Diskusi
bertajuk “Mengembalikan Khitoh Peran Dalam Sistem Negara Hukum Indonesia”, Rabu (24/3/2021).

“Permasalahan di Indonesia dewasa ini adalah pembusukan lembaga-lembaga politik, terutama partai politik”

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Peneliti Centre For Strategic And International Studies () meluapkan kejengkelannya terhadap kondisi partai politik saat ini yang dipenuhi dengan konflik dan menjauh dari semangat reformasi.

“Saya sudah agak jengkel dengan kondisi parpol ini. Meski TNI/Polri sudah melakukan reformasi pada batas-batas tertentu, tapi justru parpol masih jalan ditempat,” ungkap J. Kristiadi dalam diskusi daring bertajuk “Mengembalikan Khitoh Peran Partai Politik Dalam Sistem Negara Hukum Indonesia” pada Rabu, 24 Maret 2021.

Meski demikian J. Kristiadi menilai bahwa masih banyak mutiara-mutiara atau tokoh-tokoh di dalam partai politik yang selalu bisa diajak kerjasama dan memiliki visi reformasi yang cukup baik. Namun mutiara-mutiara ini tidak bisa muncul karena kepentingan segelintir elit yang kuat.

Baca Juga:   Sandiaga Uno Salah Fokus Lihat Uniknya Nama Peserta Webinar Ini

“Permasalahan di Indonesia dewasa ini adalah pembusukan lembaga-lembaga politik, terutama partai politik, dan negara karena sudah menjadi lembaga ekstraktif yang hanya digunakan oleh kepentingan elit atau pendirinya,” ujar Kristiadi.

Dia juga menegaskan bahwa dinamika praktik demokrasi pasca reformasi politik saat ini sedang terjadi proses korosi tata kelola kekuasaan yang berkedaulatan rakyat semakin rapuh.

Ironinya, parktek Pemilu di Indonesia, suara rakyat sekedar agregat angka mati. Bukan manifestasi berbagai harapan, aspirasi dan tuntutan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Perolehan suara Pemilu hanya sebagai komoditi transaksi politik.

Baca Juga:   Moeldoko Sebagai Ketum Hasil KLB, Pengamat: Sah Secara Hukum

Adapun diskusi daring ini digelar atas kerja sama Universitas Sahid Jakarta, Universitas Borobudur, dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Caritas Papua.

Diskusi dengan moderator Dr. Yusuf seorang wartawan senior dari Antara juga narasumber diantaranya Prof. Faisal Santiago Ketua Program Doktor Hukum Universitas Borobudur, Prof. Agus Surono Guru Besar Hukum Universitas Al-Azhar Indonesia, Dr. St. Laksanto Utomo dari Universitas Sahid Jakrta, dan Dr. Aat Surya Safaat Pengamat Komunikasi Politik sekaligus mantan Pimred Antara. (trd/red)