'Supersemar' Ada di Gedung Pertamina
Kompleks Wisma Tugu. (Sumber: Parama Matra Widya)

Elangnews.com, Jakarta – Surat Perintah Sebelas Maret () menjadi tonggak peralihan rezim orde lama ke orde baru. Pada 55 tahun lalu, tepatnya 11 Maret 1966, Presiden memberikan mandat kepada melalui surat sakral tadi, untuk mengambil tindakan yang dianggap penting demi mengatasi gejolak Gerakan 30 September 1965.

Setelah Supersemar diteken Soekarno, Soeharto langsung membuat kebijakan. Mulai dari pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) dan afiliasinya, penangkapan 15 menteri yang berkaitan dengan G30S/PKI dan memberangus unsur PKI di MPRS dan lembaga negara lainnya.

Kebetulan Soeharto saat itu menjabat sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat, sebelum akhirnya menggantikan Soekarno menjadi Presiden Indonesia kedua.

Sampai sekarang, Supersemar masih menjadi kontroversi. Banyak yang beranggapan, Supersemar yang ada saat ini tidak autentik. Anggapan lain, Soekarno menandatangani Supersemar karena adanya tekanan dari militer.

Naskah Supersemar yang pernah beredar selama ini ada tiga versi. Ada versi Pusat Penerangan (Puspen) TNI AD, versi Sekretariat Negara (Setneg) dan ketiga versi Akademi Kebangsaan. Hanya saja, semuanya tidak autentik. Hingga kini, naskah Supersemar asli, masih misteri.

Baca Juga:   Kilang Minyak Balongan Milik Pertamina Terbakar Hebat, Ratusan Korban Dievakuasi

Di tengah kontroversi keberadaan Supersemar asli, ternyata ‘Supersemar’ ada di Gedung Wisma Tugu Pratama, milik PT (persero). Gedung ini terletak di jalan Hajjah Rangkayo Rasuna Said, Kawasan Kuningan Jakarta Selatan.

Jika melewati Jalan H.R. Rasuna Said, sekilas Wisma Tugu sama seperti gedung-gedung perkantoran yang ada di sekitarnya. Hanya saja, jika sedikit jelih, Wisma Tugu memiliki desain angka 11 dan huruf M.

Gedung Wisma Tugu ada dua, Wisma Tugu I dan Wisma Tugu II. Mengutip tulisan Urip Yustono dan Vera Trisnawati, berjudul Wisma Tugu: Gedung Miring Yang Sarat Simbol dan Sarat Makna, yang terbit di Majalah Konstruksi edisi Mei 1988, kedua gedung ini dibangun di atas lahan seluas 13.400 meter persegi.

Wisma Tugu I berbentuk huruf M, melambangkan simbol Bulan Maret. Sedangkan Wisma Tugu II, berbentuk angka 11, yang melambangkan tanggal 11.  “Itu 11 Maret simbol Supersemar,” kata seorang pekerja yang berkantor di Wisma Tugu.

Baca Juga:   Anggota DPR Fraksi Gerindra Diduga Terlibat Garong 21,5 Ton Solar

Jika dilihat dari sejarahnya, Wisma Tugu dibangun dua tahap. Tahap pertama pembangunannya berlangsung selama 16 bulan. Kontraktornya, PT Pembangunan Perumahan. Presiden Soeharto meresmikannya di Maret 1988.

Tahap kedua, pembangunannya berlangsung selama 11 bulan. Lagi-lagi, Presiden Soeharto meresmikannya di Maret tahun 1990. Pemerintah ketika itu harus merogoh kocek sekitar Rp14,3 miliar. Jika mengikuti inflasi, nilai tersebut setara Rp204 milyar per 2020.

Tim arsitek Wisma Tugu, yaitu Parama Matra Widya (PMW). Sebelum menggarap Wisma Tugu, PMW pernah mendapat tugas merancang renovasi Stadion Madya Senayan Jakarta, tempat latihan dan pertandingan olahraga atletik. PMW juga diketahui terafiliasi dengan Mohamad “Bob” Hasan, orang dekat Soeharto.

Apakah naskah asli Supersemar ada di gedung ‘Supersemar’ itu?
(syah/red)