Ucapan duka untuk korban benca NTT
Ucapan duka untuk korban benca

” Di hadapan alam yang murka kita bukanlah siapa-siapa. Tetapi kita punya Tuhan yang bisa menyelamatkan kita. Ketika alam menimbulkan kerusakan dan penderitaan, di situlah kita mesti sabar menyelami rencana dan ikhtiar Tuhan atas hidup dan kehidupan kita.” 

ELANGNEWS.COM, Jakarta – Tiga hari terakhir wilayah NTT diguyur hujan lebat disertai angin kencang. Suasana Paskah memang cukup terganggu karena kondisi alam semacam ini turut menentukan partisipasi umat/jemaat dalam perayaan Paskah.

Namun itulah kehendak alam. Kita tidak bisa menahan atau menolaknya.

Alam punya logika sendiri. Malah tidak bijak jika kita mempersalahkan alam atau mengkambinghitamkannya. Kejadian demi kejadian yang kita sebut ini memang menyulitkan dan menyusahkan kita.

Posisi kita bukan melarikan diri, bukan mempersalahkan, bukan mencari kambing hitam.

Posisi kita adalah posisi refleksi. Apa maksud Tuhan melalui peristiwa alam ini bagi hidup kita?

Korban jiwa berjatuhan. Korban moril tak tertakar. Demikian pun korban material. Rumah-rumah terendam banjir. Jalanan putus. Jembatan roboh. Ternak hanyut.

Sawah terendam banjir. Listrik padam. Komunikasi terputus. Bencana ini tidak kita prediksi, tidak kita hendaki. Namun sudah terjadi dan masih terus berlangsung. Ini ikhtiar alam. Kita tak kuasa menahannya. Kita hanya bisa menyiasatinya dan menghindarkan diri darinya.

Selepas merayakan Tuhan yang bangkit kita menghadapi kenyataan alam pun bangkit.

Alam bangkit, alam bergejolak, alam bergemuruh, alam mengguncangkan. Hujan, angin, petir, badai adalah bahasa alam. Tidak ada universitas tempat di mana kita bisa belajar bahasa alam. Tetapi dalam refleksi dan olah batin, kita dapat memahami bahasa alam sebagai tanda-tanda zaman.

Baca Juga:   Puluhan Warga Tewas dan Hilang, Puan Minta SAR Terus Cari Korban Banjir Bandang NTT

Spirit kebangkitan Tuhan mesti menjadi kekuatan bagi kita dalam menghadapi kebangkitan alam.

‘Pergilah, Aku menyertai kamu hingga akhir zaman.’ Ini pesan Sang Guru yang bangkit kepada para murid-Nya.

Di hadapan alam yang murka kita bukanlah siapa-siapa. Tetapi kita punya Tuhan yang bisa menyelamatkan kita. Ketika alam menimbulkan kerusakan dan penderitaan, di situlah kita mesti sabar menyelami rencana dan ikhtiar Tuhan atas hidup dan kehidupan kita.

Kita sedang menhadapi bencana alam. Bukan bencana politik. Tetapi bencana alam sangat berhubungan dgn keputusan politik. Kita berharap para pengambil kebijakan kita di republik ini, di NTT, di kabupaten dan kota kita memiliki sense of disaster (kepekaan terhadap bencana) sebagai akibat dari sense of belonging (rasa memiliki) warganya.

Kran-kran bantuan pemerintah akan keluar jika keputusan politik sudah dibuat. Harapan kita jangan bebani bencana alam ini dgn bencana-bencana politik. Nyatakan NTT darurat bencana. Kerahkan semua potensi untuk cepat dan tanggap menolong jiwa maupun warga di tempat penampungan/pengungsian.

Birokratisasi kebencanaan yang panjang dan bertele-tele harus dipangkas. Para korban butuh makan, penginapan, pakaian, obat-obatan dan juga hati yg peduli. Keberpihakan dan kepedulian politik harus nyata di hadapan bencana alam ini.

Ini bencana kita. Maka solidaritas kita harus dihidupkan. Dalam semangat Paskah kita saling membantu dan meringankan beban sesama yang menjadi korban. Kita dukung pemerintah lakukan langkah-langkah konkrit atasi kerusakan sarana transportasi dan berbagai fasilitas umum pun milik warga.

Baca Juga:   [OPINI] Garam NTT Tidak Seasin Garam Impor, Tinjauan Kritis atas Maraknya Komoditi Impor oleh Pemerintah

Seorang rekan mengirim pesan. Bencana itu ramai jika mendekati tahun politik atau di tahun politik.

Tanpa komando, bantuan dan kepedulian pasti mengalir dan membanjir ke mana-mana. Saat ini, yang masih jauh dari tahun politik, para politisi kita malah takut kebanjiran ‘aspirasi’ dan boleh jadi menjadi korban banjir yg sesungguhnya.

* * *

Pagi ini mentari mulai nampak setelah berhari-hari menghilang di balik mendung Kota Kefa. Kendaraan sudah disiapkan untuk bertolak ke .

Namun, datang lagi kabar dari Takari dan Batu Putih. Tebing longsor, jalanan putus. Butuh waktu untuk proses perbaikan. Lagi-lagi harus berkompromi dengan situasi. Alam punya logika. Kita punya logika. Merawat kehidupan adalah pilihan utama.

Maka, lagi-lagi hari ini kami dalam kondisi siaga untuk jika sudah ‘aman’ kondisi jalan, maka roda mesti bergerak pulang. Di hadapan alam yang marah, kita kadang bukanlah siapa-siapa dan bukanlah apa-apa.

Kita berdoa agar bencana segera berlalu dari bumi Flobamora ini. Para korban bencana mendapat penghiburan dan penanganan yang cepat dan tanggap dari berbagai pihak.

Bencana ini bencana kita. Duka NTT duka kita. Alam tak pantas disalahkan. Kita yang harus mawas diri. Agar aman menghadapi murka alam Mari hadapi bencana alam dengan sikap iman yang tepat agar kita aman.

Oleh Isidorus Lilijawa