Dina
Dina Nurul Fitria. (Dok. Pribadi)

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Pemerhati rantai pasokan migas mengapresiasi atas peristiwa tertangkapnya pelaku indikasi pencurian bahan bakar minyak di TBBM Tuban, atas kerjasama sinergi Tim Polairud dengan .

Spekulasi opini publik bermunculan bukan bermaksud mendahului proses investigasi yang menjadi prosedur kepolisian.

Namun opini didorong oleh kepedulian atas prestasi Pertamina Persero yang telah menekan angka losses dari 0.5 di tahun 2014, menjadi 0.18 di tahun 2016.

Prestasi ini seolah tercederai atas peristiwa percobaan pencurian di TBBM Tuban tersebut.

Hal ini semakin membulatkan asumsi bahwa pengelolaan risiko pada rantai pasok migas dari mulai aktivitas eksplorasi oleh KKKS di bawah pengawasan , refinery di negara mitra, TBBM, lalu hingga SPBU di sisi ritel, perlu dicermati secara detil.

Baca Juga:   Pengamat Hukum Pidana: Pembunuh Brutal di RM Kafe Hukumannya Harus Lebih Berat

Apakah pengawasan SKK Migas di sisi hulu, dilanjutkan oleh Pertamina dan di sisi tengah (mid stream) dan di sisi hilir (down stream) sudah menjangkau aspek detil manajemen risiko rantai pasokan migas?

Jika sudah, maka yang menjadi persoalan adalah pengawasan market conduct nya. Percobaan pencurian di TBBM apapun modusnya dimaksudkan sebagai disrupsi harga atas disparitas harga BBM.

Baca Juga:   MUI Minta Polisi Ungkap Otak Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar

Aksi efisiensi korporasi Pertamina Persero mesti didukung at any cost dalam upaya menekan losses yang berdampak spill over (eksternalitas) Kegiatan ekonomi skala luas dan keuangan negara.

Kita hormati proses investigasi yang dilakukan oleh Polri bersama dengan Pertamina. Jika diperlukan, juga melibatkan auditor forensik keuangan, apabila percobaan pencurian BBM ini berdampak pada keuangan Pertamina Persero sebagai penyumbang PNBP kepada keuangan negara.

Dina Nurul Fitria
[Principal, Research Director @mina research and business consulting]

*Kontak Penulis dimiliki oleh Redaksi