Prof Hasbullah Thabrany: Profil Kebijakan Kanker Paru Indonesia, Nilainya Sedang-Rendah
Pakar kesehatan masyarakat Prof.

Elangnews.com, Jakarta – masih menjadi kanker yang paling mematikan di Indonesia. Sementara pakar kesehatan masyarakat Prof. Hasbullah Thabrany mengatakan, profil kebijakan kanker paru Indonesia masih berada di nilai sedang menuju rendah untuk semua parameter dibandingkan negara lainnya.

Penilaian itu dikutipnya dari sebuah studi komparatif tentang kebijakan terkait kanker paru antar negara di Asia Pacific yang dilakukan oleh (EIU) pada tahun 2020. Menurutnya pemerintah harus fokus mengatasi kelompok dengan kematian tertinggi yakni kanker paru.

Hasbullah punya strategi untuk menurunkannya. Menurutnya, beberapa strateginya yakni peningkatan pencegahan dan diagnosis kanker paru, peningkatan akses untuk penanganan yang tepat dan akurat sesuai tipe-tipe kanker paru yang ada, terutama lewat program Jaminan Kesehatan Nasional (), dan pembiayaan yang inovatif untuk mendukung keberlangsungan program JKN.

Menurutnya, Pemerintah juga perlu segera mencari solusi pendanaan inovatif untuk mengatasi masalah keterbatasan dana JKN sehingga pasien-pasien kanker, khususnya kanker paru, tetap dapat memperoleh pelayanan terapi kanker yang paling optimal. “Dan memberikan harapan hidup 5 tahun lebih panjang dan kualitas hidup lebih baik,” kata Hasbullah, (08/02).

Tingkat kejadian dan kematian akibat kanker paru di Indonesia saat ini menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Mengacu pada laporan terbaru Globocan 2020, persentase angka kematian kanker paru di Indonesia mencapai 13,2% dibandingkan dengan total kematian dari seluruh kanker lainnya.

Penyakit ini merupakan kanker penyebab kematian terbanyak bagi pria sebanyak 18,5% dan menjadi salah satu penyebab kematian utama bagi perempuan sebanyak 7,1%. Riwayat merokok bukan hanya satu-satunya penyebab kanker paru, walaupun masih menjadi penyebab utama.

Di Asia Pasifik, jumlah wanita dan perokok pasif, menderita kanker paru lebih tinggi dibandingkan wilayah lain di dunia. Hampir seluruh kasus kanker paru tersebut baru terdiagnosis di stadium lanjut. Oleh sebab itu para ahli menilai perlunya perhatian lebih terhadap kanker paru sebagai prioritas penanggulangan penyakit tidak menular.
(tup/red)