Jokowi Sindir Mantan Anak Buahnya, Bagaimana Nasib Vaksin Nusantara?
Presiden (Foto: Setkab)

Elangnews.com, Jakarta – Kontroversi yang rencananya diproduksi di dalam negeri sampai juga ke telinga Presiden Jokowi. Vaksin yang digagas Menteri Kesehatan sebelum lengser ini, belakangan menjadi masalah.

Pamor Vaksin Nusantara meredup bahkan peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) mundur. Alasannya tidak pernah dilibatkan dalam proses penelitian.

Komisi IX pun memanggil Terawan dan kelompok berkepentingan di dalam pengembangan vaksin seperti Kemenkes, Kemenristek dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Padahal Vaksin Nusantara dibiayai dana dari Litbang Kemenkes alias bersumber dari duit rakyat (APBN).

Dari sinilah terungkap ternyata nomenklatur Vaksin Nusantara juga hilang dari program yang tersisa hanya . Kepala BPOM Penny K. Lukito menuding Vaksin Nusantara tidak memenuhi kaidah saintifik.

Baca Juga:   Indeks Demokrasi Dibawah Pemerintahan Jokowi

Belakangan Presiden Jokowi dalam video yang diunggah dalam YouTube Setkab menyinggung tentang pengembangan vaksin. Jokowi masih menyebut ada dua vaksin dalam negeri yang dikembangkan, Vaksin Merah Putih dan Vaksin Nusantara.

Namun Presiden menegaskan untuk menghasilkan produk obat dan vaksin yang aman, berkhasiat, dan bermutu mereka juga harus mengikuti kaidah-kaidah saintifik. “Uji klinis yang ditempuh juga harus sesuai dengan prosedur yang berlaku, dilakukan secara terbuka, bersifat transparan, serta melibatkan banyak ahli,” ujarnya.

“Saat ini di dalam negeri tengah dikembangkan dua vaksin yaitu vaksin Merah Putih dan vaksin Nusantara. Pengembangan tersebut harus mendapat dukungan berbagai pihak,” tambahnya.

Presiden berharap, penelitian di bidang vaksin ini akan mendorong terwujudnya kemandirian di bidang farmasi, sekaligus untuk percepatan akses ketersediaan vaksin di masa pandemi Covid-19 ini.

Baca Juga:   Pemerintah Diminta Selesaikan Polemik Vaksin Nusantara

“Jika semua tahapan dan kaidah ilmiah telah dilalui dan dipenuhi maka produksi vaksin dapat dipercepat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Selain Kemenristek, penelitian dan pengembangan Vaksin Merah Putih melibatkan peneliti dari UGM, IPB University, Universitas Andalas, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga dan Lembaga Biologi Mulekuler Eijkman. Targetnya akhir tahun 2021 Vaksin Merah Putih sudah diproduksi massal.

Sementara Vaksin Nusantara yang digagas Terawan selain melibatkan Litbang Kemenkes juga sejumlah Universitas seperti UGM, Universitas Diponegoro, RSUP Kariadi, pihak swasta dan juga perusahaan farmasi asal Amerika Serikat. Bahkan untuk satu dosis vaksin sudah dibanderol harganya hanya 10 dolar Amerika. (Yat/red)