Profil Konglomerat Islam yang Meminta Jumhur Dibebaskan
Ketua Umum dan . (Foto: Jakarta Globe)

Elangnews.com, Jakarta – Ada yang mengejutkan dalam persidangkan dengan terdakwa aktivis Jumhur Hidayat di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (22/3/2021). Saksi yang didatangkan jaksa penuntut umum (JPU) yang sedianya untuk memberatkan terdakwa justru malah sebaliknya.

Pengusaha ternama yang memiliki jaringan hotel Sahid Jaya Internationa,l Hariyadi BS Sukamdani justru meminta jaksa dan majelis hakim untuk membebaskan Jumhur yang menjadi terdakwa dalam unjuk rasa penolakan pengesahan UU Omnibus Law Ciptakerja.

Terdakwa Jumhur didakwa Pasal 14 dan 15 UU Hukum Pidana tahun 1946 atau pasal 28 UU Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

Hariyadi dalam kesaksiannya menyatakan tidak merasa dihina atas pernyataan Jumhur dengan pernyataan ‘pengusaha rakus’. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini merasa tidak terusik karena tudingan itu tidak ditujukan kepada dirinya.

“Kalau Mas Jumhur menyatakan ‘Bapak Hariyadi pengusaha rakus’, baru saya tersinggung,” ujarnya.

Hariyadi yang juga ketua umum Perhimpunan Hotel Republik Indonesia (PHRI) ini dikenal sebagai pengusaha yang cukup lantang dan kritis. Pernyataannya juga lugas termasuk menyikapi soal isu mutakhir seperti dampak pandemi terhadap pertumbuhan industri pariwisata.

Untuk pariwisata misalnya Hariyadi meminta pemerintah fokus terlebih dahulu di Bali dan Kepulauan Riau. Bali dan Kepri adalah dua gerbang wisata terbesar di Indonesia selain Jakarta. “Pengendalian Covid-19 di kedua daerah itu juga sangat bagus,” ujarnya.

Presiden Direktur Sahid Jaya International Tbk ini adalah putra Sukamdani Sahid Gitosardjono. Sukamdi dikenal sebagai pengusaha muslim yang peduli dengan pendidikan konvensional dan juga pesantren.

Sikap sang ayah ini menurun kepada Hariyadi sampai-sampai membangun hotel di negara muslim pecahan Uni Soviet, Uzbekistan. Alumnus Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret Solo ini tidak sekadar bisnis membangun hotel mewah di sana melainkan ada unsur sejarah Islam yang sangat kental dan bermakna.

Bukhara dan Samarkand merupakan wilayah di negara Uzbekistan yang kaya dengan peninggalan kejayaan peradaban Islam. Hariyadi membangun Hotel Sahid Zarafshon di Kota Bukhara dan Hotel Sahid Al-Bukhori di sekitar kompleks makam Imam Bukhori di Kota Samarkan.

Imam Bukhori dikenal sebagai penghapal hadis paling terkenal kesahihannya padahal tak pernah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dan makamnya ditemukan pemerintah Uni Soviet atas permintaan Presiden Soekarno sebagai syarat kunjungan ke negeri komunis itu.

Itulah sosok Hariyadi yang terlihat kalem tetapi kalau sudah bicara sangat tegas dan lugas.(Yat/Red)