Rocky Gerung: Qodari Sepertinya Disuruh Menyingkirkan Kandidat Lain
Analis politik dan filsuf . (Foto: Akurat)

Elangnews.com, Jakarta – Analis politik Rocky Gerung mengindikasikan Direktur Eksekutif IndoBarometer M. Qodari dengan memunculkan wacana , sebagai suruhan alias pesanan. Dalam istilah Rocky, IndoBarometer Qodari telah menjadi KSP (Kantor Survei Presiden).

Rocky curiga karena dia langsung menyebut pasangannya untuk Pemilu Pilpres ke depan, -Prabowo dengan alasan dapat menciptakan stabilitas.

“Ini artinya potensinya ada pada Jokowi dan Prabowo. Ini juga artinya calon lain dianggap tidak akan menghasilkan stabilitas. Anies Baswedan tidak menghasilkan stabilitas, (Agus Harimurti Yudhoyono) tidak menghasilkan stabilitas. Sebutkan lagi siapa lagi. Ridwan Kamil disingkirkan, Ganjar Pranowo disingkirkan,” kata Rocky dalam perbincangan di Hersubeno Point, Selasa (16/3/2021).

Baca Juga:   Mantan Ketua MK Ingatkan Jangan Terpancing Jabatan Presiden Tiga Periode

“Kelihatannya Qodari disuruh untuk menyingkirkan kandidat lain,” ujarnya.

Kalau tetap mengajukan Jokowi-Prabowo sebagai pasangan, kata Rocky, Qodari juga seharusnya menggunakan formulasi lain atau di balik pasangan Prabowo-Jokowi. “Kan konsepnya stabil bila berdua berpasangan Jokowi-Prabowo dan diputar juga Prabowo-Jokowi. Konsepnya stabil juga. Malah tidak dituding jadi ,” ujarnya setengah satire.

“Tapi demi tiga periode maka pasangannya menjadi Jokowi-Prabowo,” tegasnya.

Baca Juga:   Terkait Situasi Myanmar, Jokowi Desak Segera Hentikan Kekerasan

Rocky menyarankan kepada Qodari biar lebih cerdas seharusnya yang diajukan itu pasangan Prabowo-Jokowi. “Bila di tengah jalan Prabowo tidak bisa melanjutkan pemerintahan Jokowi naik menjadi Presiden lagi. Kan enak tuh,” ujarnya.

Rocky menyebutkan boleh saja Jokowi membantah termasuk menyebutkan wacana presiden tiga periode itu menjerumuskan dan menampar wajahnya. Tapi,Rocky menyarankan publik untuk menyikapinya dengan pikiran terbalik.

“Dulu Presiden Sukarno juga pernah mengatakan jangan presiden seumur hidup karena berbahaya bagi demokrasi,” kata Rocky.

“Watak (tidak konsisten) itu masih ada sampai sekarang,” tambahnya. (Yat/Red)