Pertamina
Kilang Refinery Unit IV Cilacap menjadi salah satu yang bakal menghasilkan energi bersih. Kapasitas produksi Green Diesel dan Green Avtur di kilang ini pun terus ditingkatkan dengan melihat kebutuhan pasar mulai 2023 nanti. (Sumber: IG PT (Persereo)).

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Mengerikan cara mengelola zaman now. Berbeda dengan zaman dulu dimana BUMN menjadi andalan pemerintah untuk melayani hajat hidup orang banyak. Karena cita-citanya yang semacam itu dilalah BUMN pun zaman dulu banyak yang untung.

Zaman sekarang BUMN tak lagi bisa untung, jika tidak mau dikatakan merugi. Bahkan BUMN yang paling TOP, Pertamina, nasibnya tak jauh berbeda. Banyak yang tidak percaya, kok jual rugi. Bagaimana bisa? Sementara pedagang bensin eceran pinggir jalan jual BBM untung. Mbahnya BBM malah rugi.

Kondisi berbeda justru dialami mitra bisnis Pertamina yang swasta, mereka banyak yang untung. Pertamina malah merugi. Semester I 2020 rugi. Konon, dengan jurus sim salambim tahun 2020 akan ada untung. Tapi sampai bulan Maret 2021 belum ada kabar pertamina menyelesaikan laporan keuangan.

Dengan masalah keuangan yang bertubi-tubi, mengancam kondisi Pertamina. Perusahaan bisa gulung tikar akibat yang menggunung. Utang terus ditimbun tak ada henti-hentinya.

Diketahui, sampai tahun 2020 utang pertamina dari saja mencapai US$13.950 miliar atau setara dengan 200 triliun rupiah lebih. Total utang Pertamina jangka pendek dan jangka panjang mencapai 580 triliun rupiah lebih. Ini semua bagaimana bayarnya ya?

Baca Juga:   [OPINI] Refleksi Pengelolaan Risiko pada Percobaan Pencurian BBM di TBBM Tuban

[Periksa: https://pertamina.com/en/Global-Bond]

Berita terbaru Pertamina akan menimbun utang lagi agar bisa bertahan menghadapi kemungkinan kebangkrutan. Masalah dijawab dengan masalah yakni dengan utang baru.

Sebagaimana diberitakan Fitch Ratings telah menetapkan peringkat ‘BBB’ untuk surat utang dolar AS yang diusulkan PT Pertamina (Persero) (BBB/Stabil) yang akan diterbitkan di bawah program catatan jangka menengah global senilai US$20 miliar, atau sekira 300 triliun rupiah.

[Periksa: https://www.fitchratings.com/research/corporate-finance/correction-fitch-assigns-bbb-rating-to-pertamina-proposed-usd-notes-05-02-2021]

Sementara di dalam tubuh pemerintah sendiri benturan kepentingan tak ada habisnya. Entah antar manajemen sendiri, komisaris dengan direksi, atau direksi dengan pemerintah. Pertamina dilanda kemelut dalam timbunan utang segunung. Kata Sinuhun pembangunan kilang tidak mengalami kemajuan walau cuma satu persen. Ngenes ya?

Sekarang Pertamina berencana menjual anak-anak perusahaannya melalui bursa saham. Anak-anak perusahaan yang akan dilego tersebut terutama hulu Pertamina, kilang Pertamina dan juga usaha perkapalan dan mungkin juga ritel kalau BBM subsidi dihapus. Tujuan utamanya cari uang sebanyak-banyaknya.

Baca Juga:   Kementerian BUMN Lakukan Percepatan Vaksinasi untuk Lansia, Ini Caranya

Tapi anehnya walaupun uang hasil utang global bond sudah mencapai 200 triliun rupiah, utang keseluruhan sudah mencapai 580 triliun rupiah, dan rencana IPO anak-anak perusahaan mungkin akan bernilai 40-45 persen dari nilai aset; tetap saja Pertamina akan kekurangan uang, tetap saja tidak mampu bikin kilang baru, tetap saja harus mengemis investasi asing.

Sinuhun harus memanggil Pertamina untuk menanyakan uang hasil global bond yang sudah banyak itu disembunyikan. Mudah-mudahan hal itu bisa segera terbuka. Supaya dikupas tuntas oleh para ekonom, masa iya global bond saja sudah 200 triliun rupiah, lalu mau nambah 300 triliun lagi, lalu mau IPO alias jual saham anak perusahaan, sementara uang gak jelas kemana? Satu gedung kantor milik sendiri pertamina gak mampu bikin. Kantor pun sewa..geli ya..

Salamuddin Daeng
[Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia/AEPI]