Jokowi Disambut Tarian Petruk, Butet Kartaredjasa: Seni Itu Multitafsir
Divaksin yang menjadi kontroversi saat menyambut Presiden di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. (Foto: Istana Kepresiden Yogyakarta)

Elangnews.com, Jakarta – Apapun di Indonesia semuanya politis. Apalagi menyangkut Presiden Jokowi sebagai orang nomor satu di Indonesia. Ketika Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi disebut-sebut melakukan ghosting, juga dikaitkan dengan politik.

Nah, ketika Presiden Jokowi kunjungan ke Yogyakarta tepatnya meninjau vaksinasi massal sekira 500 budayawan dan seniman di (PSBK) yang terletak di Dusun Kembaran, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, juga heboh.

Pangkal soalnya ketika Jokowi dan rombongan ketika menuju Padepokan Seni Bagong Kussudiarja disambut Tarian Petruk. Di antara karakter pewayangan ini ciri khas yang menonjol adalah hidungnya yang panjang. Kalau dalam karakter komik Disney mirip yang hidungnya selalu bertambah panjang kalau berbohong.

Baca Juga:   Dewan Beras Nasional: Kalau Dipaksakan Impor, Itu Subversif

Lawan politik, oposisi dan juga yang tidak suka dengan pemerintah menafsirkan Tarian Pentruk tersebut dengan sikap Jokowi selama ini. Apalagi masyarakat banyak merujuk pada kebijakannya seperti yang tergambar dalam kover Majalah Tempo yang menyandingkan Jokowi dengan bayangan seperti Pinokio.

Tuan rumah acara vaksinasi mengatakan sah-sah saja orang menafsirkan tarian yang menyambut rombongan Presiden.

“Tarian Petruk Divaksin tadi, mau ditafsirkan itu Petruk, Pinokio, bahkan titit jerapah ya bolah-boleh saja,” kata Butet. “Seni itu multitafsir.”

Makna Tarian Petruk

Tarian Petruk Divaksin yang diiringi musik akapela ala Mataraman adalah karya koregrafer tari terkenal asal Yogjakarta Anter Asmorotedjo. Makna dari tarian ini menggambarkan harapan dan kegembiraan akan dan setelah divaksin.

Baca Juga:   Lampiran Miras Dicabut Jokowi, Yusril Bandingkan Indonesia dan Filipina

Tarian yang memiliki judul asli Bang Bang Ceng ini kemudian atas permintaan Butet diubah karena disesuaikan dengan tema, menjadi Petruk Divaksin. “Sosok Petruk menggambarkan masyarakat Indonesia. Itulah mengapa dalam tarian ini, sosok Petruk terdiri lebih dari 2 penari,” ujar Anter.

Dalam tarian ini, kata Anter, Petruk menyambut gembira karena pemerintah sudah mewujudkan apa yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat dan tentu juga berharap pandemi ini segera berakhir.

“Gerakan-gerakan yang dihadirkan tak hanya semata tarian. Adapula wujud protokol kesehatan seperti gerakan mencuci tangan. Lalu adapula gerakan tari yang menyimbolkan suntik ,” kata Anter. (Yat/Red)