Demokrat
Ilustrasi gambar: Elangnews.com/Suray

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Ada yang menarik dari diskusi Polemik Trijaya yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube pada Sabtu (6/3) yang lalu.

Diskusi bertajuk “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini” dihadiri Sekretaris Majelis Tinggi Andi Mallarangeng, Anggota Presidium Perhimpunan Pergerakan Indonesia Sri Mulyono, Pakar Politik LIPI Siti Zuhro, dan Pakar Tata Negara Prof. Juanda.

Sri Mulyono mantan kader Demokrat yang merupakan loyalis dan turut aktif dalam pemenangan Kongres Partai Demokrat 2010 di Bandung kemudian mendapuk Anas sebagai Ketua Umum tersebut, menuding bahwa prahara yang terjadi saat ini di Deli Serdang adalah ulah sendiri.

“KLB hari ini sesungguhnya itu dimulai dari pak SBY sendiri. Karena sejak dua periode kempemimpinan Prof. Subur Budhisantoso kemudian dilanjutkan Hadi Utomo, tidak ada sama sekali keributan internal apalagi KLB, bahkan pikiran untuk KLB saja tidak ada. Tapi ketika Anas Urbaningrum memimpin sebagai Ketua Umum Demokrat, usaha-usaha menggulingkan Anas itu jelas-jelas terbaca dan sangat telanjang,” kata Mulyono.

Baca Juga:   Moeldoko Rebut Demokrat, Kenapa Nama Muhaimin Iskandar Muncul?

Kemudian Mulyono juga menjelaskan apa yang dimaksud dengan usaha-usaha menggulingkan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum yang sah hasil Kongres II Partai Demokrat, 20-23 Mei 2010.

“Saat SBY menggelar rapimnas di Cikeas tanpa mengundang Anas sebagai ketua umum, ini kan ilegal. Kemudian ketika acara forum deklarator partai di Hotel Sahid, Anas juga tidak diberitahu apalagi diundang, ini juga ilegal. Kemudian tanggal 4 Februari 2013, SBY berpidato dari Jeddah meminta KPK untuk menetapkan status hukum kepada Anas. Ini kan juga gak bener, arogan dan ilegal, mengintervensi hukum. Kemudian tiga hari setelah itu, 7 Februari 2013, sprindik Anas bocor, bocornya ke Cikeas. Apakah ini tindakan benar? Ini juga pelanggaran hukum yang cukup berat,” ujar Mulyono menjelaskan.

“Kemudian tanggal 8 Februari pak SBY mengambilalih kepemimpinan Anas sebagai ketua umum tanpa proses konstitusi partai, ini juga ilegal dan arogan. Jadi inilah benang merah yang menghasilkan KLB kemarin di Deli Serdang, Sumatera Utara.”

“Pak SBY mengajari semua itu sehingga terjadi KLB. Pak SBY adalah guru ilegal di dalam Demokrat, guru arogansi, guru KLB, dan guru kudeta,” pungkas Mulyono menutup sesi diskusi.

Baca Juga:   AHY Sambangi Kantor Pusat Muhammadiyah, Tolak Bicara Merangkul Moeldoko

Andi Mallarangeng membantah, “Pernyataan Sri Mulyono itu memutarbalikkan fakta sejarah. Jelas-jelas saudara Anas ada masalah hukum. Pak SBY itu adalah Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, lembaga tertinggi di partai, dan saudara Anas menyatakan berhenti…Lupa pak Sri Mulyono ya? Karena itu pak SBY berupaya menyelamatkan partai, kemudian menunjuk saudara Syarif Hasan sebagai Ketua Harian,” kata Andi yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Majelis Tinggi DPP Partai Demokrat.

Adapun Partai Demokrat yang didirikan pada 9 September 2001 dan disahkan pada 27 Agustus 2003 itu menetapkan dan sebagai Ketua Umum dan Ketua Dewan Pembina periode 2021-2025 melalui Kongres Luar Biasa di Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat, 5 Maret 2021.

Kubu Cikeas tidak tinggal diam dan menyatakan Moeldoko adalah ketua umum abal-abal yang dipilih melalui KLB ilegal. (trd/red)