Detik-detik Letjen Doni Monardo Menangis
Kepala Letjen saat orasi ilmiah di . (Foto: IPB)

Elangnews.com, Jakarta – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal Doni Monardo tak kuat menahan tangis haru dan bahagia saat orasi ilmiah pengukuhan di Kampus IPB University di Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (27/3/2021).

“Saya akan mempertanggungjawabkan dan….,” kata Doni dan tangis pun pecah.

Doni sempat tak bisa berkata-kata selama 45 detik dan sesegukan. Sekira tiga kali tepuk tangan hadirin dan keluarga menyemangati Doni. Beberapa detik kemudian pidatonya terhenti kembali dan terbata-bata.

Dalam bagian pidatonya, Doni juga menyitir agama terkait hubungan manusia dengan .

Baca Juga:   Soal Larangan Mudik, Doni Monardo: Kita Tak Ingin Pertemuan Silaturahmi Berakhir Tragis

“Dalam konteks religius, umat Islam tidak hanya diwajibkan menjaga hubungan dengan Allah Swt hablum minallah dan hubungan sesama manusia hablum minannas, tetapi juga hubungan dengan , hablum minal ‘alam,” ujarnya.

Doni juga bercerita, suatu waktu dirinya pernah dikunjungi oleh beberapa ahli hukum untuk silaturahmi. Pada kesempatan itu sambil bergurau Doni mengatakan, “TNI kerap diidentikkan dengan pelanggaran HAM pada masa lalu, lantas saya bertanya jika terjadi pelanggaran hak asasi pohon, hak asasi sungai, siapa yang bertanggung jawab?”

“Dalam pemikiran saya, merawat bangsa tidak hanya mengedepankan prinsip democracy (kedaulatan rakyat), tetapi juga harus mengedepankan prinsip Ecocracy (kedaulatan lingkungan),” kata Doni.

Baca Juga:   Doni Monardo: Saya Ulangi, Dilarang Mudik Lebaran!

Tim Promotor orasi ilmiah berjudul “Model Tata Kelola Sumber Daya Alam dan Lingkungan” ini terdiri atas Prof. Anas M. Fauzi, Prof. Hadi Susilo Arifin, Prof. Widiatmika, Prof. M.H. Bintoro, dan Dr. Suryo Adiwibowo.

“Saya akan mempertanggungjawabkan penghargaan dan kepercayaan yang diberikan IPB University kepada saya. Gelar Doktor Kehormatan ini menjadi energi baru bagi saya untuk terus konsisten membantu menyelamatkan lingkungan dan sumber daya alam Indonesia,” kata Doni yang menjadi kalimat pelengkap saat ia tercekat dan menangis. (Yat/Red)