Pengusaha Batu Bara Polisikan Pemilik Sinarmas, PLN Terseret
Komisaris Utama sekaligus pemilik PT Exploitasi Energy Indonesia Tbk (), . (Sumber: Tangkapan layar youtube)

Elangnews.com, Solo – Andri Cahyadi (46 tahun), Komisaris Utama sekaligus pemilik PT Exploitasi Energy Indonesia Tbk (CNKO) melaporkan Komisaris Utama PT Grup ke Polri. Adapun nomor laporannya, yaitu Nomor: LP/B/0165/III/2021/Bareskrim pada tanggal 10 Maret 2021.

Andi mempolisikan anak pendiri Sinarmas Group, itu atas dugaan penipuan, penggelapan, pemalsuan surat hingga tindak pidana pencucian uang (TPPU). Selain Indra, Andi juga melaporkan mantan Dirut PT Sinarmas Sekuritas, Kokanjadi Chandra di perkara yang sama.

Dalam konferensi pers Sabtu kemarin, Andri menceritakan, awalnya sekitar tahun 2014, CNKO berencana menjalin kerja sama suplai batu bara domestik ke PT . Sebelumnya, CNKO sudah memiliki kontrak dengan PLN untuk suplai 7 juta ton per tahun.

Lalu, karena sudah kerja sama dengan Sinarmas, maka CNKO membagi jatahnya ke Sinarmas agar bisa ikut memasok batu bara ke PLN sebesar 5 juta ton per tahun melalui CNKO. Dengan adanya kerja sama tersebut, suplai ke PLN lancar. Dengan begitu, suplai domestik bisa terpenuhi. Karena ini merupakan syarat jika CNKO ingin ekspor.

Baca Juga:   MAKI Ajukan lagi Gugatan Praperadilan yang Menyeret Ahok

Andri sendiri mengaku punya 53% saham di CNKO. “Kita mulai kerja sama. Sinarmas naruh direksi di CNKO. Saya tetap komisaris utama. Terus Sinarmas sama saya sepakat taruh direksi (Benny Wirawansa), supaya fair. Jadi Benny Wirawansyah yang ditunjuk mewakili Sinarmas, dan saya mewakili perusahaan saya sendiri,” kata Andri.

Setelah beberapa tahun pasca kerja sama, CNKO ternyata tidak pernah untung. Andri pun menegur para direksi agar bekerja lebih profesional. “Tapi, 2017 perusahaan malah dibebani utang banyak. 2018 saya sudah nggak mau tandatangan laporan keuangan. Karena saya melihat perusahaannya kok tambah banyak utangnya. Padahal pekerjaannya jelas lho,” ujarnya.

Menurut Andri, utang CNKO mencapai Rp 4 triliun. “Kalau ditotal dengan keuntungan suplai batu bara dan perhitungan lain, kerugian saya mencapai Rp 15,3 triliun,” katanya.

Andri mengklaim, dirinya tidak pernah menyetujui pengajuan utang selama menjadi komisaris utama CNKO. Dia kaget, justru utang perusahaan terus meningkat hingga Andri mengajukan permohonan audit di 2018. “Tapi manajemen nolak, direksi saya itu menolak. Katanya saya tidak berhak untuk mengaudit. Lho kan aneh,” katanya.

Baca Juga:   Mau Token Listrik Gratis di Februari, Ini Tips dari PLN

Di Desember 2019, pihak Sinarmas dan Andri sempat mau berdamai. Andri dijanjikan sejumlah uang untuk mengganti kerugian CNKO. Yang jadi persoalan, Sinarmas juga ingin mengambil alih kontrak CNKO dengan PLN.

Andri pun menolak perdamaian tersebut. Pasalnya, kontrak dengan PLN berlangsung selama 20 tahun. Sementara, saat itu kontrak baru berjalan 5 tahun.

Karena tidak ketemu kata sepakat, akhirnya Andri melaporkan dua pimpinan PT Sinarmas tersebut ke Bareskrim Polri. “Semua dokumen yang saya punya sudah saya tunjukkan semua ke polisi,” ujarnya.

Di laporannya, ada 9 pasal yang berpotensi menjerat Indra Widjaya dan Kokanjadi Chandra. Yaitu pasal 378 KUHP, pasal 372 KUHP, pasal 374 KUHP. Lalu ada pasal 263 KUHP junto pasal 264 KUHP junto pasal 266 KUHP, TPPU pasal 2,3, 4 dan 5 UU nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
(syah/red)