Kisah Kedekatan Artidjo Alkostar dengan Habib Rizieq Shihab, Ternyata di Luar Dugaan
Ilustrasi: Elangnews.com/Suray

Elangnews.com, Jakarta – Kabar meninggalnya anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi () tidak hanya duka bagi kalangan orang terdekat, para aktivis dan juga keluarga besar Universitas Islam Indonesia () Yogyakarta tetapi juga para pentolan Front Pembela Islam Indonesia (PFI). Kok bisa?

Ya, organisasi yang dibubarkan Pemerintah sampai simbolnya pun tak boleh digunakan hingga Imam Besar Habib Rizieq Shihab (HRS) dikerangkeng di tahanan Mabes Polri, ternyata memeliki kedekatan emosional dan juga idealisme dengan Artidjo.

Dikisahkan, suatu ketika HRS pernah bercerita tentang Artidjo Alkostar kepada para pengurus FPI bahwa ketika berdiri pada 1998, Artidjo datang berkunjung ke Petamburan, Jakarta Pusat. Artidjo membawa beberapa murid terbaiknya para advokat lulusan UII yang berdomisili di Jakarta.

Saat itu terjadi dialog hangat antara Artidjo cs HRS terkait tema Penegakan Hukum dan HAM yang akhirnya membuat hubungan mereka terjalin sangat baik bak keluarga.

Baca Juga:   [OPINI] Epitaf Buat Artidjo Alkostar, Mercusuar Moral dan Keberanian Pemberantasan Korupsi

Sejak saat itu, Artidjo secara rutin sebulan sekali dengan sepeda motor Vespa “bututnya” datang ke Petamburan memberi kuliah hukum dan HAM ke seluruh pengurus DPP FPI dan laskarnya.

Bahkan Artidjo “mewaqafkan” murid-murid favoritnya alumni UII untuk memegang Departemen Hukum dan HAM sekaligus membentuk LBHF (Lembaga Bantuan Hukum FPI).

Sesuai amanat Artidjo, para advokat LBHF tidak pernah meminta bayaran apa pun dalam memberi diklat hukum dan HAM maupun bantuan hukum kepada FPI dan para aktivisnya di seluruh Indonesia.

Sampailah pada saat kemudian Artidjo direkomendasikan menjadi Agung. Pada sebuah kesempata HRS sempat menyarankan agar Artdjo jangan terlihat dekat dengan FPI karena organisasi yang dipimpinnya kerap jadi target fitnah. HRS khawatir kedekatan itu berimbas ke karier Artidjo.

Namun di luar dugaan, Artidjo walaupun sudah jadi tetap saja punya perhatian yang khusus kepada FPI. Nasihat, usulan dan sarannya tetap saja mengalir ke FPI di tengah kesibukannya sebagai Hakim Agung.

Baca Juga:   KY Resmi Tutup Pendaftaran Calon Hakim Agung

Para advokat yang “diwaqafkan” Artidjo untuk FPI pun, hingga detik terakhir saat FPI dibubarkan pada 30 Desember 2020, masih tetap berkhidmat di LBHF DPP FPI. Dan sampai kini pun mereka tetap setia menjadi pengacara HRS.

HRS pernah menyebut Artidjo adalah sosok Hakim Agung jujur, amanah, cerdas dan berdedikasi, tegas dan berani. Dan tentu saja sederhana.

Artidjo disebut HRS adalah Pahlawan Penegakan Hukum Indonesia sekaligus menjadi kebanggaan bangsa Indonesia pada umumnya dan secara khusus kebanggaan FPI.

“Lewat gebrakan-gebrakannya melalui putusan yang cukup berani, kehadiran Artidjo sudah mulai memenuhi harapan masyarakat itu. Kehadiran sosok seperti Artidjo ini harus dijaga secara bersama-sama. Sosok-sosok langka seperti Artidjo ini harus kita back up. Biar ke depan bisa lahir ribuan Artidjo Alkostar lainnya,” kata HRS seperti dikutip dari Hukumonline pada tahun 2014. (Yat/Red)