PETA
Gambar ilustrasi (suray/elangnews.com)

ELANGNEWS.COM – Seandainya Shodancho Soeprijadi tidak menghilang misterius pada 14 Februari 1945, sudah dipastikan dia akan menjadi Menteri Keamanan Rakyat Republik Indonesia yang pertama dan wajah militer modern Indonesia mungkin akan jauh berbeda.

Usai pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang pada 8 Maret 1942, surat penyerahan ditandatangani oleh Letnan Jenderal Terpoorten di lapangan udara Kalijati, propaganda-propaganda Jepang semacam “Asia untuk Bangsa Asia”, “Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya”, atau “Jepang Penyelamat Asia” mulai masif di Jawa. Slogan-slogan bombastis itu dikendalikan langsung oleh Departemen Propaganda alias Sendenbu.[1]

Tak butuh waktu lama bagi Jepang untuk menunjukkan wajah asli fasisme-nya. Tepat 20 Maret 1942, Letnan Jenderal Imamura pemimpin Pemerintahan Militer Angkatan Darat atau Tentara ke-16 yang bertanggung jawab atas seluruh Pulau Jawa dan Madura, mulai melarang pengibaran bendera Merah Putih dan dinyanyikannya lagu Indonesia Raya. Melarang organisasi-organisasi pribumi menggelar rapat-rapat umum, dan menggantinya dengan organisasi-organisasi bentukan Jepang. Hingga mobilisasi kerja-kerja paksa alias romusha di wilayah-wilayah pertanian Jawa dan Sumatera.

Pembentukan Bo-ei Gyugu
Demi mempertahankan pemerintahan fasis dari serangan pasukan sekutu Inggris dan Amerika, Jepang merekrut pemuda-pemuda pribumi untuk dilatih kemiliteran dan masuk ke dalam formasi-formasi tentara seperti, Heiho dan PETA. Kemudian para pelajar sekolah wajib masuk organisasi Gakutotai, kemudian Seinen Dojo (barisan pemuda), Keibodan (barisan keamanan), Sushintai (barisan pelopor), serta Jibakutai (barisan berani mati).

Dari sekian banyak nama organisasi milisi bentukan Jepang, PETA adalah yang terkemuka. Selain karena PETA terkait dengan nama-nama besar semacam Soedirman, Soeharto, Ahmad Yani, Sarwo Edhie Wibowo, Soemitro, Kemal Idris, Umar Wirahadikusumah, dan lain-lain. Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) atau dalam bahasa Jepang bernama Bo-ei Gyugu yang dibentuk pada 3 Oktober 1943 oleh Kumakici Harada berpangkat Letnan Jenderal, juga terkait dengan ulama-ulama besar.

Koran “Asia Raya” edisi 13 September 1943, memberitakan adanya usulan dari beberapa ulama, diantaranya K.H. Mas Mansyur, KH. Adnan, Dr. Abdul Karim Amrullah (HAMKA), Guru H. Mansur, Guru H. Cholid. K.H. Abdul Madjid, Guru H. Jacob, K.H. Djunaedi, U. Mochtar dan H. Mohammad Sadri, yang berpandangan bahwa dalam mempertahankan Jawa diperlukan tentara yang bersifat sukarela bukan wajib militer, selain itu paham kebangsaan yang tidak meninggalkan ajaran agama. Desakkan ulama-ulama tersebut tercermin dari bendera tentara PETA yang terdiri dari perpaduan kombinasi matahari terbit (lambing kebesaran kekaisaran Jepang) dan lambang bulan sabit dan bintang (simbol kepercayaan Islam).[2]

Selain menyusun pemerintahan militer, Jepang juga membentuk pemerintahan sipil. Ditingkat provinsi setara dengan gubernur bernama Gunseibu. Ditingkat karisedanan bernama Syu, dipimpin oleh seorang Syuco. Ditingkat kabupaten bernama Ken, dipimpin oleh seorang Kencho. Begitu seterusnya hingga di tingkat desa dipimpin oleh Kuco.

Diketahui bahwa Soekarno dan RMAA. Kusumo Utojo adalah Ketua dan Wakil Ketua Chuo Sangi-in atau Dewan Pertimbangan Pusat yang bertugas mengajukan usul kepada pemerintah serta menjawab pertanyaan pemerintah mengenai politik. Dewan tersebut beranggotakan 23 orang dan diangkat oleh Saiko Shikikan (Panglima Tertinggi).[3]

PETA
Logo bendera PETA. (sumber: www.flagchart.net)

Pemberontakan di hari valentine
Jika Anda memasuki kawasan museum PETA, terdapat prasasti yang berbunyi: “Bumi Pembela Tanah Air Ini Merupakan Kawah Candradimuka Keprajuritan Indonesia, Kami Datang dan Berkumpul di Bogor Tidak Saling Mengenal, Kami Berpisah sebagai Kawan Seperjuangan untuk Membela Tanah Air.”

Museum yang diresmikan di era Orde Baru tersebut juga menampilkan monumen Daidancho Soedirman (Daidancho setara dengan Komandan Batalyon berpangkat Letkol/Mayor).

Pada bagian lain, sebuah monumen yang sudah tidak asing lagi, berdiri tegak dengan gestur heroik, tangan kanan mengepal ke atas dan tangan kiri menghunus samurai, dialah Fransiskus Xaverius Suprijadi, pemimpin pemberontakan tentara PETA di Blitar.

Shodancho Suprijadi (Sodancho setara dengan komandan peleton berpangkat Letnan), sebelumnya sempat menemui Soekarno untuk melaporkan rencana pemberontakan pada 14 Februari 1945.

Pemberontakan diikuti oleh separuh Daidan (batalyon) Blitar ini memicu pemberontakan selanjutnya oleh tentara PETA di Cilacap pada Juni 1945, kemudian diikuti juga oleh PETA Cimahi sekitar Juli 1945, satu bulan sebelum kemerdekaan.

Saat pemberontakan, Suprijadi berpangkat Shodancho (setara letnan komandan peleton), atasannya saat itu Chodancho (komandan kompi) Ciptoharjono dan Daidan (komandan batalyon) Soerahmad.

Inisitaif pemberontakan memang muncul dari Suprijadi didukung oleh rekan-rekan Shodancho lainnya yang sepaham, di antaranya Muradi, Suparyono, Sunarto, Sudarno, Halir, dan dr. Ismangil.[4]

Suprijadi adalah pribadi yang pemberani dan cerdas. Dia lulusan Europesche Lagere School (ELS) setara SD, kemudian Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) setara SMP di Madiun, terakhir dia lulus dari sekolah Pamong Praja.

Saat itu waktu menunjuk angka 03.00 WIB, tanggal 14 Februari 1945, pasukan Supriyadi menembakkan mortir ke Hotel Sakura, yang menjadi kediaman para perwira Jepang. Markas Kenpetai juga bernasib sama, ditembaki senapan mesin.

Sayangnya, gedung tersebut kosong tidak berpenghuni. Pemberontakan tersebut sudah diketahui oleh Jepang.

Kepustakaan terkait pemberontakan PETA di Blitar mengindikasikan tiga hal bahwa pertama, rencana tersebut sudah diketahui oleh Jepang; kedua, tidak mampu menggerakkan tentara PETA lainnya secara keseluruhan; ketiga, lemahnya jalur komunikasi antar regu-regu yang sudah terbentuk. Alasan itulah yang menyebabkan pemberontakan berujung pada kegagalan dan sebagian pelaku harus menerima hukuman gantung. Keberadaan Shodancho Suprijadi masih misterius hingga kini.

Meski gagal, pemberontakan tersebut memberikan dampak luar biasa bagi keberlangsungan pendudukan Jepang di Indonesia. Pemberontakan tentara PETA pimpinan Suprijadi menjadi sumber inspirasi berbagai perlawanan-perlawanan serupa di daerah lainnya, hingga enam bulan setelahnya, Indonesia merdeka.

Setiap kemerdekaan sepertinya memang harus diperjuangkan dengan banyak pengorbanan. Pemberontakan tentara PETA, selamanya akan dikenang sebagai tonggak moral dan keberanian.**

Rewang Ganendra
[Penulis]

 

Referensi:
[1] Graaf, H.J. (dkk.). 1960. Nederlandsch-Indië onder Japanse Bezetting Gegevens en Documenten over de Jaren 1942-1945. Uitgave T. Wever, Franeker.

[2] Mutiawati, Cut. 2016. Sejarah Hari Tentara Pembela Tanah Air. http://malahayati.ac.id/?p=35918

[3] Herkusumo, Arniati Prasedyawati. 1984. Chuo sangi-in, Dewan Pertimbangan Pusat pada Masa Pendudukan Jepang. Hoboken, NJ: PT Rosda Jayaputra.

[4] Arifin, Edy Burhan. 1996. “Pemberontakan Tentara PETA di Blitar: Sebuah Kesaksian Sejarah”, dalam Purbo S. Suwondo, Peta Tentara Sukarela Pembela Tanah Air di Jawa dan Sumatera 1942-1945. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Berita Kolom Mata Elang : Pemberontakan Bo-ei Gyugu di Hari Valentine, ElangNews.com.