Lagi, Menteri Luhut Menolak Disebut Antek China
Menteri Koordinator Maritim dan Investasi . dalam Rapat Kerja Nasional Badan Pengkajian Penerapan Teknologi 2021, Selasa (9/3/2021). (Foto: Menkomarves)

Elangnews.com, Jakarta – Setidaknya sudah dua kali dalam forum resmi, Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membantah dirinya sebagai antek atau komprador . Sebutan ini sudah melekat pada Luhut sejak menjabat menteri Kabinet Jokowi dalam dua periode ini.

Bantahan Luhut sebelumnya dilontarkan dalam “Economic Outlook 2021”, forum diskusi ekonomi tahunan yang dipandu pengusaha Chairul Tandjung (CT). Ketika itu CT menkonfirmasi istilah yang beredar di masyarakat, “Luhut lagi, Luhut lagi dan China lagi, China lagi.”

“Orang bilang dulu saya anteknya China. Dalam hati saya bilang, nenek kau antek China emang lu bisa beli gue,” kata Luhut dalam sambutan Rapat Kerja Nasional Badan Pengkajian Penerapan Teknologi 2021, Selasa (9/3/2021).

Namun, Luhut memang mengakui China itu sangat terbuka untuk bekerja sama. Apa yang diinginkan selalu tersedia dan mereka mau berbagi teknologi. “China memang punya kelebihan, yaitu mau memberikan dari yang diminta Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga:   Kebencian kepada Keturunan China Meningkat di Amerika

“Karena Tiongkok menurut saya sangat generous untuk memberikan teknologinya, sampai hari ini apa saja yang kita minta dia mau dan itu membuat kita bisa kejar,” tambah Luhut.

Luhut mengaku tidak hanya dekat dengan China tetapi juga dengan dan negara lainnya. Bahkan terbaru Luhut dekat juga dengan Uni Emirat Arab. Bahkan UEA selain bekerja sama dalam bidang ekonomi juga bekerja sama dalam kelestarian lingkungan.

“Bukan (hanya) China atau Amerika Serikat yang bekerja sama dengan Indonesia, melainkan dengan Uni Emirat Arab (UEA) hasilnya ada 16 poin kesepakatan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu Luhut meminta sukses dalam melakukan reverse engineering pada teknologi kemaritiman dan transformasi dengan menambahkan sentuhan inovasi. BPPT harus dapat menjadi otak pemulihan ekonomi secara extraordinary (luar biasa) melalui berbagai inovasi dan teknologi sehingga dapat menjadi pusat kecerdasan teknologi Indonesia.

Baca Juga:   Menteri Kumpul di Borobudur, Super Prioritas Terus Digenjot

“Saat ini telah dikembangkan berbagai produk teknologi dalam negeri seperti Alat Mesin Pertanian (alsintan), Refused-Derived Fuel (RDF) sebagai teknologi untuk pengolahan sampah, dan juga teknologi implementasi aspal plastik. Berbagai teknologi ini akan terus diinovasikan agar produk dalam negeri semakin berkembang,” ujar Luhut.

“Saya akan mendukung melalui koordinasi aturan hukum dan pendanaan yang dibutuhkan untuk menguatkan peran BPPT sehingga dapat menciptakan ekosistem pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi dan teknologi maju,” tambahnya.

Menurut Luhut banyak orang pintar di negeri ini tetapi untuk memajukan teknoligi harus bekerja sama dan kompak. “Kita harus bekerja sama dan bekerja dengan hati untuk negeri tercinta,” kata Luhut. (Yat/Red)