Sekira 8.424 Warga NTT Mengungsi
Dampak bandang di . (Foto: )

Elangnews, Jakarta – Cuaca ektrem tropis yang menyebabkan dan tanah longsor di Nusa Tenggara Timur () menyebabkan 2.019 kepala keluarga atau sekira 8.424 warga mengungsi.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati terus memutakhirkan data dari kaji cepat di lapangan.

“Warga yang mengungsi tersebar di lima kabupaten di wilayah Provinsi NTT,” ujar Jati, Senin (5/4/2021) malam.

Menurut Jati, pengungsian terbesar berada di Kabupaten Sumba Timur dengan jumlah 7.212 jiwa (1.803 KK) menyusul 958 orang, Rote Ndao 672 (153 KK), Sumba Barat 284 (63 KK) dan 256.

Baca Juga:   Mencari Oknum Penjual Pulau, Tanggung Jawab Pemerintah Pusat atau Daerah?

“Total korban hilang mencapai 72 orang, dengan rincian Kabupaten Alor 28 orang, Flores Timur 23, dan Lembata 21,” ujarnya.

Sekaitan dengan masih ada kasus dan angka di NTT cenderung menurun, Kepala BNPB Doni Monardo tetap mengingatkan pemerintah daerah dan relawan untuk berhati-hati dalam melakukan evakuasi.

“Delapan bulan pertama, kasus Covid-19 relatif rendah. Namun setelah libur Natal dan Tahun Baru pada Desember dan Januari, kasus Covid-19 meningkat tinggi,” ujarnya.

Baca Juga:   [OPINI] Birokrasi Sakit di NTT dan Tangisan Weber

Doni mengingatkan kepada seluruh daerah untuk melakukan langkah-langkah antisipasi, seperti memisahkan kelompok rentan dan pemuda. Dikatakan Doni, model tersebut diterapkan saat penanganan pengungsian pascagempa Sulawesi Barat beberapa waktu lalu.

“Aadanya pemisahan kelompok rentan, seperti lanjut usia, wanita hamil, balita dan anak-anak dari kelompok pemuda. Saya berharap konsep ini dijalankan untuk penanganan warga yang mengungsi di wilayah NTT,” ujarnya. (Yat/Red)