Puisi
Ilustrasi gambar: Elangnews.com/Suray

“Ada yang berubah ada yang bertahan karena zaman tak bisa dilawan, yang pasti kepercayaan harus diperjuangkan.”

ELANGNEWS.COM, Jakarta Begitulah sepenggal bunyi syair karya seorang penyair Indonesia masyhur namun terlalu cepat menghadap Sang Pencipta, di usianya yang belum genap 27 tahun.

Tak berlebihan rasanya untuk menyebut Chairil Anwar sebagai salah satu dari jutaan nama sastrawan dunia popular lainnya.

Sebut saja, Gabriel Garcia Marquez sastrawan Amerika Latin penerima penghargaan Nobel 1982. Miguel Angel Asturias dari Guatemala yang pernah diganjar dengan penghargaan Lenin Peace 1966 oleh Rusia dan Nobel di bidang Sastra pada tahun 1967. Atau nama penyair lain yang tak asing, yaitu Pablo Neruda dari Chile, yang oleh Gabriel dipanggil dengan sebutan ‘penyair terbesar di Abad ke-20 dalam berbagai bahasa’. Neruda menerima penghargaan Nobel pada 1971.

Setiap tahunnya atau diperingati pada tanggal , yang dalam sejarahnya diputuskan melalui sebuah resolusi dari Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, disingkat tahun 1999.

Namun baru pada tahun 2000, untuk pertama kalinya, 21 Maret diperingati sebagai Hari Puisi Sedunia.

Tujuan perayaan ini, seperti yang dinyatakan dalam deklarasi UNESCO, untuk “memberikan pengakuan dan dorongan baru bagi gerakan puisi nasional, regional, dan internasional”.

Mereka percaya bahwa puisi memiliki peran penting dalam sejarah, seni dan budaya masyarakat dari zaman dahulu hingga sekarang. UNESCO berharap agar semangat mengebu-gebu yang ditorehkan dalam bait-bait puisi dapat dihidupkan kembali. Mereka juga menegaskan agar hubungan puisi dan karya seni lain seperti drama, tari, musik, lukisan tidak lekang dimakan usia, kemudian hilang begitu saja.

Baca Juga:   AMSI dan KIP Teken MoU Peran Media Siber Dorong Keterbukaan Informasi Publik

Sebagian kita mungkin bertanya, apa itu puisi?

Menurut Umberto Eco, penulis novel terkenal The Name of The Rose menyebut bahwa puisi bukanlah masalah perasaan, ini adalah masalah bahasa. Ini adalah bahasa yang menciptakan perasaan.

Hal senada juga diungkapkan Mark Doty, penyair Amerika Serikat penerima penghargaan National Book Award di bidang Puisi tahun 2008 atas karyanya yang berjudul My Alexandria. Menurut Mark Doty, Puisi adalah penyelidikan, bukan ekspresi dari apa yang Anda ketahui.

Selamat Hari Puisi Sedunia! Secuil Sejarah dan Khazanah dalam Islam
Logo Hari Puisi Sedunia UNESCO. (Foto: un.org)

Sedangkan dalam khazanah Islam, sebuah artikel menarik ditulis Abdul Muiz, seorang dosen Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura bertajuk “Puisi Dalam Perspektif Hadis Nabi” (Kajian hadis Kontradiksi) dalam Jurnal Reflektika (Vol.12, No. 12, Agustus 2016).

Abdul Muiz menulis bahwa dari paparan hadis-hadis yang dia pelajari menunjukkan bahwasanya shair dan berpuisi dalam pandangan hadis terdapat dua hal: pertama, bolehnya puisi dan ber-puisi; kedua, tidak dibolehkannya puisi dan berpuisi.

Kemudia dia mengutip dua hadis. Pertama, dalam Riwayat Rasulullāh Saw mengemukakan bahwasanya terdapat kandungan hikmah dibalik bait-bait puisi sebagaimana sabda Beliau: Dari Ubay bin Ka’ab bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya terdapat hikmah diantara (bait-bait) puisi.”

Adapun hadis yang menerangkan akan ketidak bolehan puisi dan ber-puisi adalah: Dari Ibnu Umar dari Nabi Saw beliau bersabda: “Lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan puisi.”

Baca Juga:   AMSI dan KIP Teken MoU Peran Media Siber Dorong Keterbukaan Informasi Publik

Lebih lanjut, Abdul Muiz menulis bahwa jika melihat validitas hadis-hadis yang dijadikan hujjah akan kebolehan dan ketidak bolehan dalam puisi dan berpuisi, mayoritas diambil dari kitab sahih al-Bukhary dan ṣahih Muslim yang mana ijma’ al-ulama mengatakan bahwa semua hadis-hadis yang terdapat pada kedua kitab itu dihukumi sahih (Periksa: http://ejournal.idia.ac.id/index.php/reflektika/article/view/31/25#).

Masyhur kumpulan puisi al-Matsnawi al-Maknawi ditulis oleh seorang pendiri Tarekat Mevlevi di Turki, dia bernama Maulana Muhammad bin Hasin al-Khattabi al-Bakhri atau kita lebih mengenalnya dengan Jalaluddin Rumi. Dalam khazanah sastra Islam, nama Jalaluddin Rumi tercatat dengan tinta emas. Dialah salah satu penyair hebat kebanggaan dunia Islam.

Berikut ini puisinya yang berjudul “Kembali Pada Tuhan”:

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.

Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak, maka merangkaklah kepada-Nya!

Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyuk, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik dan tanpa keyakinan.

Karena Tuhan, dengan rahmat-Nya akan tetap menerima mata uang palsumu!

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan, maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.

Begitulah caranya!

Wahai pejalan! Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji, ayolah datang, dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah berfirman: “Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk ke dalam jurang, ingatlah kepada-Ku, karena AKU-lah jalan itu.”

(trd/red)