Dina
Dina Nurul Fitria. (Dok. Pribadi)

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Struktur Indonesia di pasar energi global yang oligopoli[1] mengarah kartel, meskipun kecil, tetapi penting.

Ibaratnya, seperti baut di rangkaian kapal tanker raksasa. Meskipun perannya hanya baut, tapi baut kuncian yang tidak bisa digantikan atau ditiru..

Itulah peranan transaksi Indonesia di dunia, small in open economy, but important.

Faktor apa yang menjadi pentingnya peranan industri migas Indonesia yang kecil tapi penting tersebut?

Populasi Indonesia dengan struktur ekonomi mid-class yang besaran pendapatan perkapita $USD3500-4000 per bulan, meskipun saat pandemi aktivitas produksi dan konsumsi turun di kisaran 50%, hal ini merupakan faktor penghela kebutuhan migas nasional.

Fundamental struktur industri migas Indonesia sebagai penentu kapan tuas pasar saham (option and forward) dibuka dengan harga rendah atau harga tinggi.

Struktur industri migas Indonesia meskipun kelasnya baut masih ada , umumnya pengolahan. Ekspor migas Indonesia ini menjadi indikator cadangan devisa Bank Indonesia, yang mencerminkan kemampuan impor pangan, impor bahan baku intermediate, dan impor migas beserta turunannya.

Jalur supply chain laut yang katanya nenek moyang kita seorang pelaut, tapi rute nya tidak pernah bisa kita kuasai, selain karena memang ocean is common resources (dimiliki bersama), namun rute masih boleh dikuasai.

Sayang, deklarasi Djuanda dan UU Kelautan belum cukup kuat menjadi modal Indonesia yang kelas baut ini menguasai rute pelayaran jalur migasnya.

Jaringan pipa gas bawah laut atau permukaan laut belum ada terobosan untuk menentukan pembiayaannya apakah take or pay, apakah production sharing contracts (PSC), apakah joint operation agreement ataukah dengan technical assistance contracts sekaligus penentuan tarif feed in.

Shale oil hydrocarbon berpeluang tapi perbankan Indonesia masih dalam pertimbangan probability risk.

Di sektor hulu migas, konon kabarnya, Mandiri Securitas salah satu investor di sektor hulu melalui mekanisme transaksi bursa saham yang menjadi landasan IPO sektor hulu di BUMN Energi. Perlu dicermati, apakah IPO ini tidak menumbuhkan masalah baru yang akan menjadi beban APBN dari pos migas?

Akan jadi paradoks bagi BUMN Energi, bila di sisi hulu terjadi initial public offering (IPO) dengan membuka peluang lanjutannya right issue, namun di sisi hilir ada public service obligation (PSO) serta domestic market obligation (DMO), dan beban pembiayaan infrastruktur energi hilir melalui global bond yang menjadi mandatory BUMN Energi.

Jepang sebagai saudara tua masih percaya bahwa struktur industri migas Indonesia naik kelas melalui mekanisme Sovereign Wealth Fund. Peringkat BBB global bond Indonesia juga mengindikasikan kepercayaan fundamental struktur industri migas Indonesia kuat.

Menjaga kepercayaan merupakan modal penting selain cash is king.

Dengan demikian, meskipun transaksi industri migas Indonesia di dunia perlu langkah prudent untuk setiap keputusan yang diambil baik keuangan dan operasional korporasi maupun keuangan negara dan keuangan daerah penghasil migas.

Ternyata baut itu komponen penting sebagaimana pentingnya TKDN pipa.**

Dina Nurul Fitria
[Principal, Research Director @mina Research & Business Consulting]

 

*Disclaimer: Tulisan ini merujuk pada publikasi CIA Factbook berbagai terbitan, dan opini ini tulisan pribadi tidak terafiliasi pada perusahaan migas manapun.

Kontak penulis ada pada redaksi.

[1] KBBI: Keadaan pasar dengan produsen pembekal barang hanya berjumlah sedikit sehingga mereka atau seorang dari mereka dapat mempengaruhi harga pasar; keadaan pasar yang tidak seimbang karena dipengaruhi oleh sejumlah pembeli.