Artidjo
Ilustrasi gambar oleh Suray/elangnews.com

“Saya sebetulnya ingin sekali menghukum mati para , terus terang saya sangat ingin”

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Begitu jawaban singkat saat Najwa Shihab melontarkan pertanyaan mengapa Indonesia tidak menerapkan hukuman mati untuk para koruptor.

Mantan yang bertubuh kerempeng itu setidaknya sudah menangani hampir 20 ribu kasus selama 18 tahun bertugas di . Kasus-kasus yang ditangani juga tidak main-main.

Mulai dari kasus korupsi mantan Presiden Soeharto; kasus pembelian cessie Bank Bali yang menyeret nama Joko S. Tjandra; kasus korupsi pembelian helikopter MI-2 Rostov buatan Rusia yang menyeret mantan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Abdullah Puteh ke dalam penjara selama 10 tahun; kasus pembunuhan aktivis Munir dengan terdakwa mantan pilot Garuda Pollycarpus Budihari Priyanto; juga kasus lainnya yang menyeret nama mantan Ketua RI, Antasari Azhar.

Masih segar dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia tentang kasus-kasus dua mantan petinggi Partai Demokrat Angelina Sondakh dan Anas Urbaningrum. Majelis kasasi yang saat itu dipimpin Artidjo Alkostar memvonis Angelina Sondakh 12 tahun penjara, lebih berat daripada hukuman sebelumnya, empat setengah tahun. Sedangkan vonis untuk Anas Urbaningrum, terhukum perkara korupsi Hambalang, diperberat dari 7 tahun menjadi 14 tahun penjara.

Artidjo Alkostar memang benar-benar “berdarah dingin” sebagai seorang Agung, bayangkan saja vonis mantan Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera, Luthfi Hasan Ishaaq, yang dijerat korupsi impor daging sapi, ditambah 2 tahun menjadi 18 tahun penjara.

Baca Juga:   Artidjo Alkostar, Sosok Sederhana dan Berintegritas
Artidjo
Cover buku Novel Biografi Artidjo Alkostar, karya Haidar Musyafa.

“Apa Bapak tidak ada rasa takut menangani kasus-kasus tersebut?” Tanya Najwa Shihab dalam sebuah kesempatan wawancara di Gedung Mahkamah Agung, 2018 silam.

Background kepribadian saya, tidak memungkinkan saya untuk takut pada ancaman, teror, dan sebagainya,” kemudian Artidjo menambahkan, “Tubuh saya kerempeng, tapi saya tidak takut.”

Tujuh puluh dua tahun yang lalu, Artidjo kecil dilahirkan di lingkungan yang kental menjunjung tinggi sportifitas, martabat, dan kehormatan. Artidjo hidup dan tumbuh besar bersama tradisi budaya carok dan perlombaan pacuan sapi dari tanah Madura.

Lahir dengan kultur Madura yang keras nan religius, di dalam tubuhnya sudah bersemayam rantai-rantai gen moral dan keberanian.

Mencecap pendidikan tinggi dari Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, dimana masa mudanya dia habiskan untuk mendampingi para korban ketidakadilan melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH) pada akhirnya Artidjo menjelma sebagai pribadi yang menjunjung tinggi kejujuran, kesederhanaan, dan keberanian hingga nafas terakhirnya. Hidupnya sudah diwakafkan di jalan perjuangan mulia pemberantasan korupsi. Julukan “Sang Algojo” buat para koruptor memang pantas melekat pada dirinya.

Mendalami sepak terjang hidup dan kehidupan seorang Artidjo Alkostar, seperti kita sedang membaca sebuah buku yang tidak pernah tahu kapan berakhirnya. Dia mampu memberi nyawa dan dinamika pada makna keadilan dan perjuangan Hak Asasi Manusia.

Baca Juga:   Artidjo Alkostar, sang Algojo Koruptor Wafat

Sigmund Freud pernah menjelaskan proses terbentuknya kepribadian pada diri manusia. Menurutnya; lelaku, karakter, dan kepribadian manusia merupakan produk interaksi antara Id (das es), Ego (das ich), dan Super Ego (das uberich). Ketiga aspek tersebut satu sama lain saling berkaitan serta membentuk satu totalitas.

Lahir di lingkungan yang berkarakter, cukup mengenyam pendidikan, dan aktif sepanjang hidupnya di jalan perjuangan. Mungkin begitulah gambaran faktor pembentuk seorang manusia bernama Artidjo Alkostar.

Kepribadian adalah kata yang bersumber dari bahasa Yunani, personare, menyuarakan melalui alat. Tubuhnya yang kurus kerempeng hanyalah alat, personae, untuk menyuarakan keberanian dan keadilan, sampai kematian datang menjelang.

Epitaf, serangkai tulisan singkat pada batu nisan, buat Artidjo Alkostar, “Di sini bersemayam Hakim Agung nan mulia, bunga-bunga indah perjuangan Hak Asasi Manusia, Artidjo Alkostar, mercusuar moral dan keberanian pemberantasan korupsi. Dia tidak pernah mati. Semangatnya akan selalu hadir menemani siapa saja yang teguh berjuang di jalan keadilan.”

Tino Rahardian
Redaktur Politik dan Pemerintahan Elangnews.com