Artidjo Alkostar, Sosok Sederhana dan Berintegritas
Ilustrasi: Elangnews.com/Suray

Elangnews.com, Jakarta – Manusia mati meninggal nama bukan pepatah usang atau kedaluwarsa. Ternyata masik aktual dan kompatibel di tengah krisis kejujuran dan integritas dari elite terutama penegak hukum di zaman kiwari. Artidjo adalah simbol harapan dan juga optimisme dalam penegakan hukum di Indonesia yang compang-camping.

Dua tokoh nasional yang juga aktivis di Indonesia, dan juga menulis sangat bagus tentang kiprah keseharian dan kesederhanaan hidup di tengah bangsa yang terpapar hedonisme dan pragmatisme.

Masih percayakah Anda ada tokoh yang hanya punya sepeda motor Honda bebek butut? Di Jakarta ngak punya rumah. Ketika jadi hakim agung hanya menempati rumah kontrakan dan baru ketika jadi anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi tinggal di apartemen, itu pun milik .

Kisah Todung Mulya Lubis

Dikisahkan, ketika Todung yang kini Dubes Indonesia di Swiss menjabat Ketua Yayasan LBH Indonesia, Artidjo adalah direktur LBH Yogyakarta. Di situlah persahabatan dengan Artidjo dimulai.

“Setiap saya mengunjungi Yogyakarta saya selalu mengadakan rapat di kantor LBH dan setelah itu disusul dengan makan siang atau makan malam,” ujarnya.

Diakui Todung, Artidjo memang orang yang sangat sederhana, pendiam dalam arti hanya bicara seperlunya, pekerja keras dan menikmati kesendiriannya. Dia pulang pergi kantor dengan motor Honda Bebek meski dia sebetulnya bisa naik mobil LBH.

“Kalau makan pun dia lebih suka makan di rumah makan kecil, menyendiri di meja pojokan. Tapi dia orang yang bisa dipegang kata-katanya. Jangan berharap bisa diskusi panjang lebar dengan argumentasi berbusa-busa,” kisah Todung.

Artidjo yang hanya melihat hitam-putih atau benar-salah terus memperberat hukuman untuk para terkadang tanpa pertimbangan hukum yang terlalu lengkap. Dia juga, kata Todung, sering abai terhadap ’nuansa’ kemanusiaan. Dalam dunia pemberantasan korupsi Artidjo jadi simbol pemidanaan hukum yang tak bisa dibeli atau ditekan.

“Siapa yang bisa membeli dan menekan Artidjo karena dia tak butuh kemewahan, dan tak takut mati. Artidjo yang berperawakan kurus ini adalah tipikal orang Madura yang selalu keluar dan berani mati,” tuturnya.

Kekuatan Artidjo adalah kejujuran dan keberpihakannya pada mereka yang lemah dan tertindas. Buat Artidjo, dunia ini adalah hitam putih, benar atau salah. Dia kurang terbuka terhadap nuansa. “Dalam benaknya apa yang disebut abu-abu itu hampir tidak dikenal. Jadi dia gampang saja membuat keputusan karena dia yakin kebenaran itu tak bisa dinegosiasikan. Truth is non-negotiable,” terang Todung.

Todung mengira, Artidjo akan menikmati pensiunnya setelah selesai jadi hakim agung. Dia akan kembali jadi dosen di Fakultas Hukum . “Tapi dia dipanggil jadi anggota Dewan Pengawas KPK, dan saya agak lega karena dia orang yang akan menjalankan fungsi pengawasannya dengan jujur dan tegas,” ujar Todung.

Baca Juga:   Beredar Informasi KPK Tetapkan Tersangka BUMD DKI, Tempus Kasus Di Zaman Gubernur Anies

“KPK yang mengalami pelemahan akhirnya bisa mendapat Artidjo yang tak akan kompromi terhadap tekanan para koruptor. Artidjo akan berusaha menyelamatkan KPK dalam batas kemampuannya,” harapnya.

Todung menyebut Indonesia kehilangan seorang ’jurist’ yang bersahaja, jujur dan berani. Moralitas hukumnya akan selalu menjadi rujukan bahwa di tengah iklim yang komersial dan koruptif ini masih ada orang jujur.

“Benarlah kata KPK beberapa tahun silam bahwa ”Jujur Itu Hebat”. Artidjo adalah personifikasi dari semua itu,” pujinya.

Kisah Hamid Basyaib

Hamid memberi label kisahnya yang panjang berjudul “Sebuah Kitab Keadilan”. Hamid dalam tulisan memberikan kesaksian yang lengkap seabagi sesam aktivis UII.

Hamid mengisahkan, setelah pensiun sebagai hakim agung pada 2018, Artidjo mengatakan tidak akan kembali ke habitat lamanya, dunia hukum, dalam kapasitas apapun. Ia ingin jadi petani di desa. Sejak lama ia memang gemar merawat bonsai dan memelihara ayam pelung.

“Dulu ia kadang membawa sendiri, dengan menumpang kereta api, beberapa ekor ayam yang memikat itu untuk hadiah bagi kawan-kawannya di Jakarta. Tapi bangsa Indonesia menilai ada tempat yang lebih patut dan diperlukan darinya daripada bertani. Ia kemudian menerima amanat baru: anggota Dewan Pengawas KPK,” ujar Hamid.

Sebagai praktisi dan dosen Hukum Pidana, Artidjo tak pernah kehilangan minat akademisnya. Sejak pertama kali mengenalnya empatpuluh tahun silam, ketika ia memimpin lembaga penelitian di Fakultas Hukum UII. Dan ia sibuk mengikuti pelatihan riset oleh Himpunan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIIS) — ia meneliti kaum tuna wisma, dan menerbitkan buku “Gelandangan: Insan Kesepian di Tengah Keramaian” — ia tak berubah. Ia selalu menghargai ikhtiar keilmuan, selalu respek pada pencapaian prestasi keilmuan.

Dalam usia tak lagi muda, ia berangkat ke Universitas Columbia, Amerika, untuk berlatih menjadi pengacara hak-hak azasi manusia — pusat perhatiannya sepanjang hayat. Ia juga studi S2 di universitas lain di sana, lalu mendapat doktor hukum di Universitas Diponegoro dalam usia 59 tahun.

“Saya bangga pernah mendirikan Lembaga Pembela Hukum (LPH) bersamanya dan tiga kawan lain, untuk menampung para calon pengacara yang tak kebagian tempat berlatih di LBH dan LKBH FH-UII. Selama lima belas tahun pertama aktifitas LPH, tampaknya lembaga itu cukup sukses menjalankan misinya dan mencetak sejumlah pengacara andal,” ujarnya.

Baca Juga:   MAKI Datangi PN Jaksel Gugat 5 Perkara yang Mangkrak di KPK

Dunia boleh berubah setiap minggu, setiap tahun, setiap satu dekade, tapi Artidjo tidak. Dalam posisi apapun, menetap di mana pun, ia tetaplah sebuah monumen kejujuran dan sikap pantang menyerah.

“Dan ia tak pernah mengeluhkan situasi. Ia tahu betul betapa parah dunia hukum kita, sampai kadang menggoda banyak orang untuk putus asa,” kata Hamid.

Tapi bagi Artidjo, lanjut Hamid, berputus asa adalah puncak kesia-siaan sikap. Selalu mengupayakan perbaikan tanpa henti, dengan segenap daya terkecil yang ada — inilah sikap yang tak pernah surut dipegangnya. “Yang perlu kamu lakukan hanya berusaha sebaik-baiknya,” katanya selalu kepada mahasiswanya.

“Jangan pikirkan hasilnya. Itu bukan urusan kita. Fokus saja pada ikhtiarnya,” lanjutnya seperti dituturkan Artidjo.

Artidjo yang seumur hidup tak pernah kelebihan berat badan, mengidap problem jantung dan paru-paru menahun, dan tetap menolak keras dirawat di rumah sakit. Tiga mantan mahasiswanya yang telah dianggapnya sebagai anak — Ari Yusuf Amir, Sugito Atma Pawiro dan Kun Wahyu Wardhana — tak pernah lelah membujuknya untuk berobat secara layak. Setiap dua-tiga minggu sekali, mereka membawanya ke rumah sakit.

“Pada Selasa, 23 Februari, untuk ke sekian kalinya mereka membawanya, dan kali ini dokter bersikeras memintanya dirawat di sana karena kapasitas jantungnya dinyatakan tinggal 31 persen. Ia tetap menolak. Ia masih bisa makan enak, dan tiap hari masih bisa bekerja, katanya, menyanggah desakan untuk dirawat,” ujar Hamid.

Lima hari kemudian, pada pukul 9 pagi, supirnya mengetuk pintu apartemennya. Tak ada sahutan. Mungkin ia sedang beristirahat. Di hari Minggu ini tak ada kegiatan yang mendesak. Lima jam kemudian, karena tiada tanda-tanda kehidupan di apartemen pinjaman KPK di Kemayoran itu, dan anak kunci menancap di lubangnya, sejumlah orang mendobrak pintunya. Terlihat ia terkulai di tempat tidurnya.

“Kebisingan sejumlah orang yang berkerumun di kamar tidurnya tak membuatnya bereaksi. Ia rebah seorang diri dengan mata terpejam, jauh dari isterinya yang menetap di Semarang, tanpa anak. Tampaknya ia terkena serangan jantung yang keras, lebih keras daripada yang memukulnya enam bulan lalu di tempat yang sama,” kisah Hamid.

“Mata saya terasa hangat, dan saya mengatupkannya, merelakan kepergian Bang Artidjo, seorang guru dan sahabat yang telah menyajikan begitu banyak teladan hidup yang amat mengesankan. Sebuah tonggak integritas berusia 72 tahun 9 bulan, yang kadang membuat saya malu karena terlalu sedikit contoh yang disuguhinya tanpa dia maksudkan untuk saya tiru, yang bisa saya tiru,” Hamid menutup ceritanya. (Yat/Red)