UU ITE
Ilustrasi gambar oleh suray/elangnews.com

Elangnews.com, Jakarta – Survei yang dipublikasikan ternyata tidak cuma soal tokoh yang digadang-gadang menjadi calon presiden. Ternyata banyak sekali subjek yang diteliti dari mulai soal radikalisme, lembaga yang dipercaya, , Pendidikan Moral Pancasila (PMP) atau Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan (PPKn) hingga soal UU Informasi Transksi Elektronik (ITE).

Dari hasil survei ditemukan hal yang cukup mengejutkan. Dari 1.200 responden yang diwawancarai lewat telepon sebanyak 41,6%, menilai bahwa tindakan saling melaporkan dengan dasar itu tidak baik. Namun, sekitar 32,3% menilainya baik, dan 26,1 tidak menjawab.

Baca Juga:   Pasangan Mesum Bogor Sudah Jual 26 Video Porno

“Pada berbagai kategori sosio-demografi, lebih banyak yang menilai tindakan saling melaporkan itu tidak baik. Namun, pada kelompok etnis Jawa dan Madura, wilayah Jateng dan Jatim, lebih banyak yang menilai baik,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi dalam paparan daring hasil survei, Minggu (21/3/2021).

Namun tidak dijelaskan kenapa anak muda Jawa cenderung bersikap permisif dalam kasus saling melaporkan. Inilah yang menjadi kritik pada beberapa bagian hasil survei Indikator Politik.

Analis Politik Rocky Gerung mengggugat hasil survei Indikator Politik yang tidak menjelas kepenasaranan publik. Misalnya dalam bagian anak muda mayoritas atau sekira 65% memuji kinerja . Sementara mayoritas anak muda Jakarta menganggap kinerja Jokowi buruk.

Baca Juga:   Konglomerat Hariyadi Sukamdani Minta Jumhur Dibebaskan

“Ini harus dijelaskan kenapa. Jangan sampai ini menggiring bahwa karena di Jakarta banyak kadrun dan di Jawa Tengah banyak cebong,” kata Rocky satire.

terkait dengan wacana , mayoritas anak muda (57,3%) berpendapat bahwa UU ITE perlu direvisi untuk menjamin kebebasan masyarakat dalam mengemukakan pendapat. S

“Sekitar 24,1% berpendapat UU ITE tidak perlu direvisi agar orang tidak berlaku sesukanya. Sisanya 18,6% tidak menjawab,” kata Burhanuddin. (Yat/red)