Brendan Rodgers
Brendan Rodgers alias Buck Rodgers mantan pelatih Liverpool berkebangsaan Irlandia Utara (source: culturenorthernireland.org)

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Ya! Seperti yang sudah-sudah, sepakbola, -sebagaimana takdir permainan ini- tak pernah henti merefleksikan hidup dan kehidupan. Sebut saja satu nama, Brendan Rodgers. Manajer klub sepak bola papan atas, Liverpool. Pada musim liga 2014, The Reds dihajar habis oleh Crystal Palace di Selhurst Park. Tak tanggung-tanggung, 3 – 1. Skor yang memalukan. Mereka pulang dengan kepala tak lagi tegak. Sejarah kelam sepanjang ingatan. Dan seperti kita tau, pada tahun 2015, akhirnya Rodgers dipecat dari The Reds dan posisinya ditempati oleh Jurgen Klopp.

Usianya genap 48 tahun pada 26 Januari yang lalu. ‘Buck Rodgers’ Si Bocah Irlandia Utara itu memulai kariernya sebagai pemain sepak bola posisi bek di klub Ballymena United sebelum berpindah ke Reading, di mana Rodgers didiagnosis dengan sebuah penyakit lutut genetik yang membuatnya terpaksa pensiun pada umur 20 tahun. Usia emas bagi seorang atlet.

Baca:  Tottenham vs Arsenal: Spurs Bertekad Lanjutkan Dominasi

Satu tahun setelah ibunya wafat pada Juni 2010, ayahnya menyusul menghadap Sang Pencipta pada bulan September 2011 akibat kanker. Demi penghormatan kepada kedua orang tuanya, Rodgers bergabung dengan sebuah tim yang mewaliki Liga Sepak Bola untuk mendaki Gunung Kilimanjaro, Tanzania, Afrika, salah satu gunung tertinggi di dunia dengan bantuan lembaga Marie Curie Cancer Care.

Semua orang bisa begitu menawan ditiap perayaan kemenangan. Namun, sedikit saja yang tetap menawan kala kekalahan menghujam. Adalah Brendan Rodgers salah seorang yang tetap menawan itu. Memang harus begitu, pemimpin mesti tahu, saat kalah pun mereka harus tetap memimpin. Tak hilang komitmen dan keberanian.

Memimpin orang-orang yang digilas kekalahan tentu mengandung kadar kerumitan yang tak gampang. Ditengah-tengah kesedihan dan penderitaan yang merangsek tanpa kenal ampun itu, Rodgers mengucapkan kata-kata indah yang akan dikenang oleh sejarah, ‘kami kebobolan gol yang menyedihkan. Namun tak ada seorangpun yang patut disalahkan. Saya yang bertanggungjawab penuh atas hasil tersebut.’ Mengakui kesalahan, lalu bersegera bangkit memperbaikinya. Tak banyak pemimpin mampu berlaku demikian.

Baca:  Liverpool 1-4 Manchester City: Performa Allison Yang Tidak Seperti Biasanya

Pemimpin sejatinya tak menyakiti. Memberikan kebahagiaan bukan penderitaan. Memberikan harapan bukan keputusasaan. Mengembangkan bakat bukan mengkerdilkan. Membangkitkan yang jatuh bukan menundukkan. Perjuangan otentik bukan kosmetik. Mengedepankan program bukan bualan.

Leiden is lijden!”. Memimpin adalah Menderita. Pepatah kuno Belanda itu dikutip oleh Mohammad Roem dalam karangannya berjudul ‘Haji Agus Salim, Memimpin adalah Menderita’. Sepertinya sungguh tepat kata-kata itu menggambarkan keteguhan seorang pemimpin. Ajek menghadapi beragam kritik kaum penagih-janji hingga para ahlul-bully. Argumentasi yang memunggungi solusi.

Tahun 2019, Brendan Rodgers berlabuh di Leicester City sebuah klub semenjana yang pada musim 2015-2016 menjadi kampiun Liga Inggris. Bekerjalah sekeras-kerasnya, Rodgers. Jangan mandeg. Pengabdian itu tumbuh berkembang dalam kesederhanaan kemanusiaan. Majukan program bukan bualan. [rg/trd/red]

Berita Olahraga : Brendan Rodgers dan Jalan Pemimpin Lapangan Hijau, ElangNews.com.