INFID
Ahmad Zainul Hamdi, Koordinator Penelitian . Foto: youtube infidtv.

“Temuan ini mengindikasikan sangat kuat bahwa sementara anak-anak muda memiliki penolakan yang tegas terhadap aksi kekerasan bermotif agama, namun mereka sangat rentan untuk menjadi intoleran”

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Penolakan terhadap kekerasan bermotif agama di kalangan anak muda mengalami tren peningkatan, namun masih rentan menjadi intoleran.

Hal itu merupakan kesimpulan dari hasil mengenai “Persepsi dan Sikap Generasi Muda Terhadap Intoleransi dan Ekstremisme Kekerasan” yang dilakukan lembaga International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) dan .

Survei yang melibatkan 1.200 responden itu dilakukan di enam kota besar yaitu Surakarta, Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Makassar, dan Pontianak pada akhir tahun 2020.

Meski mayoritas responden tegas menolak kekerasan bermotif agama, tetapi sikap mereka berubah menjadi gamang ketika dihadapkan pada pertanyaan seputar isu-isu .

“Ada jarak yang menganga antara sikap yang tegas dalam menolak kekerasan bermotif agama dan sikap yang mulai abu-abu saat masuk ke isu toleransi,” terang Ahmad Zainul Hamdi Koordinator Penelitian INFID dalam acara Media Gathering Launching Survei Infid-Jaringan Gusdurian, Selasa (23/3/2021).

Baca Juga:   Muhammadiyah: Serangan Teror di Mabes Polri Tamparan Keras

Misalnya, perihal kekerasan bermotif agama seperti dalam bentuk serangkaian peledakan di tempat-tempat ibadah di Indonesia maupun serangan-serangan ISIS, mayoritas responden bersikap tegas menolak tindakan para itu.

Sebanyak 78 persen responden menjawab tidak setuju dengan aksi kekerasan tersebut, empat persen setuju, dan sisanya menjawab tidak tahu.

Angka yang cukup fantatastis ditunjukkan saat masuk ke isu-isu toleransi, sebanyak 93 persen respon setuju toleransi, hanya 3 persen yang menolak.

Namun saat di breakdown pada pertanyaan-pertanyaan toleransi tertentu yang lebih spesifik, seperti jika umat muslim sebaiknya tidak mengucapkan selamat hari raya keagamaan pada non-muslim, sebanyak 52,7 persen menyatakan tidak setuju, sementara ada 27,8 persen menyatakan setuju, dan 5,8 persen bahkan menyatakan sangat setuju.

Baca Juga:   Kritik Pada Otoritas Terorisme

Pertanyaan spesifik lainnya adalah soal berteman dengan orang non-muslim, sebanyak 62 persen menyatakan setuju, namun ada 29,7 persen menyatakan tidak setuju berteman dengan orang non-muslim.

Kemudian pertanyaan perihal keberadaan Ahmadiyah dan Syiah, sebanyak 42,5 persen responden setuju terhadap pelarangan Ahmadiyah dan Syiah di Indonesia, sedangkan sebanyak 45 persen menyatakan tidak setuju dengan pelarangan.

“Temuan ini mengindikasikan sangat kuat bahwa sementara anak-anak muda memiliki penolakan yang tegas terhadap aksi kekerasan bermotif agama, namun mereka sangat rentan untuk menjadi intoleran,” tutur Ahmad Zainul Hamdi. (trd/red)