahun di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat, akhirnya menghirup udara segar. Kyai sepuh itu dinyatakan bebas murni. Tanpa syarat.

“Hanya dijemput pihak keluarga, tidak banyak orang,” kata Abdur Rochim Ba’asyir yang akrab dipanggil Ustadz Lim, putra Ba’asyir.

Tidak ada sambutan yang berlebihan apalagi iring-iringan konvoi panjang yang menimbulkan kerumunan. Mobil keluarga yang menjemput Ustadz Ba’asyir, langsung melaju menuju Solo melalui jalan darat.

Belum genap dua bulan, selepas bebas dari masa tahanan, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di usianya yang sudah tidak lagi muda itu langsung bergerak melakukan kunjungan-kunjungan silaturahmi. Rupanya, usia lanjut, tidak menghalanginya untuk mengunjungi almamater-nya , Ponorogo, Jawa Timur. Selanjutnya juga berkunjung ke Pondok Tebu Ireng, dan yang terbaru adalah kunjungan Ustadz Abu ke sahabat lamanya, .

Siapakah Abu Bakar Ba’asyir?

Ba’asyir menamatkan sekolahnya sebagai santri di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur pada tahun 1959 dan lulus dari Fakultas Dakwah Universitas Al-Irsyad, Solo, Jawa Tengah tahun 1963.

Bersama Abdullah Sungkar, kemudian mendirikan Pondok Pesantren Al-Mu’min tahun 1972. Pondok pesantren itu berdiri diatas tanah seluas 8.000 meter persegi dan berlokasi di Jalan Gading Kidul 72 A, Desa Ngruki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Ustadz Ba’asyir yang memiliki nama lengkap Abu Bakar Ba’asyir Abu Bakar Abud yang akrab disapa Ustadz Abu, lahir di Jombang 83 tahun yang lalu, tepatnya pada 17 Agustus 1938.

Sepak terjang Ustadz Abu tidaklah main-main. Dia sudah banyak mencecap penangkapan, interogasi, vonis pengadilan hingga lantai dingin penjara sejak era pemerintahan Orde Baru.

Untuk pertama kali Ba’asyir mencicipi dinginnya lantai penjara pada tahun 1983. Ia bersama Abdullah Sungkar dituduh melakukan penghasutan untuk menolak asas tunggal Pancasila. Akibat perbuatannya itu, pengadilan Orde Baru Soeharto mengganjarnya dengan hukuman penjara sembilan tahun. Namun, pada 11 Februari tahun 1985, di tengah-tengah proses kasasi (saat itu berstatus tahanan rumah), Ba’asyir melarikan diri ke Malaysia melalui dan menjalani kehidupan sebagai pelarian politik selama kurang lebih 17 tahun.

Setahun setelah reformasi 1998, tepatnya pada tahun 1999, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir kembali ke Indonesia.

Pada usia 64 tahun, Ba’asyir terpilih sebagai Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) melalui Kongres I pada 8 Agustus 2002 yang digelar di Yogyakarta.

Baca Juga:   Teroris Marak Lagi, DPR Kritik BNPT

Sekembalinya Ba’asyir ke Indonesia ternyata menuai banyak pandangan dan komentar dari dunia internasional. Salah satunya dari Lee Kuan Yew. Pada 28 Februari 2002, Lee Kuan Yew yang saat itu menjabat sebagai Menteri Senior pada masa pemerintahan Perdana Menteri Goh Chok Thong, menyatakan Indonesia, khususnya kota Solo sebagai sarang . Salah satu teroris yang dimaksud adalah Abu Bakar Ba’asyir Ketua Majelis Mujahidin Indonesia, yang disebut juga sebagai anggota Jamaah Islamiyah.

Bahkan pada 23 September 2002, berdasarkan dokumen CIA dan keterangan Umar Al-Faruq, Majalah TIME menurunkan sebuah artikel bertajuk Confessions of an Al Qaeda Terrorist yang secara terang-terangan menyebut Abu Bakar Ba’asyir sebagai perencana peledakan di Masjid Istiqlal tahun 1999.

Akhirnya, pada Oktober 2002, Ba’asyir ditangkap dengan tuduhan dan pelanggaran imigrasi, vonis 1 tahun 6 bulan. Dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 30 April 2004, kembali ditangkap dengan tuduhan terlibat dalam kasus Bali dan bom Hotel JW Marriot, vonis 2,5 tahun penjara.

Meski sempat dibebaskan pada 14 Juni 2006, Ba’asyir masih terus diburu dengan kasus-kasus lainnya. Pada 16 Juni 2011, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menghukum Ba’asyir penjara 15 tahun karena terbukti terlibat pelatihan militer kelompok teroris di Aceh. Saat vonis itu Ba’asyir telah 10 bulan meringkuk di Rumah Tahanan Bareskrim .

Aktifitas Ustadz Abu Bakar Ba’asyir Usai Bebas dari Penjara

Tak perlu waktu lama, kurang dari dua bulan, selepas dari tahanan, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir langsung melakukan kunjungan silaturahmi ke beberapa pondok pesantren dan tokoh masyarakat, di antaranya ke Pondok Pesantren Darussalam Gontor dan Tebu Ireng pada Kamis, 11 Februari 2021.

Seperti dilansir dari Republika, pada hari tersebut, sekira pukul 05.30 WIB, rombongan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir bertolak dari pondok pesantren Al Mukmin Ngruki menuju pondok pesantren Darussalam Gontor dan tiba pada pukul 09.00. Rombongan Ustadz Abu, saat itu diterima langsung oleh KH Hasan Abdullah Sahal, Prof KH Amal Fathullah Zarkasyi dan KH Akrim Mariyat.

gontor
Kunjungan silaturahmi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ke Pondok Pesantren Gontor dan Tebu Ireng, Kamis, 11 Februari 2021. (Sumber: republika.co.id)

Selesai dari Gontor, sebelum Dzuhur, Ustadz Abu kemudian melanjutkan perjalanan menuju pondok pesantren yang usianya bahkan lebih tua dari Gontor (didirikan tahun 1926), yaitu , Jombang, Jawa Timur. Didirikan oleh tokoh Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1899.

Baca Juga:   Tanggapan Presiden Atas Aksi Penyerangan Mabes Polri

Tiba di lokasi sekira pukul 15.30 WIB. Langsung disambut hangat oleh Cicit KH Hasyim Asy’ari, KH Abdul Hakim Mahfudz yang akrab disapa dengan nama Gus Kikin.

Dalam siaran pers yang dikonfirmasi oleh Ustadz Abdur Rochim Ba’asyir, lawatan silaturahmi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir bertujuan untuk menjalin ukhuwah Islamiyyah dan ukhuwah imaniah, ini diharapkan akan menjadi tali penghubung dan pemersatu umat Islam di Indonesia yang dicintai.

Seperti berita sebelumnya dari elangnews.com, kunjungan Ustadz Abu selanjutnya terjadi pada tanggal 22 Februari 2021. Kali ini, beliau menemui sahabat lama seorang budayawan, Emha Ainun Najib yang lebih akrab dipanggil .

Pertemuan silaturahmi tersebut sempat menuai banyak pertanyaan dan dugaan dari masyarakat luas.

Kecurigaan publik tentu tidak berlebihan jika mengingat sepak terjang Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, ulama kharismatik dengan jumlah pengikut fanatik yang tidak bisa dikatakan sedikit.

Seiring jalannya waktu, tentu setiap manusia akan mengalami perubahan. Begitu juga dengan strategi dan taktik perjuangan.

Seperti komentar seorang pengamat terorisme Al Chaidar, sehari setelah Ba’asyir dinyatakan bebas, dikutip dari Republika, “Pada dasarnya bebasnya Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ini tidak punya efek yang terlalu berbahaya kepada pemerintah Indonesia pada saat ini karena boleh dikatakan Ustadz Ba’asyir sudah tidak memiliki pengaruh yang kuat lagi terhadap para pengikutnya. Sudah putus hubungan dengan Al Qaeda, ISIS, dan dia sekarang seperti floating leader (pemimpin yang melayang-layang). Pemimpin yang sudah ditinggalkan pendukungnya.”

Senada dengan Al Chaidar, Sidney Jones, yang pernah mengkritik keras terkait pembebasan Ba’asyir, menulis, “Saya kira tidak akan ada dampak yang signifikan sama sekali, karena sudah lama Ba’asyir dipenjara. Saat ini dia keluar penjara tetapi gerakan ekstrimis sudah berkembang dengan cara yang tidak tergantung pada beliau.”

Sebagai sebuah bentuk penghormatan dan kecintaan pada seorang ulama, sekaligus pengingat kita bersama, sepenggal ucapan yang pernah terlontar 17 tahun silam di depan para santri pondok pesantren Ngruki, Solo, sehari sebelum vonis hukuman penjara 15 tahun terhadap Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Emha Ainun Najib mengatakan, “Demi Allah perkenankanlah saya memberi saran kepada Anda semua, hendaklah Anda mencintai orang-orang yang menindas Anda, yang melalimi Anda, yang berbuat tidak adil kepada Anda…” (trd/red)