Desain Burung Garuda Istana Negara Tersebar di Medsos, Netizen Ribut
Desain Istana Negara di Negara Baru karya Nyoman Nuarta. (Foto: Instagram)

Elangnews.com, Jakarta – Istana Negara Tersebar di Internet, Netizen RibutRencana pemindahan ibu kota jadi kontroversi. Sayembara konsep ibu kota negara di Penajam-Paser Utara, , jadi kontroversi. Begitu juga ketika konsep Istana Negara yang miniaturnya tersebar lewat media sosial jadi bahan pergunjingan di media sosial.

Konsep gedung berbentuk Garuda yang dibuat pematung kenamaan Nyoman Nuarta juga dipermasalahkan. Protes pun bertaburan dari sejumlah organisasi profesi mulai dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP).

Semuanya kompak memprotes rancangan tersebut yang berbeda dari konsep pemenang sayembara. Mereka menyebut, konsep gedung yang dibuat Nyoman Nuarta yang dikenal sebagai perancang Patung Garuda Wisnu di Bali, di luar konsep pemenang sayembara.

Nyoman Nuarta disebut-sebut memenangi sayembara tertutup yang juga melibatkan arsitek kenamaan seperti Yori Antar, Gregorius Supie Yolodi, dan Sibarani Sofian. Nama terakhir adalah kepala arsitek tim dari biro Urban+ yang merancang konsep “Nagara Rimba Nusa”.

Mereka mempermasalahkan bahwa Nyoman Nuarta adalah pematung. Karena itu seharusnya konsep patung dengan gedung Istana terpisah. Mereka pun menyindir Nyoman Nuarta sebagai pematung yang ‘berjiwa arsitek’.

“Bangunan istana negara yang menyerupai garuda tidak mencirikan kemajuan peradaban bangsa Indonesia di era digital,” kata Ketua IAI I Ketut Rana Wiarcha.

Menurut Rana, bangunan gedung istana negara seharusnya menjadi contoh bangunan yang secara teknis sudah mencirikan prinsip pembangunan rendah karbon dan cerdas sejak perancangan, konstruksi, hingga pemeliharaan gedungnya.

Ditambahkan Rana, Kementerian PUPR menetapkan tiga syarat utama gedung istana yakni desain mencerminkan kemajuan peradaban Indonesia, ramah lingkungan, dan futuristik. Sebaliknya, konsep Nyoman Nuarta mementingkan metafora atau citra

“Ini sebuah pendekatan yang sudah mulai ditinggalkan,” ujarnya.

Tidak hanya kritikan dari para ahli dan arsitek lebih kocak lagi pernyataan netizen. walaupun terkesan lucu juga terselip kritikan yang cukup menohok.

“Kenapa harus Garuda yang cuma mitos dan sepertinya bukan asli Indonesia juga? Kenapa bukan Cendrawasih atau Komodo yang jelas-jelas nyata dan asli Indonesia? komentar seorang netizen.

“Kalo dari yang ngak paham sampai ahli udah kritik, itu tandanya ini burung bermasalah,” cuit yang lainnya.

“Mohon maaf tapi design berandalan Bandung jauh lebih bagus dari ini, soalnya itu liat sayapnya kasian kaya piyik. Tapi kalau fungsional dibikin ruangan garudanya bisa dipertimbangkan. Kalau sekadar patung/kiasan lebih baik kan dipakai infrastruktur lain,” ujar netizen lainnya. (Yat/Red)