Kebencian kepada Keturunan China Meningkat di Amerika
Penembakan warga keturunan Asia di sebuah panti pijat di Georgia, (Foto: Vice)

Elangnews.com, Kebencian dan sebagai dampak dari Pilpres Amerika Serikat masih berbuntut panjang. Warga Asia khususnya keturunan di Amerika menjadi sasaran kekerasan ujaran kebencian dan hingga kekerasan fisik.

Seperti dikutip dari Washingtonpost, penembakan mematikan enam wanita Asia di Georgia, Selasa (16/3/2021), menjadi sorotan kritis. Penghinaan secara daring sangat meningkat kepada keturunan China di AS.

Kekerasan lewat daring umumnya terkait dengan menjadikan mereka sebagai kambing hitam. Kata-kata ‘China’, ‘’, dan ‘Flu’ bertebaran di media daring.

Baca Juga:   Pelatih, Pemain, dan Suporter Siap Dukung Piala Menpora

“Tren kata-kata dan perbuatan penuh kebencian terhadap orang Asia dan Amerika keturunan Asia terlihat jelas dan tampaknya telah meningkat sejak pemilihan presiden November dan bulan-bulan kontroversial berikutnya,” kata peneliti dari Pusat Studi Kebencian dan Ekstremisme di California State University di San Bernardino.

Para peneliti berteori bahwa meningkatnya polarisasi politik memicu pembicaraan kasar di dunia maya. Kejahatan kebencian terhadap orang Asia-Amerika di 16 kota terbesar Amerika naik 150 persen tahun lalu, dengan lonjakan pada Maret dan April 2020.

Baca Juga:   Menteri Luhut Targetkan Bali Kebal Covid Juli 2021

Sementara keterangan Polisi Georgia, Rabu (17/3/2021), tersangka penembak panti pijat di kawasan Atlanta yang diduga membunuh beberapa orang pada Selasa mengatakan dia mengalami kecanduan seks. Tersangka juga mengklaim serangannya tidak bermotif rasial, melainkan ditujukan pada pekerja seks. (Yat/Red)