Bendera Tengkorak St. Pauli Berkibar Bangga di Stadion Millerntor

Bendera hitam bergambar tengkorak dengan sepasang tulang bersilang menjadi kebanggaan tak terbilang bagi suporter militan St. Pauli yang bermakna “perlawanan orang miskin kepada mereka yang kaya.” [trd]

SEPAKBOLA, sudah menjadi takdirnya, memberikan banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan. Ketika pandemi dan resesi memantik brutalitas perilaku koruptif dan pencitraan kosong para menteri, justru penduduk distrik St. Pauli, Hamburg, Jerman gotong royong menyisihkan sebagian rezeki untuk mempertahankan klub sepakbola tercintanya, St. Pauli Football Club.

Usai memenangkan gugatan atas hak kepemilikan logo tengkorak, 1 Januari 2016, Presiden klub, Oke Gottlich, menegaskan kembali prinsipnya bahwa St. Pauli akan tetap menjadi klub sepakbola yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kepedulian sosial. “Kami akan selalu mengambil sikap melawan fasisme, rasisme dan segala bentuk kejahatan kapitalisme. Selalu memerhatikan kaum lemah dan miskin, karena semua itu sungguh-sungguh penting bagi kami. Itu mengalir dalam darah kami.” Nada-nada dakwah sosialis terus menggema diantara 27.612 kaum buruh, mahasiswa, kuli pelabuhan, nelayan kecil, bromocorah, wajah penduduk St. Pauli.

Sekejap, stadion Millerntor, markas St. Pauli dengan iringan musik Hells Bells dari Band AC/DC gegap gempita menyambut kembalinya bendera tengkorak. Dia tak sekadar kain hitam bergambar tulang belulang, dia adalah simbol “perlawanan orang miskin kepada mereka yang kaya.” Tak sedikit mitos yang menyertainya. Sebut saja Klaus Stortbeker, bajak laut terkenal di Jerman hingga tokoh musisi legendaris sekaligus aktivis anti fasis, Doc Mabuse, pengusung aliran punk Hamburg, dipercaya sebagai sumber inspirasi penciptaan logo tengkorak St. Pauli.

Tak berlebihan rasanya untuk menyebut Buccaneers of the League (Bajak Laut dari Liga), julukan untuk St. Pauli Football Club, sebagai epos nilai-nilai progresif sepak bola dunia; solidaritas, kolektivitas, kesetaraan, anti-fasisme, anti-komersialisasi sepak bola. Prinsip mereka yang tak pernah bergeser, setidaknya sampai hari ini, adalah ‘haram hukumnya menjual klub kepada simbol-simbol kapitalisme’. Sebuah sikap yang cukup rumit ditengah-tengah perkembangan industri sepak bola. Meski tak sementereng klub sekotanya, Hamburger SV, tapi St. Pauli merupakan mercusuar perlawanan atas kapitalisme-sepak bola.

Baca:  Nasib Revisi UU Pemilu di Tangan Jokowi

Dalam derajat agak berbeda, mengingatkan kita kepada epos serupa di jazirah Britania Raya, Glasgow Celtic FC. Dimana bendera Palestina berkibar megah di stadion Celtic Park berkapasitas 60.000 orang. Aksi solidaritas Palestina bertajuk ‘Kibarkan bendera untuk Palestina, untuk Celtic dan untuk Keadilan’. Rentetan aksi Celtic berujung sanksi itu sudah membukukan total denda US$161.000 atau setara Rp2,1 miliar. Tapi setidaknya aksi tersebut menjadi sebuah pencapaian solidaritas luarbiasa dari sebuah klub yang secara tradisional di identifikasikan dengan komunitas katolik Glasgow.

Sang Bajak Laut, secara resmi berdiri pada 15 Mei 1910. Pada masa Reich Ketiga, St. Pauli terkena dampak reorganisasi sepak bola oleh rezim Adolf Hitler, hal itu menyebabkan St. Pauli harus terdegradasi. St. Pauli kemudian kembali bermain di Gauliga (Divisi Utama Liga Jerman pada masa Hitler) tahun 1940 hingga berakhirnya Perang Dunia II. Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, St. Pauli kemudian mengikuti kompetisi Oberliga Nord, kompetisi tertinggi sepak bola Jerman bagian Utara pasca-Nazi pada 1947. Tahun 1963, St. Pauli mendapatkan promosi ke Bundesliga, tapi pada 1974, St. Pauli terdegradasi ke kasta kedua Bundesliga, hingga hari ini.

Era kepemimpinan Presiden klub Corny Littman (2002-2010) penggemar St. Pauli menyentuh angka 11 juta di seluruh dunia, serta merchandise mereka laku senilai US$8,6 juta setiap tahunnya. Capaian ini mendapuk St. Pauli sebagai klub dengan penjualan merchandise tertinggi kedua setelah klub ‘borjuis’ Munchen.

Baca:  Growth From Bellow, Mengukur Peluang Perempuan Dalam Politik

Sebagai klub dengan basis suporter yang melekatkan dirinya kepada idealisme kiri tak menghilangkan sedikitpun kepeduliannya atas isu-isu lingkungan, tempat dimana klub tumbuh dan berkembang. St. Pauli mendeklarasikan diri sebagai musuh utama dari kapitalisme sepak bola modern [mazhab yang menghendaki perubahan instan dengan suntikan dana dari investor asing ataupun investor kapitalis dalam negeri sendiri].

Ketimbang menjadi pendukung perbudakan modern dengan membeli pemain-pemain bintang bergelimang dollar, St. Pauli lebih memilih bergelimang pemain-pemain lokal bertalenta dan pemain luar negeri seperti Leart Paqarada dari Kosovo, Borys Tashchy dari Ukraina, Luis Coordes Republik Dominika, Sebastian Ohlsson Swedia, James Lawrence Wales, Rodrigo Zalazar Uruguay, Guido Burgstaller Austria, dan Afeez Aremu dari Nigeria.

Ketimbang tunduk di bawah simbol-simbol kapitalisme, St. Pauli lebih suka memungut sampah, mendaur ulangnya, kemudian menjualnya, dan hasilnya diserahkan seluruhnya pada klub. Memaknai kemandirian, gotong royong dan solidaritas hingga ke tulang-tulang paling dalam.

St. Pauli adalah mimpi buruk bagi kapitalisme sepak bola modern. Menjadi hantu bagi klub sekotanya Hamburger SV, atau klub borjuis lainnya seperti Bayern Munchen, Borussia Dortmund, Bayer 04 Leverkusen, dan tak ketinggalan TSV 1860 Munchen, klub ‘kanan’ yang disinyalir berbasis pendukung Reich Ketiga.

St. Pauli selamanya menjadi musuh fasisme dan kapitalisme sepak bola modern.***

[trd]

Referensi:

  1. The Politics and Culture of FC St. Pauli: from leftism, through antiestablishment, to commercialization. https://libcom.org/files/st-paili-2013.pdf
  2. https://www.libero.id/detail/2522/kisah-klub-punk-st-pauli-tim-sepakbola-paling-ideologis-di-dunia.html
  3. https://www.antaranews.com/berita/1841080/st-pauli-swaproduksi-jersey-mulai-musim-depan
  4. Daftar Skuad Pemain FC St. Pauli 2020/2021 http://www.idezia.com/2018/04/GER.FC.St.Pauli.html
  5. https://tirto.id/st-pauli-klub-sepakbola-musuh-sejati-kaum-fasis-cJAU
  6. https://en.wikipedia.org/wiki/FC_St._Pauli

 

Berita Olahraga : Bendera Tengkorak St. Pauli Berkibar Bangga di Stadion Millerntor, ElangNews.com.