AZWAR – Saya pikir bukan cuma saya saja. Banyak kawan-kawan yang seperti saya. Pada awalnya sangat benci kepada Ormas IB (Ef-PI), tapi kemudian tersadar dan jadi cinta mati. Pertama tahu dari Televisi sepak terjang Ef-PI, jujur saya sedikit muak.

Ngapain orang-orang berbaju putih itu bergaya premanisme mengobrak-abrik warung remang-remang. Bikin malu nama Islam saja?”

Tapi kemudian saya seperti tersadar. “Sebenarnya yang bikin malu nama Islam mereka atau saya?” Bukankah didalam Islam selain kewajiban untuk amar ma’ruf atau menyeru kepada kebaikan kita juga memang diwajibkan untuk mencegah kemunkaran?

Tapi saya masih mencoba berusaha tetap merawat rasa benci saya kepada Ef-PI. “Bukankah seharusnya tugas untuk menertibkan kemaksiatan adalah tugas Negara. Bukan Ormas yang secara Hukum dan Undang-undang tidak memiliki kewenangan apapun!”

Tapi sekali lagi nurani saya seperti mengingatkan. “Bung, faktanya Negara cuma diam dan membiarkan kemaksiatan. Kalau aparat hukum tetap tutup mata, yang dirugikan siapa? Ya masyarakat juga. Maka kewajiban moral masyarakat untuk turun tangan mencegah. Kalaupun tidak mau ikut, paling tidak dukung orang-orang lain yang ikhlas turun tangan melakukan pencegahan…

Saya lama merenung. Saya sampai pada kesimpulan dan keyakinan, pada dasarnya banyak orang waras khususnya orang tua yang diam-diam senang ketika Ef-PI menghancurkan warung remang-remang.

Baca:  Eks Sekretaris FPI Sulsel Bantah Terduga Teroris Makassar adalah Laskar FPI

Puncak kesadaran saya ketika pada tahun 2008 silam pernah Ef-PI bentrok dengan “Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan” (AKKBB). Kemudian muncul foto Pak Munarman sebagai Petinggi Ef-PI mencekik seseorang.

Mediapun “menggoreng” foto tersebut dengan narasi-narasi fitnah yang menyudutkan Ef-PI. Netizen se Indonesia juga langsung menghujat Ef-PI tanpa ampun. Narasi-narasi keji khususnya dari Detik menyerang Ef-PI berhari-hari.

Beberapa waktu kemudian, ternyata dan bisa dibuktikan, Pak Munarman mencekik anak buahnya sendiri (Anggota Ef-PI) karena dianggap anarkis. Media juga kemudian mengakuinya. Tapi tidak pernah ada permintaan maaf dari media atas gorengan fitnah mereka.

Sejak dulu Ef-PI telah menjadi korban dan jadi hujatan akibat penyesatan media. Pemberitaan media terhadap Ef-PI tidak pernah berimbang. Coba lihat bolak-balik Ef-PI turun tangan disetiap musibah bencana alam, tapi tidak pernah diberitakan media.

Yang paling lucu, beberapa tahun lalu, ada salah satu repoter Televisi yang sedang siaran langsung memberitakan kondisi masyarakat yang ditimpa bencana alam. Si Repoter terpaksa menjauh dan merubah posisi berdiri hanya karena dibelakangnya terlihat beberapa anggota Ef-PI yang sedang bekerja keras membantu masyarakat.

Baca:  Saat Djoko Chandra Lebih Terhormat dari Seorang Ulama

Gila, sampai segitu jahatnya media untuk memframing dan membusukkan nama Ef-PI. Bahkan di salah satu medsos (ngga usah sebut merk, nanti ada yang tersungging), menyebut nama Ef-PI dan IB bisa mengakibatkan akun dihanguskan.

Sebagai Ormas, Ef-PI telah memberikan sumbangsih yang luar biasa khususnya ketika terjadi musibah bencana alam. Sampai-sampai ada dua ungkapan, pertama, “Kalau terjadi Bencana Alam, maka bantuan yang pertama kali datang adalah Ef-PI, kemudian TNI, selanjutnya PKS. Setelah musibah selesai, baru bertebaran bendera-bendera Partai“.

Ungkapan kedua, “Jangan pernah membenci Ef-PI, karena bisa saja dimasa depan, mayatmu anggota Ef-PI yang akan mengevakuasi…“.┬áJadi menurut saya, satu-satunya kesalahan Ef-pi adalah karena ada I-nya. Coba I nya diganti jadi Front Pembela NKRI. Saya yakin seluruh rakyat berbalik mencintai.

Begitu juga dengan IB, satu-satunya kesalahan beliau adalah karena tidak mau menjilat Penguasa. Andai beliau mau bekerjasama, mungkin saja sudah sejak lama jadi Menteri Agama dan akan dipuja-puja Kelompok sebelah. Kalau saja beliau ikut-ikutan jadi Kyai Amplop, sudah sejak lama jadi idola para Cukong !

Follow AZWAR