Ghosting, Ngibrit dan Kudeta Hati Kaesang di Mata Seorang Filsuf
Ilustrasi: Elangnews.com/Suray

Elangnews.com, Jakarta – Istilah sangat populer belakangan ini. Mulai dari emak-emak hingga seorang filsuf pun terpancing membicarakan itu menyusul isu yang tengah menerpa anak kedua Presiden , Kaesang Pangerap.

Kaesang menjadi contoh penerapan sempurna istilah ghosting setelah dia meninggalkan kekasihnya yang akan dinikahinya, . Keluarga Felicia tentu sangat marah dan menumpahkannya dalam media sosial seperti menyebutkan Kaesang tidak jantan karena meninggalkan Felicia begitu saja tanpa kabar setelah pindah ke perempuan lain.

Tetapi dasarnya seorang analis politik dan filsuf, memaknai fenomena ghosting Kaesang kemudian diseret-seret juga ke persoalan hukum dan politik.

Baca Juga:   Ngotot Impor Beras, GAMKI Sebut Menteri Coreng Wajah Jokowi

Ghosting dalam pandangan filsuf adalah soal perasaan. Karena soal perasaan tentu tidak bisa dihukum atau dipidana.

“Di dalam hukum tidak mengkriminalkan orang yang janji kawin. Janji kawin itu soal perasaan dan hukum tidak mengatur soal perasaan,” kata Rocky dalam kanal Hersubeno Point, Rabu (11/3/2021).

Namun publik, lanjut Rocky, tentu menilainya lain. Karena ini masalah etik. “Kalau perwira ya ngomong batal ya. Gue lagi naksir orang lain. Itu sebenarnya lebih jujur sehingga nggak disebut ghosting,” ujarnya.

Baca Juga:   Menakar Keseriusan Presiden Jokowi Soal Rencana Revisi UU ITE

Tetapi, kata Rocky, fenomena ghosting belakangan ini tidak hanya soal perasaan. Harun Masiku bisa juga dianggap ghosting. Atau disuruh ghosting. “Ini sebenarnya bagian dari cultural studies, orang mencari parelisasi dengan kasus-kasus sebelumnya,” kata Rocky.

Ghosting Kaesang, kata Rocky, memang tak bisa dihindari bilan kemudian merembet ke Jokowi karena dia anak Presiden. Karena itu tak bisa disalahkan bila kasus ini merembet ke masalah politik. Ghosting tidak lagi dimaknai hanya sebagai kenakalan anak remaja. (Yat/Red)