Pandemi Covid-19 Sebabkan Penelitian Sains Alami Disrupsi, Apa Maksudnya?
GeNose sebagai salah satu hasil inovasi selama . (Foto: Kompas.com)

Elangnews.com, Jakarta – Menteri Ristek Bambang Brodjonegoro menyatakan pandemi Covid-19 memaksa peneliti untuk bekerja cepat berkejaran dengan waktu. Dalam istilahnya penelitian sains telah mengalami .

Pernyataan Bambang tersebut disampaikan dalam diskusi virtual bertajuk “Pandemi Covid-19 Ubah Riset Sains di Indonesia?” yang digelar The Conversation Indonesia dan Direktorat Pengembangan Usaha dan Inovasi (DitPUI) Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (4/3/2021).

“Pandemi Covid-19 telah memaksa komunitas peneliti sains dan medis di Indonesia untuk secara cepat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat dan pemangku kepentingan,” ujar Bambang.

Dikatakan Bambang, selain fleksibel, komunitas sains dituntut lebih transparan. “Transparansi itu dibutuhkan agar masyarakat dapat memahami dan terbuka terhadap berbagai karya inovasi sekaligus tidak berharap berlebihan tentang kegunaan suatu inovasi,” ujarnya.

Baca Juga:   Dihadiri Jusuf Kalla, Menteri Erick Thohir Luncurkan Program Plasma BUMN

Perbedaan utama riset pra-pandemi dan pandemi itu, menurut Bambang, terkait dengan batas waktu. Riset pra-pandemi bersifat eksploratif, dan kadang-kadang tidak bisa ditentukan apakah sesuai dengan harapan. “Tapi pandemi mengandung unsur mendesak sehingga para peneliti berkejaran dengan waktu,” jelasnya.

Rektor UGM Panut Mulyono, mengatakan kampusnya saat ini sedang mempercepat uji ventilator ICU dan produksi massal GeNose C19. UGM perlu bekerja sama dengan investor untuk percepatan produksi massal.

“Kampus memilki kemampuan penelitian dan inovasi untuk lakukan penemuan baru. Persoalannya ada pada tahap hilirisasi hasil-hasil riset. Hasil riset perlu diambil alih oleh industri agar tercipta komersialisasi. Dengan adanya pandemi Covid-19, kolaborasi itu justru mempercepat proses riset,” timpalnya.

Baca Juga:   Indonesia Mendapat 1,1 Juta Vaksin Program Covax Facility Produk AstraZeneca

Mantan Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 yang kini menjabat Direktur Ali Ghufron Mukti dalam kesempatan yang sama juga memuji para peneliti yang kini bekerja sama tidak mementingkan egonya masing-masing.

Sebelum pandemi para peneliti, lanjut Ali, terkadang saling berkompetisi satu sama lain dan cenderung kurang transparan terkait penelitiannya. “Pada masa pandemi semua pihak saling bekerja sama karena menghadapi tantangan yang sama,” ujarnya. (Yat/Red)