Sepakbola di Masa Pandemi Covid-19, Ini Catatan Minus Perhelatan Piala Menpora
Neta S. Pane mendesak Kapolri Listyo Sigit Prabowo mematuhi instruksi pemerintah tsb dan tidak mengeluarkan surat ijin

ELANGNEWS.COM, Jakarta– Perhelatan Piala Menpora mendapatkan tanggapan beragam dari masyarakat, ada pro dan kontra. Pertandingan akan digelar dimasa masih tingginya pandemi . Ada juga sebab dan catatan lain yang menyangkut ketidak profesionalan dan Menpora dalam rencana penyelenggaraan event tersebut.

“Untuk itu Kapolri Listyo Sigit Prabowo diharapkan tidak mengeluarkan ijin Piala Menpora, apalagi pemerintah melalui Mendagri sudah mengeluarkan instruksi perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).” kata Neta S Pane selaku Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) dalam rilis yang diterima elangnews.com pada Rabu sore (10/3).

Neta dalam rilisnya, mendesak Kapolri Listyo Sigit Prabowo mematuhi instruksi pemerintah tsb dan tidak mengeluarkan surat ijin Piala Menpora.

“Sebagai Kapolri, Sigit harus menghargai PPKM yang dikeluarkan pemerintah melalui Mendagri Tito Karnavian yang nota bene seniornya Sigit.” Ungkapnya lebih jauh.

Ia juga menambahkan, ada sembilan alasan kenapa Piala Menpora harus dibatalkan. “Pertama, pertandingan itu semula direncanakan berlabel Piala Presiden, namun pihak Istana menolak.” ujarnya dalam keterangan rilis.

Baca Juga:   Pelatih, Pemain, dan Suporter Siap Dukung Piala Menpora

Lalu, lanjut Neta event Piala Menpora ini akan berlabel Piala Kapolri dan juga ditolak. “Akhirnya diberi nama Piala Menpora.” ucapnya.

Poin kedua, lanjut Pane “Klub legendaris Persipura mundur dari Piala Menpora karena Persipura menganggap PT LIB tidak profesional dan tidak jujur”, namun Pane tidak mengurai lebih detail apa yang menyebabkan Persipura berpandangan minor pada perhelatan yang akan rencana akan diusung pada bulan Maret 2021 ini.

Ketiga, ada sebanyak 17 pemain PSM belum dibayar gajinya untuk musim 2020 lalu dan bagaimana mereka bisa bermain tanpa digaji. Keempat, ada 6 klub lain di liga 1 yang juga sebagian pemainnya belum dibayar gajinya di musim 2020 lalu.

Kelima, Menpora tidak transparan mengenai biaya turnamen dan jika menggunakan uang negara harus diaudit BPK dan turnamen ini harus diplototi KPK agar tidak terjadi korupsi, mengingat dana bansos saja dikorupsi.

Baca Juga:   Pelatih, Pemain, dan Suporter Siap Dukung Piala Menpora

Keenam, dipastikan 70 persen klub yg ikut Piala Menpora, pemainnya dibayar secara tarkam (jauh di bawah gaji pemain profesional).

Ketujuh, patut dicurigai pemain asing di Piala Menpora belum mendapatkan KITAS dan jika ini terjadi itu merupakan pelanggaran hukum.

Kedelapan, dipastikan tidak satu pun pemain Piala Menpora diasuransikan.

Kesembilan, patut diduga para pemain Piala Menpora tidak bisa membayar pajak penghasilan (PPh) karena penghasilannya setara Tarkam.

Lebih lanjut Neta memastikan bahwa Piala Menpora adalah turnamen kelas ecek ecek, yang sama sekali tidak berdampak pada prestasi sepakbola nasional, yang ada justru berpotensi menimbulkan krumunan masa dan menjadi klaster baru Covid 19 dan melanggar instruksi Mendagri tentang PPKM.

“Seharusnya Menpora, PSSI, dan komunitas sepakbola harus mendorong adanya konsolidasi persebakbolaan nasional agar nasib dan prestasi sepakbola nasional serta semua kru yang terlibat bisa lebih baik lagi dan tidak dieksploitasi demi kepentingan orang orang tertentu.”pungkasnya. (RAR/ARSP)