Kenapa Ramai-ramai Meninggalkan Vaksin Nusantara?
Ketua Komisi IX Felly Estelita Runtuwene. (Foto: Elangnews.com/Yayat R Cipasang)

Elangnews .com, Jakarta – yang digagas saat Menteri Kesehatan dan melibatkan sejumlah perguruan tinggi tiba-tiba hilang dari nomenklatur remi di Pemerintah. Para pejabat pun seolah alergi dan menghindar untuk membicarakannya.

Semua kejanggalan itu terangkap dalam rapat dengar pendapat (RDP) di DPR, Rabu (10/3/2021), dengan menghadirkan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan ( Penny K. Lukito dan Terawan. Padahal riset vaksin ini sudah mendapat semua persyaratan seperti SK Menteri, izin BPOM dan juga dari .

Anggota Komisi IX DPR dari Golkar Dewi Asmara dengan suara lantang menyebut bahwa penelitian atau riset vaksin tersebut berarti bukan aba-abal. Dewi juga mempertanyakan surat izin dari BPOM yang sudah dikeluarkan sejak 2020 namun tidak ditembuskan ke DPR.

“Kalau ini ada izinnya mengapa semua sekarang tiba-tiba seperti alergi, tidak mau membicarakan,” kata Dewi.

Baca Juga:   Jokowi Sindir Mantan Anak Buahnya, Bagaimana Nasib Vaksin Nusantara?

Pernyataan senada juga disampaikan Ketua Komisi IX DPR Felly Estelita Runtuwene yang meminta BPOM memperjelas proses perizinan untuk vaksin Nusantara. Felly juga heran kenapa penjelasan vaksin Nusantara hilang dalam draf Kementerian Kesehatan. Termasuk mempertanyakan Kementerian Riset dan Teknologi yang tidak menyampaikan keterangan apa pun terkait vaksin Nusantara dalam RDP tersebut.

Mendapat berbagai pertanyaan, Penny berkilah uji klinis tahap Vaksin Nusantara yang digagas Terawan dinilai tidak memenuhi kaidah klinis dalam proses penelitian dan pengembangan vaksin. Menurutnya, pemenuhan kaidah good clinical practice tidak dilaksanakan dalam penelitian ini.

“Komite etik dari RSPAD tapi pelaksanaan penelitian ada di RS dr Kariadi,” ujar Penny.

Termasuk Penny juga menyoroti perbedaan data yang diberikan tim uji klinis Vaksin Nusantara dengan data yang dipaparkan pada rapat kerja hari ini. Padahal, tambah Penny, BPOM telah rampung menyelesaikan review uji klinis I Vaksin Nusantara.

Baca Juga:   Pemerintah Diminta Selesaikan Polemik Vaksin Nusantara

Universitas Gadjah Mada () yang juga masuk dalam tim riset Vaksin Nusantara  mengundurkan diri. Dekan Fakultas Kedokteran UGM Yogi Mahendradata memberikan alasan mundur karena selama ini merasa tidak dilibatkan dalam sejumlah proses. Salah satunya terkait penyusunan protokol penelitian.

“Para peniliti kami yang disebutkan itu belum pernah terlibat atau dilibatkan secara langsung dalam penelitian tersebut. Bahkan juga belum melihat protokol klinisnya,” kata Yogi.

Vaksin Nusantara digagasa Terawan saat menjadi Menteri Kesehatan dengan melibatkan sejumlah peneliti dari UGM, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Untuk proses produksinya menggandeng PT Rama Emerald Multi Sukses (Rama Pharma) yang berkolaborasi dengan AIVITA Biomedical Inc dari California, Amerika Serikat. (Yat/Red)