abe
Melalui Kongres XX yang digelar di enam zona, terpilih sebagai Ketua Umum PB Periode 2021-2023. (Foto: nu.or.id)

“Di luar negeri, dia tercatat sebagai salah satu inisiator pendirian Pengurus Cabang Internasional (PCI) PMII di tiga negara, yakni Maroko, Taiwan, dan Jerman”

ELANGNEWS.COM, Balikpapan – Untuk pertama kali di masa pandemi, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar kongres XX di enam zona, yakni Balikpapan, Samarinda, Batam, Bekasi, Lombok, dan Kendari.

Forum tertinggi organisasi tersebut berlangsung cukup alot. Diikuti oleh empat orang kandidat, dengan dua putaran.

Muhammad Abdullah Syukri, atau akrab disapa , akhirnya berhasil meraup 130 suara dari 242 suara yang diperebutkan di putaran kedua, mengalahkan saingan terkuatnya Muhammad Syarif Hidayatullah yang hanya memperoleh 112 dukungan.

Sedangkan, dan Faikar Romdlon, keduanya sama-sama tidak memperoleh suara.

Gus Abe kelahiran Cirebon 5 Oktober 1991 mengawali pergerakannya di PMII komisariat Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur. Tanah Kanjuruhan. Bumi “Singo Edan”.

Setelah tiga tahun menjadi mahasiswa di kampus Brawijaya, Gus Abe kemudian memimpin Pengurus Komisariat (PK) PMII Universitas Brawijaya untuk masa bakti 2011-2012.

Baca Juga:   [OPINI] Refleksi Harlah NU Ke-95: Ancaman dan Tantangan PMII Masa Mendatang

Anak muda ini tampil di PMII tidak dengan kepala kosong, konsep kaderisasi yang dia usung cukup progresif di masanya.

Abe meyakini pola kaderisasi yang disiplin dan profesional akan membentuk dan menjadikan PMII komisariat Universitas Brawijaya sebagai komisariat percontohan kaderisasi PMII dalam segmentasi kampus umum negeri.

Dinamika pengalaman berorganisasi yang kemudian membentuk Gus Abe hingga mencapai puncak kepemimpinan di PB PMII mungkin juga berliku dan tidak mudah.

Sepanjang tahun 2009-2012, sederet organisasi intra Unibraw sudah pernah dia pimpin; Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik, kemudian Ketua Kongres Mahasiswa FISIP, hingga Ketua KPU FISIP.

Selama 4 tahun mencecap ilmu politik di Unibraw, peraih medali Tan Malaka dari Departemen Ilmu Politik Unibraw itu akhirnya lulus dengan predikat mentereng, Wisudawan Termuda dan Terbaik FISIP Universitas Brawijaya tahun 2012.

Selain ilmu dunia, Abe juga cukup menguasai ilmu agama, setidaknya dia pernah menjadi santri di Pondok Buntet Pesantren Cirebon, kemudian di Pondok Pesantren Anwarul Huda Malang (2009-2011), hingga Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang (2012-2015) di bawah asuhan almarhum Syaikhina KH Maimoen Zubair.

Baca Juga:   [OPINI] Refleksi Harlah NU Ke-95: Ancaman dan Tantangan PMII Masa Mendatang

Berkat beasiswa dari DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst), Helmut- Schmidt Program Scholarship, Federal Republic of Germany, Abe kemudian berangkat ke Jerman untuk melanjutkan studi S2 di tahun 2015. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan tak membuatnya surut berjuang di negeri orang.

Di luar negeri, dia tercatat sebagai salah satu inisiator pendirian Pengurus Cabang Internasional (PCI) PMII di tiga negara, yakni Maroko, Taiwan, dan Jerman.

Setelah menamatkan studi pascasarjana-nya di jurusan Development and Governance di Institute of Political Science University of Duisburg-Essen, Jerman tahun 2017, kemudian Abe kembali ke tanah air dan menjadi Ketua Biro Beasiswa Bidang Hubungan Internasional PB PMII 2017-2019.

Pada akhirnya, melalui , perjalanan Gus Abe sebagai Ketua Umum PB PMII dimungkinkan. Dia akan memimpin salah satu organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia hingga tahun 2023. Proficiat! (trd/red)