Perempuan Politik
Gambar ilustrasi: Growth From Bellow: Mengukur Peluang Dalam . (Elangnews.com/rar/red)

ELANGNEWS.COM – Strategi pengkaderan perempuan dengan sebuah pendekatan berlabel bottom up approach, sungguh merupakan cita-cita bagi seluruh peserta pemilu di setiap organisasi, dimana saat partai memutuskan untuk mematuhi Undang Undang Pemilu tentang kebijakan afirmasi tiga puluh persen perempuan menyusul makin piawainya perempuan memainkan peran politiknya di ranah akar rumput, maka partai akan mengajukan nama-nama kader perempuan untuk ikut dalam kepesertaan pemilu dalam legislatif dan eksekutif, menjadi sesuatu yang membanggakan bagi partai.

Lebih dari itu, penerbitan kader adalah dasar starategi yang dianut semua partai, sejak digaungkan afirmasi menjadi bagian dalam undang-undang pemilu legislatif dan menjadi reaksi terhadap konsep etatis dalam pengkaderan partai. Kita sama-sama sepakat, pembahasan peran perempuan dalam dunia politik saat ini telah menjadi proses yang menyeluruh, saat dunia telah masuki era komunikasi, ekonomi dan budaya. Semakin hari semakin kencang kemampuan perempuan tampil dipanggung politik serta terus tumbuh dan berkembang.

Proses Globalisasi
Memahami globalisasi sebagai efek keterkaitan sistem antarnegara dalam bidang moneter, ekonomi dan kebudayaan, akibat yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi khusus dibidang elektronik, transportasi dan telekomunikasi. Sejatinya, dalam persepektif sejarah, globalisasi merupakan suatu revolusi damai diakhir abad 21 ini, yang secara mendasar telah merubah tatanan politik dan ekonomi yang kita warisi dari bagian awal abad ini.

Proses globalisasi ini berlangsung secara diam dan terus bergerak serta tidak dirasakan sebagai sesuatu ancaman yang harus dipikirkan dengan menyeluruh. Proses globalisasi mempersatukan berbagai bangsa menjadi satu komunitas besar dengan keuntungan timbal-balik yang melibatkan berbagai bangsa.

Jika kita mengkaji dari segi teori, proses globalisasi memang berlainan dengan konsep dasar kenegaraan yang diwarisi sejak abad ke-17, contonya konsep kedaulatan. Dalam globalisasi, mau tidak mau, negara nasional harus bersedia melepas sebagian kedaulatan nasionalnya untuk menyatu dalam bidang moneter, ekonomi dan kebudayaan, dengan adanya (1) mekanisme pasar yang kompetitif, (2) adanya lembaga internasional yang berfungsi sebagai badan supranasional yang melalui utusan-utusannya bersedia mengadakan perundingan ekonomi, moneter, kebudayaan yang sering kali keras, demi terbentuknya suatu tatanan bersama yang saling menguntungkan.

Perundingan antarnegara menjadi dinamika lalulintas moneter, ekonomi dan budaya menjadi sangat cepat dalam skala global. Lembaga-lembaga masyarakat mandiri juga makin tumbuh pesat dengan bantuan teknik manajemen mutakhir dan mengandalkan dukungan teknologi sumberdaya yang berkualitas. Kecenderungnya, saat dimana negara secara bersama-sama menyusun dasar suatu tatanan dunia yang lebih menguntungkan bagi bangsa dan negara. Negarapun perlu memberi peluang kepada warga negaranya untuk memanfaatkan peluang dan kesempatan yang lebih terbuka ini secara menyeluruh.

Baca Juga:   Perjuangan Keterwakilan Perempuan di Era Milenial

Manfaat Proses Globalisasi
Memahami peran perempuan dalam keluarga, lingkungan dan kehidupan sosialnya memerlukan kerja keras perempuan itu sendiri dalam pencapaian karyanya, melalui globalisasi kesadaran membangun wawasan kebangsaan dikalangan perempuan dan memahami pentingnya peran perempuan dalam ketahanan keluarga, menjadi langkah berliku bagi perempuan, khususnya perempuan Indonesia.

Pada kenyataannya manfaat peluang dan kesempatan globalisasi tidak serta merta bisa diikuti, meskipun beberapa lembaga perempuan dengan sigap langsung memanfaatkan peluang besar ini dan berhasil meningkatkan taraf hidup kehidupan perempuan sampai pada pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya serta telah dilengkapi payung hukum yang kokoh.

Banyak negara yang masih melalukan penyesuaian dengan melakukan langkah-langkah perlindungan bagi perempuan agar dapat bersama-sama menikmati kemudahan yang ditawarkan tatanan baru dunia yang sedang terbentuk ini. Dan sebagian lagi masih ada negara yang sibuk dengan masalah integrasi nasional dalam negerinya.

Melihat fenomena ini, meski terlihat seperti paradoks, dapat ditelusuri dari data yang ada, perempuan yang paling siap memanfaatkan proses globalisasi ini, maka dia adalah yang paling berhasil dalam memantapkan proses integrasi dikancah politik.

Dalam tatanan dunia baru yang terus tumbuh ini, memerlukan langkah-langkah penyempurnaan kinerja dibidang politik dan pertahanan, karena mau tidak mau lembaga perempuan harus kembali merumuskan peranannya dalam konstitusi sebagai sebuah peluang dibidang ekonomi dan kebudayaan.

Pada bangsa dengan kadar perempuan yang memiliki nilai kapahaman intergrasinya telah mumpuni, mekanisme penyelesaian konflik organisasi perempuan dalam lingkungan internalnya akan berlangsung secara damai dan tumbuh serta berfungsi dengan baik. Apabila terkendali dengan baik, tidak jarang konflik dijadikan sebagai suatu proses sumber dinamika didalam organisasi perempuan itu sendiri.

Peluang Perempuan Politik
Dalam tahap awal, tidak dapat dihindari kualitas perempuan dalam lembaga atau organisasi menjadi amat berpengaruh, serta wawasan ideologis dari tokok-tokoh afirmatif dan pendiri pergerakan perempuan yang dihinggapi oleh truma kebodohan, kemiskinan dan tertindas menjadi pola yang sangat berpengaruh dalam perkembangan organisasi perempuan. Namun dampak baiknya bagi organisasi perempuan, hal ini akan menjadi proses integrasi organisasi dalam keterbukaan untuk memilah mana yang dapat diterapkan dan mana yang ditinggalkan, ternyata hal trauma yang ada pada kelompok perempuan dijadikan momentum untuk memantapkan persatuan langkah demi penguatan perempuan dalam kancah politik.

Baca Juga:   Nasib Revisi UU Pemilu di Tangan Jokowi

Para pendiri bangsa, yang hidup dalam kurun pra-globalisasi, telah memiliki visi kedepan dan membayangkan pentingnya peran perempuan pada suatu dunia yang merdeka, perdamaian abadi dan keadilan sosial, yang dimuat dalam alinea ke empat UUD 1945.

Dengan demikian kita memiliki pegangan yang sangat kokoh menghadapi tantangan, peluang dan kesempatan yang terbuka dalam proses globalisasi ini termasuk bagi warganegara perempuannya.

Sistem perencanaan organisasi perempuan dalam membangun sumberdayanya, yang bersifat bottom up, yang dilatih, dididik dan digembleng dari daerah pemenangan pemilihan diteruskan sampai ketingkat nasional, semuanya menjadi satu kesatuan dari perencanaan sektoral yang berasal dari organisasi perempuan itu sendiri.

Meski pelaksanaan kebijakan ini bagi pengendali organisasi tidak mudah, khususnya karena terbatasnya sumberdaya kader perempuan dengan kualitas yang diperlukan untuk melaksanakan tugas memenangkan daerah pemilihannya. Namun secara strategis kebijakan organisasi menjalankan bottom up secara konsiten dan melaksanakan strategi “growth from bellow” akan menjadi penguatan organisasi dimasa-masa mendatang.

Penutup
Secara geografis kedudukan daerah pemilihan memiliki perbedaan yang cukup besar, banyak hal yang menjadi pemikirian pengendali organisasi perempuan.

  1. Dari segi ekonomi beberapa daerah saling keterkaitan menyebabkan penyebaran penduduk yang tidak merata, sumber daya manusia yang secara relatif untuk didaya gunakan untuk memacu pertumbuhan kemandirian perempuan menjadi hal yang perlu dipertimbangkan.
  2. Sistem pengkaderan perempuan secara desentralisasi menjadi pola yang amat sesuai dengan adanya kemajuan teknologi dan memonitoring perkembangan kualitas perempuan didaerah.
  3. Potensi membangun sumberdaya dengan melaksanakan pola growth from bellow, meski tidak serta merta dapat dicapai, namun hal ini dapat menciptakan strategi ketahanan organisasi ditahun-tahun mendatang.
  4. Jika daerah telah berhasil membangun dan mengembangkan potensi perempuan berkualitas secara optimal, baik dari kekuatan kemandirian dan pengetahuan, maka jelas ketahanan dan potensi peluang perempuan dalam memasuki kancah politik akan semakin kuat.
  5. Jika kita memandang suatu proses globalisasi sebagai suatu peluang untuk memperlancar dan menunjang seluruh tugas penguatan perempuan demi meningkatkan ketahanan keluarganya dan lingkungan setempat, maka tugas organisasi perempuan dan pengendaliannya untuk mengatur pertumbuhan kadernya sesuai dengan serapan dan kebutuhan afirmasi dalam dunia politik.

Demikian, semoga bermanfaat.
Terima kasih.

 

Athea Sarastiani
[Perempuan Indonesia Raya]

Penulis dapat dihubungi melaui email: athea.sarastiani@gmail.com