Ini Kecurigaan Rocky Gerung kepada Qodari dan Burhanuddin Muhtadi
Ilustrasi: Elangnews.com/Suray

Elangnews.com, Jakarta – Analis politik Rocky Gerung mencermati secara serius upaya Direktur Eksekutif IndoBarometer yang bersemangat mengusung wacana amendemen UU Dasar Negara Republik Indonesia dan mendorong pasangan -Prabowo untuk Pilpres 2024.

Rocky pun meragukan hasil survei yang dilakukan Indikator Politik yang menyebut anak muda sangat puas dengan kinerja Jokowi. Rocky meyakini Qodari dan Burhanuddin adalah bagian dari teori Marshall McLuhan bahwa media itu adalah pesan (medium is the message).

“Qodari dan Burhanudin itu pesanan siapa,” kata Rocky sambil tertawa dalam sebuah perbincangan di kanal YouTube, Senin (22/3/2021).

“Itu artinya 65 persen anak muda Indonesia tidak tahu pengambilalihan Partai Demokrat, tidak tahu problem kartel beras, tidak pernah tahu korupsi yang dibiarkan, tidak tahu bahwa itu dianiaya. Jadi ini kan namanya menghina milenial,” ujarnya.

Baca Juga:   Wacana Presiden Tiga Periode, Refly Harun: Jadikan Presidential Threshold Nol

Surveyor ini, kata Rocky menutupi fakta justru milenial itu lebih tahu dari surveyornya. “Karena itu terpaksa saya harus curiga kepada Burhanuddin. Apalagi langsung dikaitkan dengan DKI Jakarta,” ujarnya.

“Seolah-olah DKI itu karena sarang kadrun maka beroposisi kepada Jokowi. Sementara Jawa Tengah yang sarang cebong maka dia pro Jokowi. Ideologi itu yang mesti kita bongkar,” tambah Rocky.

Seharusnya, kata Rocky, Burhanuddin harus meneruskan argumennya mengapa 65 persen anak muda mendukung Jokowi. Karena itu Rocky curiga sebenarnya angka itu untuk menggiring karena anak muda masih percaya dengan Jokowi maka jabatan presiden dilanjutkan.

Baca Juga:   Manajemen Baru Persis Solo, Ada Nama Kaesang Pangarep dan Agakhan Erick Thohir

“Makanya jadi satu paket riset Burhanuddin dan riset Qodari. Saya yang mengamati public opinion harus menduga itu, bukan menduga jeleknya Burhanudin atau Qodari tapi metodologinya disusupi kepentingan,” ujarnya.

Rocky mengaku curiga karena riset ini dibuat ketika popularitas dan kinerja Jokowi turun dan siapa yang membiayai riset ini. Karena itu Rocky menyarankan kepada surveyor untuk membuka identitas penyandang dana riset.

“Siapa yang membiaya riset ini. Kan etika penelitian seperti itu,” ujarnya. (Yat/red)