Kudeta Berdarah di Myanmar Sudah Renggut 18 Korban Jiwa
Polisi menahan peserta aksi demonstrasi. (sumber: US Today)

Elangnews.com, Naypyitaw – Tumpahan darah dan suara ledakan menyebabkan Myanmar semakin mencekam hari demi hari. Pihak kepolisian dan militer Myanmar semakin represif, menghadapi demonstrasi penolakan terhadap Presiden Myanmar Win Myint.

Hingga saat ini, sudah 18 nyawa manusia melayang dan 30an orang mengalami luka-luka. Kantor Hak Asasi Manusia mendapatkan informasi, bahwa pihak militer Myanmar sengaja menggunakan peluru tajam untuk menghentikan demonstrasi.

Kantor PBB juga mencatat adanya penggunaan gas air mata, flash-bang dan granat setrum. “Kematian dilaporkan terjadi akibat peluru tajam yang ditembakkan ke kerumunan di Yangon, Dawei, Mandalay, Myeik, Bago dan Pokokku,” kata juru bicara Ravina Shamdasani.

Baca Juga:   Myanmar Bergejolak: Kudeta Militer karena Dugaan Kecurangan Pemilu

Dikutip dari CNN, bahwa mereka belum dapat memverifikasi informasi dari kantor HAM PBB. Maka dari itu Kantor HAM PBB mendesak mendesak militer Myanmar untuk segera menghentikan penggunaan senjata mematikan yang mengancam nyawa peserta demonstrasi.

Kantor HAM PBB juga menegaskan bahwa setiap warga Myanmar memiliki hak untuk berkumpul secara damai dan menuntut pemulihan . “Hak-hak fundamental ini harus dihormati oleh militer dan polisi, bukan dengan kekerasan dan penindasan berdarah,” kata Shamdasani.

Baca Juga:   Raksasa Berkaki Lempung dan Bisnis Kotor Junta Militer Myanmar

Pihak Kantor HAM PBB juga mengungkapkan bahwa kepolisian Myanmar telah menahan setidaknya 85 profesional medis dan pelajar, bersama dengan tujuh jurnalis selama demonstrasi pada hari Minggu, (28/02).

“Juga mencatat bahwa lebih dari 1.000 orang telah ditangkap dan ditahan secara sewenang-wenang pada bulan Februari, termasuk anggota pemerintah yang dipilih secara demokratis,” ujar Shamdasani.
(tup/red)